Bersama Waraqah bin Naufal

YahyaSiroh Nabawiyah6 days ago72 Views

Oleh: Dr. Muhammad Isa Anshory, M.P.I.

Peristiwa turunnya wahyu pertama tidak hanya meninggalkan kesan mendalam pada diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tetapi juga menandai periode awal peneguhan risalah dari sisi manusia. Setelah pengalaman agung di Gua Hira’, Allah tidak membiarkan Rasul-Nya menghadapi peristiwa itu sendirian. Di samping dukungan Khadijah Radhiyallahu ‘anha, hadir pula seorang tokoh yang memberikan penjelasan penting tentang hakikat wahyu yang beliau terima, yaitu Waraqah bin Naufal.

Pertemuan dengan Waraqah bukan sekadar peristiwa tambahan dalam sejarah, melainkan bagian dari rangkaian peneguhan awal kenabian. Di dalamnya terdapat penjelasan, pengakuan, sekaligus isyarat tentang masa depan dakwah Islam yang penuh ujian.

Pertemuan dengan Waraqah bin Naufal

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan pengalaman wahyu kepada Khadijah, ia segera mengajak beliau menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal. Waraqah adalah seorang yang dikenal memiliki pengetahuan tentang kitab-kitab terdahulu sehingga Khadijah berharap darinya diperoleh penjelasan yang lebih terang.

Sesampainya di hadapan Waraqah, Khadijah berkata, “Wahai sepupuku, dengarkanlah dari anak saudaramu!” Waraqah pun meminta Nabi menceritakan apa yang telah beliau alami. Rasulullah kemudian menjelaskan peristiwa perjumpaan dengan Malaikat Jibril di Gua Hira’ secara jujur dan apa adanya.

Setelah mendengar penuturan tersebut, Waraqah berkata dengan penuh keyakinan bahwa yang datang kepada Nabi adalah Namus, yaitu malaikat pembawa wahyu yang dahulu juga datang kepada Nabi Musa ‘Alaihis Salam. Dengan pernyataan ini, Waraqah menegaskan bahwa pengalaman yang dialami Rasulullah bukanlah sesuatu yang asing dalam sejarah kenabian, melainkan bagian dari tradisi wahyu Ilahi yang sama. (Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq Al-Makhtum, Beirut: Maktabah ‘Ashriyyah, hlm. 57).

Penegasan Kenabian dan Isyarat Ujian

Waraqah tidak hanya membenarkan peristiwa tersebut, tetapi juga memberikan isyarat penting tentang masa depan. Ia berkata, “Seandainya aku masih muda dan kuat, seandainya aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu.”

Ucapan ini membuat Rasulullah terkejut. Beliau bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab bahwa setiap orang yang membawa risalah seperti itu pasti akan dimusuhi oleh kaumnya. Ia bahkan berjanji jika masih hidup saat itu, pasti akan menolong Nabi semaksimal mungkin. (Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 57).

Pernyataan ini mengandung dua makna penting. Pertama, penegasan bahwa risalah yang dibawa Nabi adalah kebenaran yang sama dengan risalah para nabi sebelumnya. Kedua, peringatan bahwa jalan dakwah bukanlah jalan yang mudah, tetapi jalan yang penuh dengan penolakan dan permusuhan.

Tidak lama setelah pertemuan itu, menurut sebuah riwayat, Waraqah wafat. Ia meninggal pada masa terputusnya wahyu sebelum turunnya berbagai kewajiban dan hukum. Riwayat ini disampaikan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya. Namun, menurut riwayat lain dari Urwah bin Zubair, Waraqah sempat menyaksikan peristiwa disiksanya Bilal bin Rabah oleh Umayyah bin Khalaf di pasir yang panas. Ketika Bilal mengucapkan, “Ahad… Ahad …”, Waraqah lewat seraya menimpali, “Ahad… Ahad… wahai Bilal.” Kisah ini menunjukkan, bahwa Waraqah sempat menjumpai keislaman Bilal. (Ghasan Aziz Husain, Waraqah bin Naufal Mubasysyir Ar-Rasul, hlm. 57-58). Terlepas dari perbedaan ini, kata-kata Waraqah telah menjadi bagian dari peneguhan awal bagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam menghadapi perjalanan dakwah yang panjang.

Siapakah Waraqah bin Naufal?

Waraqah bin Naufal adalah sepupu Khadijah binti Khuwailid. Ia hidup pada masa jahiliyah, tetapi tidak tenggelam dalam penyimpangan keyakinan masyarakat Quraisy. Ia dikenal sebagai seorang yang mencari kebenaran, hingga akhirnya memeluk agama Nasrani dan mempelajari kitab-kitab sebelumnya.

Ia mampu membaca dan menulis dalam bahasa Ibrani, serta menyalin bagian-bagian dari Injil. Pada masa pertemuannya dengan Nabi, ia telah berusia lanjut dan dalam keadaan buta. Keilmuannya tentang kitab-kitab terdahulu membuatnya mampu mengenali tanda-tanda kenabian yang terdapat pada diri Rasulullah.

Keberadaan Waraqah menunjukkan, bahwa di tengah masyarakat jahiliyah masih ada individu-individu yang menjaga sisa-sisa ajaran tauhid dan menantikan datangnya nabi terakhir. (Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 57).

Apakah Waraqah Termasuk Shahabat?

Para ulama berbeda pendapat tentang status Waraqah bin Naufal. Sebagian berpendapat bahwa ia termasuk orang yang beriman kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena ia membenarkan kenabian beliau dan mengenali wahyu yang datang sebagai wahyu yang sama dengan yang diturunkan kepada Nabi Musa.

Namun, sebagian ulama lainnya tidak memasukkannya ke dalam kategori shahabat secara istilah. Hal ini karena ia wafat tidak lama setelah turunnya wahyu pertama, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Shahih Al-Bukhari, sehingga tidak sempat mengikuti perkembangan dakwah Islam secara langsung.

Di sisi lain, terdapat riwayat yang menunjukkan kemungkinan bahwa ia hidup hingga masa awal dakwah, bahkan disebutkan menyaksikan penyiksaan terhadap Bilal. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan dalam penentuan masa hidupnya.

Oleh karena itu, Waraqah sering dipandang sebagai sosok yang berada pada periode awal kenabian—membenarkan kebenaran yang datang, namun wafat sebelum risalah berkembang secara luas. (Waraqah bin Naufal Mubasysyir Ar-Rasul, hlm. 57-58).

Hikmah dan Pelajaran

Peristiwa pertemuan dengan Waraqah bin Naufal mengandung sejumlah pelajaran berharga. Pertama, bahwa kebenaran wahyu dapat dikenali oleh orang-orang yang memiliki ilmu dan kejujuran hati. Waraqah, dengan pengetahuannya tentang kitab-kitab sebelumnya, mampu mengenali tanda-tanda kenabian tanpa keraguan.

Kedua, jalan dakwah adalah jalan para nabi yang penuh ujian. Penolakan dan permusuhan bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian dari sunnatullah dalam perjuangan menegakkan kebenaran.

Ketiga, pentingnya peran lingkungan terdekat dalam menguatkan seseorang yang memikul amanah besar. Khadijah memberikan ketenangan, sementara Waraqah memberikan penjelasan dan pembenaran. Keduanya menjadi sebab keteguhan Rasulullah pada masa-masa awal.

Keempat, istiqomah dalam mencari kebenaran akan mengantarkan seseorang pada pengakuan terhadap kebenaran itu sendiri, meskipun datang dalam bentuk yang tidak terduga.

Penutup

Pertemuan dengan Waraqah bin Naufal menjadi salah satu momen penting dalam periode awal kenabian. Di dalamnya terdapat pengakuan terhadap wahyu, penegasan tentang kesinambungan risalah para nabi, serta isyarat tentang beratnya jalan dakwah yang akan dilalui.

Dari peristiwa ini, tampak bahwa Allah meneguhkan Rasul-Nya melalui berbagai cara: Melalui ketenangan keluarga, penjelasan orang berilmu, dan petunjuk wahyu itu sendiri. Semua itu menjadi fondasi kokoh bagi perjalanan risalah Islam yang kelak akan mengubah sejarah manusia. Wallahu a‘lam.

Leave a reply

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...