Tiga Pondasi Agar Selalu Istiqomah

YahyaNasehat Kehidupan15 hours ago12 Views

Oleh: Bima Setya Dharma

Memulai sebuah perjalanan rohani atau yang akrab kita sebut dengan istilah hijrah, hal itu merupakan momentum yang sangat indah. Kita semua mungkin pernah merasakan fase itu. Fase di mana dada terasa lapang, air mata mudah menetes saat berdoa, langkah kaki terasa ringan menuju majelis ilmu, dan lembaran Al-Qur’an begitu syahdu untuk dibaca setiap harinya. Semangat kita sedang meledak-ledak.

Namun, jujur saja pada diri kita sendiri, berapa banyak dari kita yang mampu menjaga ritme tersebut?

Fenomena yang sering terjadi di sekitar kita adalah “ibadah musiman”. Kita kuat dan bersemangat diawal, tetapi perlahan-lahan langkah itu mulai melambat. Mengapa memulai terasa begitu mudah, sedangkan bertahan terasa begitu berat?

Di sinilah kita menyadari sebuah hakikat besar: Istiqomah adalah karunia terbesar dalam hidup seorang mukmin. Imam Al-Qurthubi menjelaskan makna istiqomah dengan sangat sederhana namun menancap di hati:

هِيَ الاِسْتِمْرَارُ فِي جِهَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ غَيْرِ أَخْذٍ فِي جِهَةِ الْيَمِينِ وَالشِّمَالِ

“Istiqomah adalah berjalan terus ke satu arah (yang lurus), tanpa berbelok ke kanan maupun ke kiri.”

Bayangkan kita sedang berjalan di sebuah titian lurus menuju pulang. Istiqomah artinya kita fokus menatap ke depan, menepis segala godaan yang membujuk kita untuk menengok atau melipir ke jalur yang salah.

Tugas untuk terus berada di jalur yang lurus ini bukan sekadar anjuran, melainkan perintah langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ

“Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan.” (QS. Hud: 112).

Para ulama menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah beribadah secara konsisten, tanpa bersikap berlebihan hingga membuat diri kelelahan, dan jangan pula meremehkan hingga kewajiban terbengkalai. Serta agar menjaga keseimbangan dalam setiap ucapan dan perbuatan kita.

Setidaknya ada tiga pondasi yang harus diperhatikan dalam menjaga istiqomah, yaitu:

“Bersungguh-sungguh dan seimbang dalam amal, menjaga keikhlasan, dan tidak menyelisihi sunnah.”

Mari kita bedah satu per satu pondasi ini agar kita mengetahui, pondasi manakah yang perlu dibenahi?

Pertama: Bersungguh-sungguh dan seimbang dalam amal.

Pondasi pertama istiqomah adalah tekun beribadah secara seimbang tanpa berlebihan hingga memberatkan diri. Sebab, perjalanan menuju Allah adalah marathon panjang yang butuh konsistensi, bukan ledakan semangat sesaat yang bikin cepat lelah. Terkait hal ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus (konsisten) walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kandungan hadits ini mengajarkan kepada kita, bahwa Allah lebih menyukai amalan kecil yang rutin dirawat setiap hari, daripada amalan besar yang menggebu-gebu di awal namun langsung berhenti total di tengah jalan. Karena sesuatu yang baru itu sejatinya lebih mudah dimulai dari hal-hal kecil tapi konsisten. Sebaliknya, jika kita langsung mencoba hal baru yang besar dan berat, hal itu justru beresiko membuat kita cepat lelah, jenuh, hingga akhirnya meninggalkan amal tersebut secara total.

Kedua: Menjaga keikhlasan.

