Tiga Perkara yang Membinasakan

YahyaNasehat KehidupanYesterday20 Views

Oleh: Bima Setya Dharma

Pernahkah kita membayangkan sebuah kapal yang megah, terlihat kokoh dari luar, akan tetapi berlahan-lahan tenggelam. Bukan karena hantaman ombak besar, bukan karena diterjang badai, melainkan karena adanya kebocoran kecil di bagian kapal yang tidak disadari.

Begitulah gambaran iman dan amal kita. Seringkali kita merasa sudah rajin shalat, sudah sering bersedekah, dan merasa aman-aman saja. Namun, tanpa kita sadari, ada kebocoran-kebocoran di dalam hati yang bisa menenggelamkan seluruh pahala kita hingga binasa di akhirat kelak.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan peringatan dini untuk kita semua. Beliau bersabda:

فأمّا المهلِكاتُ: فشُحٌّ مُطاعٌ، وهَوًى مُتَّبَعٌ، وإِعجابُ المرْءِ بنفْسِهِ

“Adapun yang membinasakan: Sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri (ujub).” (HR. At-Tabrani).

Mari kita bahas tiga penyakit hati ini satu per satu dengan jujur, sambil melirik ke dalam hati kita masing-masing.

Pertama: Syuhhun Mutha’un (Kekikiran yang Ditaati)

    Perkara merusak yang pertama adalah sifat kikir atau tamak yang dituruti. Di dalam Islam, penyakit ini dikenal dengan istilah As-Syuhh (الشُّحُّ). Makna dari As-Syuhh adalah sifat kikir yang telah mendarah daging, yang membuat seseorang enggan menunaikan hak-hak dan kewajiban finansialnya, sekaligus selalu berambisi dan serakah untuk menguasai apa yang bukan miliki pribadinya. Oleh karena itu, para ulama mengategorikan sifat ini sebagai salah satu bentuk kedzaliman.

    Berbeda dengan bakhil yang biasanya hanya terbatas pada hal-hal tertentu saja, seperti pelit dalam urusan harta. Sifat pelit ini juga umumnya merujuk pada beberapa tindakan atau perilaku sesekali dari seseorang. Adapun kikir (As-Syuhh) maknanya jauh lebih luas dan mendalam. Sifat kikir mengakar di dalam segala hal, tidak hanya pada harta, tapi juga dalam tenaga, waktu, dan kepedulian. Sifat kikir telah menjadi karakter atau identitas yang melekat erat pada diri seseorang, bukan sekadar tindakan yang datang secara tiba-tiba.

    Maka, sungguh beruntung orang-orang yang terjaga dari sifat ini. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surah At-Taghabun Ayat 16:

    وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ

    “Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung.”(QS. At-Taghabun: 16).

    Yang dimaksud pada Ayat ini adalah mampu melawan rasa kikir dan ketamakan jiwanya untuk menahan harta. Ketika hatinya menyuruh untuk menolak berbagi atau menyuruh untuk bersikap pelit, ia justru melawannya dengan cara bersedekah. Maka, mereka yang berhasil melawan egonya sendiri inilah orang-orang yang beruntung, yang sukses meraih ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Kedua: Hawan Muttaba’un (Hawa Nafsu yang Diikuti)

    Perkara merusak yang kedua adalah hawa nafsu yang selalu diikuti. Secara definisi, yang dimaksud dengan hawa nafsu (Al-Hawa) adalah kecenderungan jiwa manusia untuk memenuhi segala bentuk keinginan, kesenangan, dan egonya, tanpa mau meneliti kembali apakah hal tersebut selaras dengan keadilan dan kebenaran.

    Seseorang yang hidupnya hanya berpatokan pada prinsip, “Yang penting saya senang, yang penting saya puas”, tanpa memedulikan batas-batas halal dan haram, pada hakikatnya sedang menuntun dirinya sendiri menuju jurang kehancuran. Mereka buta terhadap kebenaran karena tolak ukur kebaikan dalam hidupnya telah bergeser dari aturan Allah menjadi sekadar kepuasan pribadi.

    Penyakit ini sangat berbahaya. Bahkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai hal ini kepada seorang Nabi sekaligus raja yang mulia, yakni Nabi Daud ‘Alaihissalam. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

    يٰدَاوٗدُ اِنَّا جَعَلْنٰكَ خَلِيْفَةً فِى الْاَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَضِلُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۢ بِمَا نَسُوْا يَوْمَ الْحِسَابِࣖ

    “(Allah berfirman,) ‘Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi. Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan’.” (QS. Shad: 26).

    Melalui Ayat ini, Allah melarang keras Nabi Daud untuk mengikuti hawa nafsu dan syahwat, karena karakter dasar jiwa manusia itu memang cenderung memerintahkan kepada keburukan. Di Ayat ini juga ditegaskan tentang nasib buruk yang pasti menimpa siapa saja yang nekat menjadikan hawa nafsu sebagai kompas dalam ucapan, tindakan, maupun dalam mengambil keputusan. Orang yang mengikuti nafsu secara otomatis akan terseret keluar dari jalan kebenaran dan menyimpang dari syariat Allah.

