Saat Dosa Tak Lagi Terasa

YahyaKhutbah JumatYesterday56 Views

Oleh: Bima Setya Dharma


Khutbah Pertama

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُه

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

 أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

فَيَا عِبَادَ الله اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَاللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقٌوْنَ

,فقد قال الله تعالى في القرآن الكريم:

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فإنَّ أصدقَ الحديثِ كتابُ اللهِ وخيرَ الهديِ هديُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ وشرَّ الأمورِ مُحدثاتُها، فَإِنَّ كلَّ مُحدَثةٍ بدعةٌ، وكلَّ بدعةٍ ضلالةٌ، وكلَّ ضلالةٍ في النَّارِ

 أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Segala puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan Semesta Alam, yang tak pernah berhenti mengalirkan nikmat, kasih sayang, dan kesempatan bernafas kepada kita hingga hari yang penuh berkah ini.

Shalawat beriring salam, semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sosok teladan utama yang telah menuntun manusia dari kegelapan menuju cahaya keimanan. Semoga shalawat ini juga tercurah kepada keluarga beliau, para shahabatnya, serta kita semua umatnya hingga akhir zaman.

Mengawali khutbah di hari Jumat yang mulia ini, khatib berwasiat khusus untuk diri khatib pribadi dan juga kepada jamaah sekalian, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu dengan bersungguh-sungguh berusaha menjalankan apa yang diperintahkan-Nya, dan sebisa mungkin menjauhi apa yang dilarang-Nya. Sebab, tidak ada bekal terbaik yang bisa kita bawa menghadap Allah kelak selain bekal ketakwaan.

Jamaah Shalat Jumat yang Dimuliakan Allah.

Kalau kita mau jujur pada diri sendiri di tengah sibuknya keseharian kita, ada satu hal yang seringkali luput dari perhatian. Betapa mudahnya kita dibuat gelisah dan tidak tenang hanya karena urusan dunia, seperti waktu dompet mulai menipis, susahnya mencari rezeki, atau saat kita kehilangan sesuatu. Tapi anehnya, di saat kita baru saja berbuat dosa, menunda-nunda shalat, atau melanggar perintah Allah, hati kita malah tenang-tenang saja, seolah tidak terjadi apa-apa.

Sungguh, ini keadaan yang menyedihkan untuk diri kita sendiri. Kita begitu gampang panik dan stres waktu rezeki atau urusan dunia kita terganggu sedikit saja. Tapi anehnya, waktu rasa takut kita kepada Allah makin berkurang, dan waktu dosa demi dosa gampang sekali kita lakukan, hati kita malah adem-adem saja. Tidak ada rasa bersalah yang mengganjal, tidak ada rasa cemas, apalagi air mata penyesalan.

Hadirin yang Dirahmati Allah.

Hal ini sebenarnya peringatan keras untuk kita semua. Hati kita sedang tidak baik-baik saja. Tanpa sadar, kita lebih takut jatuh miskin di dunia yang hanya sementara ini, daripada takut terkena murka Allah di akhirat yang selamanya. Lalu, apa yang menyebabkan hati bisa menjadi seperti ini?

Jamaah Shalat Jumat yang Dimuliakan Allah.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menggambarkan dengan sangat jelas bagaimana perjalanan hati seseorang bisa menjadi keras. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi:

إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan di dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya, memohon ampun, dan bertaubat, maka hatinya akan dibersihkan. Namun, jika ia kembali berbuat dosa, noda hitam itu akan ditambahkan hingga menutupi hatinya. Itulah ‘Ar-Raan’ yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya (QS. Al-Muthoffifin: 14):‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutupi hati mereka’.”(HR. At-Tirmidzi).

Hadirin yang Dirahmati Allah.

Coba kita bayangkan hati kita seperti kain yang putih bersih. Waktu pertama kali kita melakukan sebuah kesalahan atau maksiat, sebenarnya ada rasa tidak nyaman di dalam dada. Ada rasa risih, malu, dan bersalah. Itu adalah tanda bahwa hati kita masih bersih. Kalau kita langsung sadar, berhenti, lalu membaca istighfar dan bertaubat, maka noda hitam itu langsung terhapus, dan hati kita kembali bersih dan mengkilap.

Namun masalahnya, sering kali waktu kita berbuat dosa, kita tidak langsung bertaubat. Kita menganggapnya sepele. Hari ini kita berbuat satu kesalahan, besok kita ulangi lagi, lusa kita lakukan lagi tanpa ada rasa penyesalan, sampai akhirnya menutupi seluruh permukaan hati kita. Dan inilah yang disebut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai ‘Ar-Raan’, yaitu lapisan noda hitam yang sudah mengeras dan mengunci hati. Kalau hati sudah tertutup karat dan noda seperti ini, nasihat sebaik apa pun sulit untuk masuk.

Jamaah Shalat Jumat yang Dimuliakan Allah.

Kalau hari ini kita berbuat dosa lalu merasa gelisah dan dada terasa sesak, atau tiba-tiba hidup kita diberi teguran kecil oleh Allah, jangan mengira Allah membenci kepada kita. Justru rasa tidak nyaman dan teguran itu adalah bentuk kasih sayang Allah yang sedang menyenggol kita dengan lembut, agar kita segera terbangun dari kelalaian sebelum terlambat.

Teguran karena cinta ini bahkan dialami oleh Nabi Adam ‘Alaihissalam. Ketika beliau melakukan kesalahan memakan buah yang sering disebut denagn buah khuldi, Allah langsung menegurnya dan memunculkan rasa bersalah yang luar biasa, hingga beliau menangis dan bertaubat dengan doa:

 رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Keduanya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah mendzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi’.”(QS. Al-A’raf: 23).

Hal serupa juga dirasakan oleh ulama besar Imam Asy-Syafi’i, yang hafalannya langsung terganggu hanya karena beliau tidak sengaja melihat betis wanita yang bukan mahram di jalan. Bagi beliau, hilangnya hafalan itu adalah bentuk teguran cepat dari Allah untuk menjaga kesucian hatinya.

Maka, selama kita masih merasa bersalah setelah berbuat dosa dan masih merasakan teguran dari Allah, bersyukurlah. Itu adalah tanda yang sangat jelas bahwa hati kita belum mati dan Allah masih menginginkan kebaikan untuk diri kita.

Jamaah Shalat Jumat yang Dimuliakan Allah.

Coba sekarang kita bercermin pada diri kita sendiri. Para nabi dan ulama besar, ketika mereka melakukan satu kesalahan kecil saja, Allah langsung tegur saat itu juga. Sementara bagaimana dengan kita hari ini? Dosa demi dosa terus menumpuk, shalat sering ditunda-tunda, bahkan maksiat diam-diam sering kita lakukan. Namun anehnya, hidup kita terasa baik-baik saja dan adem ayem.

Rezeki tetap mengalir lancar, badan tetap sehat, dan tidak ada musibah atau penderitaan yang datang menyapa. Kalau keadaan ini yang sedang kita alami, jangan sekali-kali kita merasa bangga atau menganggap Allah sedang ridho. Sebab, ketika kita terus bermaksiat tetapi tidak ada lagi rasa bersalah di dalam dada dan tidak ada pula teguran dari Allah, itu adalah tanda peringatan yang sangat berbahaya. Bisa jadi Allah sedang membiarkan kita dan memalingkan pandangan-Nya dari kita.

Inilah bentuk hukuman paling halus namun sangat mematikan, yang di dalam agama kita disebut sebagai Istidraj. Yaitu kondisi di mana Allah sengaja membukakan seluruh pintu nikmat dan kesenangan dunia, agar manusia semakin terlena, makin tenggelam dalam dosanya, hingga nanti disiksa secara tiba-tiba tanpa sempat bertaubat.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ، وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ؛ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Jika engkau melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba yang disukainya, padahal hamba tersebut terus-menerus berada dalam kemaksiatan, maka ketahuilah bahwa itu adalah istidraj.” (HR. Ahmad).

Hal ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan) untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” (QS. Al-An’am: 44).

Jamaah Shalat Jumat yang Dimuliakan Allah.

Dari seluruh rangkaian ini, marilah kita menyadari bahwa rasa gelisah dan tidak tenang saat berbuat dosa sebenarnya adalah kepekaan jiwa terhadap teguran dari Allah. Selama kepekaan masih ada, maka hati kita masih hidup. Namun, apabila rasa gelisah itu sudah hilang dan hidup kita tetap terasa nyaman dalam kemaksiatan, maka bersiaplah menghadapi siksa Allah yang bisa datang tiba-tiba tanpa peringatan.

Maka, sebelum semua itu terjadi, pintu taubat masih terbuka lebar untuk kita hari ini. Jangan menunggu hati kita membatu total untuk kembali kepada Allah, sebab penyesalan sekecil apa pun yang hadir di dalam dada adalah awal dari pengampunan. Rasulullah Shallalllahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

النَّدَمُ تَوْبَةٌ

“Penyesalan itu adalah taubat.” (HR. Ibn Majah & Ahmad).

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga kelembutan hati kita, menghidupkan kepekaan batin kita, agar kita tidak termasuk golongan orang-orang yang dibiarkan dalam kesesatan. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ رَسُولِ ٱللَّهِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ

أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى ٱللَّهِ، فَقَدْ قَالَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْكَرِيمِ

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

أَمَّا بَعْدُ

Jamaah yang Dimuliakan Allah.

Marilah di khutbah kedua ini, kita berdoa kepada Allah, memohon ampunan dan rahmat-Nya, seraya berdoa kepada-Nya Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًااللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِي الدِّينِ، وَعَافِيَةً فِي الْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ، وَبَرَكَةً فِي الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَاحَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ.

اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِي سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ، وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ, وسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ولَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ،

Leave a reply

Previous Post

Next Post

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...