Pondasi yang kedua dalam menjaga istiqomah adalah menjaga hati agar tidak keluar dari batasan ikhlas. Hal ini perlu kita perhatikan karena setelah kita mampu konsisten secara fisik, tantangan berikutnya yang jauh lebih berat adalah menjaga kebersihan niat dari penyakit riya’ dan haus pujian manusia. Ikhlas adalah ruh dari setiap amal. Tanpa keikhlasan, ibadah kita ibarat jasad tanpa nyawa. Seseorang yang istiqomah beramal namun hatinya selalu haus akan penilaian makhluk, akan sangat mudah goyah dan merasa terpuruk ketika pujian yang ia harapkan dari manusia tidak lagi ia dapatkan. Terkait bahaya rusaknya keikhlasan ini, Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk sholat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya’ di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah, kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142).

Kandungan ayat ini menjadi peringatan keras bagi kita, bahwa amal yang besar sekalipun seperti sedekah, mengaji, atau berdakwah, akan menjadi sia-sia jika dicampuri oleh riya’ demi dianggap dermawan atau alim oleh orang lain. Ibadah yang bercampur riya’ itu ibarat segelas air jernih yang ditetesi racun, tampilannya terlihat banyak dan bersih, namun langsung rusak total oleh setetes penyakit hati. Oleh karena itu, para ulama mengajarkan kita untuk belajar menyembunyikan amal kebaikan dengan rapat, sebagaimana kita selalu berusaha keras menyembunyikan aib dan dosa-dosa kita dari pandangan manusia.

Ketiga: Tidak menyelisihi sunnah.

Pondasi ketiga adalah menjaga amal agar tidak menyelisihi sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pondasi ini berfungsi sebagai penentu keabsahan dan pengunci dari dua pondasi yang lainnya.

Setelah kita mampu konsisten beramal (pondasi pertama) dan berhasil menjaga keikhlasan hati (pondasi kedua), amal tersebut tetap belum sempurna jika caranya salah atau mengada-ada di luar syariat. Niat baik dan keikhlasan hati tidak otomatis membuat suatu ibadah diterima jika tidak mengikuti petunjuk Rasulullah yang dijelaskan oleh para ulama. Seseorang yang beribadah tanpa panduan sunnah ibarat orang yang ingin pergi ke Makkah tetapi menaiki kendaraan ke arah yang berlawanan. Tujuannya benar, namun jalannya keliru sehingga tidak akan pernah sampai. Mengenai pentingnya kesesuaian amal dengan syariat ini, Rasulullah Shallalalhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat perkara baru dalam agama ini yang bukan darinya, maka tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kandungan hadits ini menegaskan sebuah kaidah agung, bahwa diterimanya suatu amal harus memenuhi dua syarat mutlak yang tidak bisa dipisahkan, yaitu ikhlas karena Allah dan sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dengan memastikan setiap ibadah kita memiliki tuntunan yang sah, kita sedang berjalan di atas rute yang pasti dan telah teruji aman, yang dibawa langsung oleh Rasulullah menuju ridho Allah Ta‘ala.

Sebagai kesimpulan, istiqomah yang sejati adalah kesatuan utuh dari tiga pondasi tadi. Dimulai dengan merawat amal kecil secara konsisten, menjaga kebersihan niat hanya untuk Allah, dan memastikan caranya sesuai dengan tuntunan sunnah. Ketika seorang muslim mampu berjuang menjaga ketiga pondasi ini di dalam hidupnya, Allah Ta‘ala menjanjikan balasan yang teramat indah di dunia maupun akhirat melalui firman-Nya:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) Syurga yang telah dijanjikan kepadamu’.” (QS. Fussilat: 30).

Kandungan ayat ini menjadi pelipur lara, bahwa bagi hamba yang istiqomah, Allah akan mengutus malaikat untuk mengusir rasa takut akan masa depan dan rasa sedih atas masa lalu, serta menghadiahi mereka kabar gembira berupa Syurga. Semoga kita semua senantiasa dianugerahi kekuatan oleh Allah untuk tetap kokoh menapaki jalan lurus-Nya, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah di atas indahnya istiqomah. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

Leave a reply

Previous Post

Next Post

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...