    Lebih jauh lagi, Ayat tersebut ditutup dengan peringatan tentang ujung dari kesesatan tersebut. Orang-orang yang keluar dari agama, jalan, dan syariat Allah akibat diperbudak oleh nafsunya, dipastikan akan mendapatkan adzab yang sangat berat di akhirat. Karena ketika seseorang sibuk memuaskan nafsunya, ia akan lupa terhadap urusan di hari perhitungan (yaumul hisab), sehingga ia lalai dan sama sekali tidak memiliki persiapan amal untuk menghadapi hari pembalasan tersebut.

    Selain itu, mengikuti hawa nafsu adalah salah satu penyebab seseorang tidak mendapatkan taufik dari Allah. Hal ini sebagaimana nasehat yang disampaikan oleh seorang ulama besar ahli zuhud, Fudhail bin Iyadh Rahimahullah:

    مَنِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِ الهَوَى وَاتِّباعُ الشَّهَواتِ انْقَطَعَتْ عَنْهُ مَوارِدُ التَّوفيقِ

    “Barangsiapa yang dikuasai oleh hawa nafsu dan mengikuti syahwat, maka terputuslah darinya sebab-sebab taufik.”

    Nasehat Fudhail bin Iyadh Rahimahullah tersebut hendaknya menjadi alarm besar bagi kita. Taufik adalah modal utama seorang hamba untuk bisa mencintai ketaatan dan membenci kemaksiatan. Ketika seseorang menyerahkan kemudi hidupnya kepada hawa nafsu, Allah akan mencabut taufik-Nya.

    Ketiga: I’jabul Mar’i Binafsihi (Kekaguman pada Diri Sendiri / Ujub)

    Perkara ketiga, dan ini merupakan penyakit yang paling halus, paling samar, serta paling berbahaya, yakni ujub (bangga diri). Penyakit ini membuat seseorang merasa dirinya paling hebat, paling shaleh, paling pintar, atau paling berjasa dalam segala urusan. Dampak paling merusak dari sifat ujub adalah hilangnya kesadaran bahwa segala kelebihan yang ia miliki mutlak merupakan titipan dan anugerah Allah. Ia justru buta dan merasa bahwa semua keberhasilan, prestasi, dan keshalehan itu murni lahir dari kehebatan, kecerdasan, atau kerja keras dirinya sendiri.

    Mengenai bahaya dari sifat ujub ini, shahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud Radiallahu ‘anhu, pernah menegaskan sebuah kalimat yang sangat mendalam. Beliau berkata:

    الْهَلَاكُ فِي اثْنَتَيْنِ: الْقُنُوطُ وَالْعُجْبُ

    “Kebinasaan itu ada pada dua perkara: Keputusasaan (dari rahmat Allah) dan sifat ujub (bangga diri).”

    Mengapa beliau menggabungkan keduanya? Karena orang yang putus asa tidak mau beramal karena merasa dirinya tidak punya harapan untuk masuk Syurga. Adapun orang yang ujub, merasa amalnya sudah terlalu banyak sehingga ia meremehkan ampunan Allah karena sudah yakin pasti masuk surga.

    Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang keras hamba-Nya untuk merasa paling suci dan bersih. Allah berfirman dalam Surah An-Najm Ayat 32:

    فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰىࣖ

    “Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertaqwa.” (QS. An-Najm: 32).

    Melalui ayat ini, Allah ‘Azza wa Jalla melarang kita untuk mengklaim diri sebagai orang yang bersih amalnya, paling banyak kebaikannya, atau merasa paling suci dari dosa. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk tawadhu’ (rendah hati), sebab Allah telah mengetahui dengan pasti siapakah di antara kita yang benar-benar bersih dan bertaqwa.

    Namun, para ulama memberikan catatan penting agar kita tidak salah memahami batasannya. Larangan menganggap diri suci ini berlaku jika tujuannya adalah untuk pamer (riya’) atau kagum pada diri sendiri (ujub). Adapun jika seseorang melakukan amalan shaleh, lalu di dalam hatinya muncul rasa bahagia dan ia meyakini bahwa amalan tersebut murni bisa terlaksana karena pertolongan, taufik, serta kemudahan dari Allah, maka hal itu bukan termasuk ujub yang dilarang. Sebab, merasa bahagia dalam ketaatan adalah bagian dari iman, dan menyebut-nyebut amal dalam rangka menyadari itu adalah kebaikan dan pertolongan dari Allah adalah bentuk syukur kepada-Nya.

    Inilah tiga perkara yang dapat membinasakan kita: Sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan rasa bangga diri (ujub). Ketiganya adalah kerusakan yang kalau kita tidak mencoba untuk melihat diri kita masing-masing maka kita tidak akan menyadarinya. Semoga kita senantiasa dibimbing oleh Allah untuk menjauhkan diri dari ketiga sifat ini.

    Leave a reply

    Ikuti
    Search
    Loading

    Signing-in 3 seconds...

    Signing-up 3 seconds...