Kepemimpinan Makkah Setelah Qushay

Loading

Oleh: Dr. Muhammad Isa Anshory, M.P.I.

Setelah Qushay meninggal, anaknya yang tertua, Abdud Dar melaksanakan tugasnya bersama anak-anaknya. Hal ini berjalan dengan lancar. Selama kurun waktu tertentu tidak terjadi perselisihan di antara mereka. Meskipun tidak menjadi orang nomer satu di Makkah, adik Abdud Dar, Mughirah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abdu Manaf, sangat dihormati rakyat. Ia sangat shalih, suka mengajak orang kepada kebajikan, ramah, dan memelihara hubungan yang sangat baik dengan kaum kerabatnya. Walaupun sangat terhormat di masyarakat, Abdu Manaf tidak pernah menyaingi saudaranya, Abdud Dar, dalam urusan perolehan jabatan tinggi yang berhubungan dengan Ka‘bah. Menurut wasiat Qushay, pemerintahan Makkah berada di tangan Abdud Dar.

Perebutan Kekuasaan

Akan tetapi setelah dua bersaudara (Abdud Dar dan Abdu Manaf) ini meninggal, putra-putra mereka memperebutkan berbagai jabatan. Bani Abdu Manaf, yaitu Abdusy Syams, Hasyim, Muthallib, dan Naufal, bersepakat untuk merebut kekuasaan dari Bani Abdud Dar yang diwarisi oleh ayah mereka dari Qushay, yaitu Hijabah, Liwa’, Siqayah, dan Rifadah. Bani Abdu Manaf merasa lebih berhak atas kekuasaan daripada Bani Abdud Dar mengingat ketinggian martabat mereka dalam pandangan kaum Quraisy. 

Dengan terjadinya perselihan tersebut, orang-orang Quraisy terpecah menjadi dua golongan. Satu golongan pendukung Bani Abdu Manaf dan satu golongan lagi pendukung Bani Abdud Dar. Golongan kedua berpendapat bahwa apa yang telah diserahkan oleh Qushay kepada Abdud Dar tidak dapat diganggu gugat.

Golongan Bani Abdu Manaf dipimpin oleh Abdusy Syams bin Abdu Manaf karena dialah anak sulung Abdu Manaf. Sementara itu, golongan Bani Abdud Dar dipimpin oleh ‘Amir bin Hasyim, cucu Abdud Dar. Golongan Bani Abdu Manaf mendapat dukungan dari Bani Asad bin Abdul ‘Uzza bin Qushay, Bani Zuhrah bin Kilab, Bani Taim bin Murrah bin Ka‘ab, dan Bani Al-Harits bin Fihr bin Malik bin Nadhr. Adapun golongan Bani Abdud Dar, mereka mendapat dukungan dari Bani Makhzum bin Yaqdzah bin Murrah, Bani Sahm bin ‘Amr bin Hushaish bin Ka‘ab, Bani Jamh bin ‘Amr bin Hushaish bin Ka‘ab, dan Bani ‘Adiy bin Ka‘ab. Sementara itu, Bani ‘Amir bin Luay dan Bani Muharib bin Fihr bersikap netral, tidak berpihak kepada salah satu dari dua golongan Quraisy yang sedang bertikai itu.

Golongan dari dua belah pihak yang bertikai itu membentuk persekutuan dan bertekad tidak akan menyerah kepada golongan yang lain. Terjadilah ketegangan hingga nyaris berkobar peperangan di antara sesama orang Quraisy. Akan tetapi pada akhirnya masing-masing pihak menyadari dan mencapai kesepakatan untuk membagi kekuasaan. Hijabah, Liwa’, dan Nadwah diberikan kepada Bani Abdud Dar, sedangkan Siqayah dan Rifadah diberikan kepada Bani Abdu Manaf.

Pembagian ini secara tidak langsung menunjukkan kelebihan dan kedermawanan putra-putra Abdu Manaf karena tugas Siqayah dan Rifadah menuntut kerja keras sekaligus kedermawanan. Tidak jarang pihak yang bertanggung jawab dalam menjalankan tugas tersebut harus mengeluarkan biaya dari sakunya sendiri guna menyediakan makanan dan minuman bagi tamu-tamu Ka‘bah. Hal ini menjadikan Bani Abdu Manaf semakin terhormat dan semakin dicintai di kalangan suku Quraisy.

Tampilnya Hasyim

Sebagaimana telah disebutkan, Abdu Manaf mempunyai empat orang putra, yaitu Abdusy Syams, Hasyim, Al-Muthallib, dan Naufal. Abdusy Syams dan Hasyim adalah saudara kembar. Oleh karena itulah, sejarawan berbeda pendapat mengenai siapakah yang lahir lebih dahulu. Sebagian menyatakan bahwa Abdusy Syams lahir terlebih dahulu. Sebagian lain menyatakan bahwa Hasyimlah yang lahir terlebih dahulu sehingga ia menjadi saudara tertua di antara empat putra Abdu Manaf.

Meskipun demikian, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan sejarawan bahwa Hasyim dalah putra Abdu Manaf yang paling menonjol. Setelah Abdu Manaf wafat, keempat putranya membagi tugas-tugas yang tadinya diemban oleh sang ayah. Hasyim bertugas menyiapkan air dan makanan bagi pengunjung Ka‘bah, khususnya pada musim haji, sedangkan Abdu Syams sebagai pemimpin Dar AnNadwah.

Suatu ketika terjadi masa paceklik di Makkah sehingga di mana-mana berlangsung kelaparan. Hasyim berinisiatif pergi ke Gaza Palestina untuk membeli gandum. Setibanya di Makkah, ia menyembelih sekian banyak hewan korban dan mengolah gandum tadi menjadi roti, lalu membagi-bagikannya ke khalayak ramai. Sejak itu, Hasyim yang yang bernama asli ‘Amru lebih dikenal dengan gelarnya “Hasyim” yang secara harfiah berarti “menghancurkan roti dan mencampurnya dengan kuah (daging) sehingga siap untuk dimakan.”

Ibnul Kalbi menyatakan bahwa Hasyim adalah anak tertua Abdu Manaf, sedangkan anak termudanya adalah Al-Muthallib. Ibunya adalah Atikah binti Murrah As-Sulamiyyah. Bersama ketiga saudaranya, yaitu Abdusy Syams, Naufal, dan Al-Muthallib; Hasyim memimpin Makkah. Hasyim mengadakan perjanjian untuk kesejahteraan penduduk Makkah dengan penguasa Romawi dan Ghassan di Syams. Abdusy Syams mengadakan perjanjian dengan Najasyi di Habasyah. Naufal mengadakan perjanjian dengan Kisra di Persia. Al-Muthallib mengadakan perjanjian dengan penguasa Himyar di Yaman. (Sumber: Ibnul Atsir, Al-Kamil fi At-Tarikh, I/507).   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *