Serangan Pasukan Gajah (Tulisan Kedua)

Loading

Oleh: Dr. Muhammad Isa Anshory, M.P.I.

Upaya Abrahah menarik hati masyarakat Arab ke Al-Qullais ternyata sia-sia belaka. Masyarakat Arab sangat menghormati Ka‘bah dan sangat kuat mempertahankan tradisi leluhur mereka. Kendati mengakui kehebatan Abrahah, namun mereka tidak rela meninggalkan kepercayaan mereka. Mereka bahkan sama sekali tidak bersimpati dengan kepercayaan Kristen.

Tersulutnya Api Perang

Abrahah sangat bangga dengan Al-Qullais yang ia bangun. Ia mengirim surat kepada Najasyi, “Saya telah membangun untuk Anda sebuah gereja yang tidak ada tandingannya. Saya akan terus berusaha mengalihkan jemaah haji ke gereja ini.” 

Ketika isi surat itu diketahui oleh penduduk, timbullah reaksi yang tidak menyenangkan dari suku-suku Arab. Pada suatu malam, seorang laki-laki dari Bani Fuqaim mendatangi gereja tadi. Ia masuk dan membuang air besar di sana. Setelah itu, ia pulang ke kampungnya.

Kejadian tersebut kemudian disampaikan kepada Abrahah. “Ini pasti perbuatan penduduk Makkah tempat dimana orang Arab melaksanakan haji. Ia marah ketika mendengar Anda hendak mengalihkan jemaah haji dari Makkah. Karena itu, ia mengotori Al-Qullais.” Demikian si pelapor berkata kepada Abrahah. (Ibnul Atsir, Al-Kamil fi At-Tarikh, I/402).

Tindakan orang Arab tadi menunjukkan penghinaan dan permusuhan terhadap gereja Abrahah. Hal ini tentu saja membuat Abrahah sangat murka. Di samping itu, semakin Abrahah berusaha meningkatkan hiasan dan dekorasi Al-Qullais, semakin terpaut orang kepada Ka‘bah. Kenyataan ini mendorong Abrahah bersumpah akan menghancurkan Ka‘bah. Untuk itu, ia menyusun pasukan perang dengan menempatkan gajah di barisan depan. Ia bertekad akan meruntuhkan Ka‘bah yang telah dibangun oleh jawara tauhid, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam.

Bergerak ke Makkah

Para pemimpin Arab menyadari bahwa situasi itu gawat dan berbahaya. Mereka merasa yakin bahwa kemerdekaan bangsa Arab pasti akan runtuh. Kemenangan Abrahah pada masa lalu mengecutkan nyali mereka untuk mengambil keputusan yang berguna. Walaupun demikian, beberapa kepala suku yang bersemangat akhirnya menghadapi Abrahah dan berjuang dengan gagah berani.

Dzu Nafar, salah seorang bangsawan Yaman, misalnya, mengerahkan kaumnya dengan pidato berapi-api untuk membela Baitullah itu. Namun, tentara Abrahah yang amat besar dapat dengan segera memporakporandakan pasukannya. Setelah Dzu Nafar, Nufail bin Habib Al-Khats‘ami tampil bertempur dengan sengit. Tetapi, seperti pendahulunya, ia juga mengalami kekalahan. Ia sendiri tertawan dan memohon ampun kepada Abrahah. Abrahah menerima permohonan maafnya dengan syarat ia harus memandu perjalanan pasukan Abrahah itu ke Makkah. Demikianlah, Nufail menjadi pembantu dan mengantarkan Abrahah dan pasukannya sampai ke Thaif. (Al-Kamil fi At-Tarikh, I/403).

Setibanya di Thaif, pasukan Abrahah disambut oleh kepala suku Tsaqif, Mas‘ud bin Mu ‘attab yang menyatakan kepatuhan dan keinginan mereka untuk hidup damai. Ia juga menyatakan bahwa rumah peribadatan suku Tsaqif yang bernama Bait Al-Lat bukanlah seperti Ka‘bah. Ia juga menawarkan pemandu jalan menuju Makkah dari kalangan anggota sukunya yang bernama Abu Righal. Pemandu baru itu mengantarkan mereka sampai Mughammas, suatu tempat dekat Makkah. Di situ tentara Abrahah berkemah. Di Mughammas ini, Abu Righal tewas. Kuburannya dilempari batu oleh penduduk setempat sebagai tanda kebencian mereka kepada Abu Righal yang menyediakan diri untuk kepentingan Abrahah. (H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini, Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad, hlm. 173).

Mengikuti suatu tradisi kuno, Abrahah memerintahkan seorang prajuritnya untuk merampok unta dan hewan peliharaan lainnya di Tihamah. Di antara unta yang dirampok terdapat dua ratus ekor milik Abdul Mutthallib. Kemudian Abrahah memerintahkan seorang prajurit bernama Hubathah Al-Himyari guna menyampaikan pesannya kepada kepala suku Quraisy. Ia berkata kepada Hubathah, “Saya dapat melihat pemandangan Ka‘bah yang sesungguhnya sekarang. Telah pasti pula bahwa pertama-tama orang Quraisy akan melawan. Tetapi, untuk meyakinkan agar darah mereka tidak tertumpah, engkau harus segera ke Makkah. Di sana engkau harus menghubungi kepala suku Quraisy dan mengatakan kepadanya bahwa tujuan saya adalah untuk meruntuhkan Ka‘bah. Apabila orang Quraisy tidak melawan, maka mereka akan selamat dari gangguan. 

Huthabah tiba di Makkah dan melihat berbagai kelompok orang Quraisy membicarakan kedatangan Abrahah di berbagai tempat. Atas pertanyaannya tentang kepala suku Quraisy, ia diantarkan ke rumah Abdul Mutthallib. Setelah mendengar pesan Abrahah, Abdul Mutthallib mengatakan, “Kami sama sekali tidak ingin berperang. Ka‘bah adalah rumah Allah. Itu rumah yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim. Allah akan berbuat apa saja yang dianggap-Nya pantas.”

Prajurit utusan Abrahah itu mengatakan kegembiraannya ketika mendengar kata-kata Abdul Mutthallib yang lembut dan damai. Kata-kata itu menunjukkan keyakinan rohaninya. Oleh karenanya, Huthabah meminta Abdul Mutthallib agar ikut bersamanya ke perkemahan Abrahah. (Ja‘far Subhani, Ar-Risalah Sejarah Kehidupan Rasulullah, hlm. 83-84).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *