Perintah Berdakwah Secara Sembunyi-Sembunyi

YahyaSiroh Nabawiyah2 hours ago6 Views

Oleh: Dr. Muhammad Isa Anshory, M.P.I.

Turunnya Surah Al-Muddatsir menandai dimulainya fase baru dalam kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jika sebelumnya beliau menerima wahyu dan dipersiapkan untuk menjadi nabi, maka kini beliau diperintahkan untuk menyampaikan risalah kepada manusia. Allah berfirman, “Wahai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan.” (QS. Al-Muddatsir: 1-2).

Perintah tersebut merupakan awal dari misi besar yang kelak mengubah wajah dunia. Namun Rasulullah tidak langsung berdakwah secara terbuka kepada seluruh penduduk Makkah. Allah menghendaki agar dakwah Islam dimulai secara bertahap. Oleh karena itu, pada tahun-tahun pertama kenabian, dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan terbatas kepada orang-orang yang memiliki kedekatan dengan beliau. Dakwah secara sembunyi-sembunyi (sirriyyah) ini berlangsung selama tiga tahun.

Orang-Orang Pertama yang Beriman

Orang pertama yang beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah istri beliau sendiri, Khadijah binti Khuwailid Radhiyallahu ‘anha. Sejak awal, Khadijah memberikan dukungan penuh kepada suaminya. Ketika Rasulullah pulang dari Gua Hira dalam keadaan ketakutan, Khadijah menenangkan beliau dan meyakinkan bahwa Allah tidak akan pernah menghinakannya. Oleh karena itu, Khadijah memperoleh kemuliaan sebagai wanita pertama yang memeluk Islam.

Setelah Khadijah, orang berikutnya yang beriman adalah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu. Saat itu Ali masih sangat muda dan tinggal di rumah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Meskipun usianya masih belia, hatinya segera menerima kebenaran yang dibawa oleh Nabi. Kemudian masuk Islam pula Zaid bin Haritsah Radhiyallahu ‘anhu, anak angkat Rasulullah yang telah lama hidup bersama beliau dan mengenal kejujuran serta kemuliaan akhlaknya.

Tidak lama kemudian, shahabat dekat beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu, juga menyatakan keislamannya. Keislaman Abu Bakar memiliki arti yang sangat penting bagi perkembangan dakwah Islam. Ia dikenal sebagai tokoh terpandang di kalangan Quraisy, memiliki hubungan yang luas, serta dicintai banyak orang karena kejujuran dan kelembutannya.

Rasulullah Shalllallahu ‘Alaihi wa Sallam memulai dakwahnya dari lingkungan yang paling dekat. Beliau mengajak orang-orang yang telah mengenalnya dengan baik dan mengetahui kejujuran serta kemuliaan akhlaknya selama puluhan tahun. Cara ini mengandung hikmah yang besar. Orang yang telah lama hidup bersama Rasulullah mengetahui bahwa beliau tidak pernah berdusta, tidak pernah berkhianat, dan tidak pernah menyembah berhala. Oleh karena itu, mereka lebih mudah menerima kebenaran risalah yang beliau bawa.

Pada masa ini dakwah dilakukan secara personal. Rasulullah berbicara kepada seseorang demi seseorang. Beliau menjelaskan tentang keesaan Allah, mengajak manusia meninggalkan penyembahan berhala, dan mengingatkan tentang kehidupan akhirat. Belum ada pidato besar di hadapan masyarakat Makkah. Belum ada seruan terbuka di sekitar Ka‘bah. Semua dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Setelah memeluk Islam, Abu Bakar tidak menyimpan keimanannya untuk dirinya sendiri. Ia segera mengajak orang-orang yang dipercayainya untuk mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Melalui dakwah Abu Bakar, beberapa tokoh besar masuk Islam, di antaranya Utsman bin Affan, Zubair bin Al-Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa‘ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahuanhum. (Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq Al-Makhtum, Daar Ibnul Jauzi, hlm. 91-92).

Kelak nama-nama tersebut menjadi pilar penting dalam sejarah Islam. Sebagian dari mereka termasuk dalam kelompok sepuluh shahabat yang dijamin masuk Syurga. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah tidak hanya bergantung pada jumlah orang yang masuk Islam, tetapi juga pada kualitas orang-orang yang menerima dakwah tersebut.

Jadi, orang pertama yang masuk Islam dari kalangan laki-laki merdeka adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq –sebagian pendapat menyatakan Waraqah bin Naufal–. Dari kalangan wanita adalah Khadijah binti Khuwailid. Dari kalangan hamba sahaya adalah Zaid bin Haritsah. Dari kalangan anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib. Mereka adalah orang-orang yang memiliki hubungan paling dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu, wajar jika mereka menjadi orang-orang pertama yang menjawab dakwah beliau. Setelah mereka, beberapa orang laki-laki dan wanita masuk Islam hingga agama ini menyebar di Makkah dan menjadi perbincangan di kalangan penduduknya. (Khalid Mahmud Al-Juhani, Is‘ad Al-Bariyyah bi Syarh Al-Khulashah Al-Bahiyyah fî Tartib Ahdats As-Sirah An-Nabawiyyah, hlm. 60-61).

Pelajaran Penting

            Dari rangkaian peristiwa yang telah diceritakan tadi, ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita ambil. Pertama, Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Apabila ada perintah untuk melakukan dakwah, maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan dan sejalan dengan jalan yang benar. Selama tiga tahun pertama, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaksanakan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Begitulah kemampuan beliau saat itu. Menurut Syaikh Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid, ada dua hikmah di balik langkah ini, yaitu: 1) agar warga Makkah tidak dikagetkan dengan peristiwa yang menakutkan mereka, menyebabkan mereka kalap, dan mematikan embrio dakwah yang baru saja hidup; dan 2) agar barisan dakwah mendapatkan kader-kader yang siap membela dakwah tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengumumkannya dan muncul musuh-musuh Islam yang berupaya menghancurkannya.

Kedua, tidak tergesa-gesa memetik hasil. Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam bisa saja mengajak siapa pun yang ditemuinya di jalan, di dekat Ka‘bah, atau tempat-tempat perkumpulan. Akan tetapi, beliau hanya menceritakan dakwah kepada orang-orang tertentu. Beliau menahan diri dan menanti tibanya masa berdakwah secara terbuka yang akan memberi hasil yang lebih banyak.

Ketiga, pentingnya dakwah fardiyah (personal). Landasan dan awal dari sebuah dakwah adalah dakwah fardiyah. Cara ini tidak terlalu sulit karena hanya memanfaatkan pertemuan dan kunjungan. Seorang dai bisa melakukan komunikasi secara pribadi serta mendiskusikan agama dan kebenaran dengan santai dan komunikatif. Ia bisa memberi dan menerima masukan tanpa merasa takut dengan rintangan-rintangan. Inilah yang secara serius dilakukan oleh shahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq. Melalui pendekatan personal, beberapa orang akhirnya masuk Islam setelah ia dakwahi. (Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid, Fiqh As-Sirah, hlm. 139-144). Wallahu a‘lam.

Leave a reply

Previous Post

Next Post

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...