Cerita Perjalanan Dakwah Ustadz Haryanto, dari Desa di Sragen hingga Pelosok Sumatera Barat

Loading

Di tengah hingar pikuk kehidupan di Sragen, tepatnya di sebuah desa bernama Pilang, hiduplah seorang pria yang aktif berdakwah. Is Haryanto namanya. Akrab dipanggil Ustadz Haryanto. Beliau lahir pada tanggal 29 September 1971 di Sragen Jawa Tengah.

Ustadz Haryanto adalah seorang guru ngaji yang tulus. Namanya telah meresap dalam sejarah desa tersebut. Yangmana beliau telah mengabdikan hidupnya untuk membimbing orang-orang dalam mengenal dan memahami ajaran Al-Qur’an. Namun demikian, perjalanan dakwah beliau tidak hanya berhenti di tingkat lokal atau di desanya saja. Akan tetapi, beliau juga berkiprah di berbagai tempat, bahkan hingga berdakwah di luar Jawa.

Pendidikan merupakan landasan utama dalam hidup Ustadz Haryanto. Beliau menyelesaikan pendidikan di MI pada tahun 1983, kemudian melanjutkan ke SMP Muhammadiyah pada tahun 1986, dan menyelesaikan SMA Muhammadiyah pada tahun 1989. Pendidikan formalnya membentuk dasar pengetahuan agamanya. Tetapi lebih dari itu, semangatnya untuk terus belajar tak pernah padam.

Pada tahun 1993 hingga 1998, Ustadz Haryanto meresapi pengalaman berharga dengan bergabung dalam jamaah khuruj di kota Padang. Selama lima tahun tersebut, Ustadz Haryanto berdakwah dengan tekun, menjelajahi pelosok Sumatra Barat dan menyebarkan cahaya Al-Qur’an kepada siapa saja yang bersedia mendengar. Ini adalah awal dari perjalanan dakwah yang membentuk jati diri beliau.

Akhir tahun 1999, Ustadz Haryanto pulang ke Sragen Jawa Tengah, dan memulai peran barunya sebagai seorang pendakwah di daerah asalnya. Beliau aktif mengikuti majelis taklim dan mendorong umatnya untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid.

Perjuangannya tidak berhenti di situ. Pada tahun 2003, beliau mengumpulkan 60 anak muda yang sebelumnya merupakan pecandu miras bahkan narkoba untuk belajar membaca Al-Qur’an dengan metode Iqro. Alhamdulillah, dari para remaja pecandu miras dan narkoba yang berhijrah ini, hampir semuanya menjadi ahli ibadah dan praktisi dakwah. Bahkan, beberapa di antara mereka telah menjadi Mudirul Ma’had dan pendakwah terkenal di kota Purwokerto. Ini adalah bukti nyata bahwa dakwah bisa mengubah hidup seseorang.

Pada 12 Desember 2012, Ustadz Haryanto terpilih menjadi Ketua Takmir Masjid Al Muttaqien Pilang Lor RT 12/02 Pilang Kecamatan Masaran Kabupaten Sragen. Setelah beliau menjadi Ketua Takmir, beliau memilih anak-anak muda sebagai pengurus takmir.

Ustadz Haryanto juga merenovasi bangunan masjid lama yang didirikan pada tahun 1983 menjadi masjid dua lantai berarsitektur modern dengan kebutuhan dana sebesar Rp 1.2000.000. Saat itu pengurus lama tidak mempunyai saldo/kas. Namun Alhamdulillah, donasi untuk renovasi masjid berhasil terhimpun dan renovasi masjid pun dapat terselesaikan dengan baik.

Pendapat Ustadz Haryanto Mengenai Dakwah

Ustadz Haryanto meyakini bahwa berdakwah adalah kewajiban yang harus dipenuhi sebagai pewaris Nabi. Dalam perjalanannya, beliau menggunakan metode Tsaqifa untuk mengajar Al-Qur’an kepada masyarakat. Tsaqifa adalah metode belajar membaca Al-Qur’an dengan cepat, cukup lima kali pertemuan atau 7,5 jam sudah bisa membaca Al-Qur’an walaupun masih terbata-bata.

Ustadz Haryanto berdakwah di berbagai lapisan masyarakat. Dalam satu minggu jadwal berdakwahnya penuh. Sekitar 9 majelis taklim beliau selenggarakan. Selain itu, beliau juga bekerja secara khusus dengan anak-anak muda dan remaja melalui program di FKAM. Seperti SAR, SATGAS, Relawan Masjid Peradaban, serta kepengurusan DPD FKAM Sragen dan DPD FKAM Karanganyar.

Sebelum menikah dan sejak awal pernikahannya, Ustadz Haryanto telah terbiasa dengan dakwah khuruj. Beliau juga mencari ilmu di berbagai majelis ilmu dan terus berusaha untuk meningkatkan kemampuan dirinya. Kebiasaan baik ini telah menjadi aktivitas rutin yang beliau lakukan hingga sekarang. Ustadz Haryanto tidak pernah menulis karya tulis atau melakukan kegiatan ilmiah. Namun, pengalamannya di FKAM membantunya dalam berdakwah di masyarakat. Pengalamannya yang berharga pun telah beliau bagikan dengan berbagai lapisan masyarakat, baik saat beliau berdakwah di kampung halamannya, Kalimantan Utara, DKI Jakarta maupun di tempat lainnya.

Baginya, berdakwah selalu menjadi hal yang menyenangkan, bahkan saat ada rintangan. Selain itu, terinspirasi dari kisah Nabi Yunus yang terlempar ke laut dan ditelan ikan paus karena kurang sabar dalam berdakwah, Ustadz Haryanto selalu ingat akan pentingnya kesabaran dalam berdakwah. Ustadz Haryanto merupakan sosok yang disiplin. Beliau selalu hadir dalam kegiatan dakwahnya, kecuali kalau ada udzur syar’i seperti sakit atau safar.

Ustadz Haryanto sangat mendambakan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang mengenal Rabb-nya, rajin beribadah, serta dapat membaca Al-Qur’an dengan baik. Ustadz Haryanto juga menekankan pentingnya saling menghormati perbedaan dan saling bertoleransi sesuai dengan kebenaran.

Dengan penuh keikhlasan dan semangat yang membara, Ustadz Haryanto terus menjalani perjalanan berdakwahnya. Beliau adalah contoh nyata bagaimana satu individu dengan tekad kuat dan hati yang tulus dapat menjadi perubahan positif dalam masyarakat. Semoga perjuangan dan dakwahnya selalu mendapatkan dukungan dan kesuksesan. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *