
Oleh: Dr. Muhammad Isa Anshory, M.P.I.
Setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira dan memperoleh penjelasan dari Waraqah bin Naufal tentang hakikat peristiwa yang dialaminya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mulai memahami bahwa dirinya telah dipilih Allah sebagai nabi dan rasul terakhir. Penjelasan Waraqah memberikan ketenangan bagi beliau. Orang tua yang shaleh itu menegaskan, bahwa makhluk yang datang kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Jibril, malaikat yang dahulu juga datang kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam.
Setelah pertemuan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kembali ke Gua Hira untuk menyempurnakan khalwat dan ibadahnya hingga akhir bulan Ramadan. Namun, setelah itu terjadi sesuatu yang tidak diduga. Wahyu yang baru saja turun ternyata tidak langsung berlanjut. Jibril tidak datang kembali. (Sa‘ad bin Rasyid bin Abdul Aziz Asy-Syabrami, As-Sirah An-Nabawiyyah, hlm. 121). Langit seakan mendadak terdiam. Peristiwa ini dikenal dalam sejarah Islam dengan istilah fatrah al-wahy, yaitu masa terhentinya wahyu untuk sementara waktu.
Kesedihan Rasulullah
Terhentinya wahyu membuat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merasakan kesedihan yang mendalam. Beliau telah merasakan keagungan pengalaman bertemu malaikat dan menerima kalam Allah. Kini semuanya seakan berhenti begitu saja.
Beliau tidak mengetahui mengapa Jibril tidak datang lagi. Apakah Allah masih meridhoinya? Apakah wahyu akan turun kembali? Berbagai pertanyaan memenuhi hati beliau.
Dalam beberapa riwayat disebutkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sering berjalan ke arah pegunungan dan puncak-puncak di sekitar Makkah. Beliau menanti kemunculan Jibril sebagaimana saat pertama kali bertemu dengannya di Gua Hira. Kerinduan kepada wahyu membuat beliau selalu berharap malaikat itu akan datang kembali membawa kabar dari langit. (Abdullah Abu Dzikri, Yaumiyyat As-Sirah An-Nabawiyyah, Juz 1, hlm. 78).
Namun demikian, tidak benar anggapan sebagian orang bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berniat menjatuhkan dirinya dari puncak gunung. Kisah tersebut berasal dari riwayat yang tidak shahih dan tidak memiliki sanad yang kuat. Para ulama menjelaskan, bahwa para nabi dijaga Allah dari perbuatan dosa besar semacam itu. Yang benar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar menuju pegunungan karena kerinduannya kepada wahyu dan harapannya untuk kembali bertemu Jibril. (Sa‘ad bin Rasyid bin Abdul Aziz Asy-Syabrami, As-Sirah An-Nabawiyyah, hlm. 122).
Jibril Menenangkan Rasulullah
Di tengah masa penantian itu, Jibril beberapa kali menampakkan diri kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kedatangannya bukan untuk menyampaikan wahyu baru, melainkan untuk menenangkan hati beliau.
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencari-cari kehadirannya di pegunungan, Jibril menampakkan diri seraya berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau benar-benar Rasul Allah.” Ucapan tersebut menjadi penghibur bagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hati beliau menjadi tenang dan keyakinannya semakin kuat. Beliau pulang ke rumah dalam keadaan lebih tenteram. (Abdullah Abu Dzikri, Yaumiyyat As-Sirah An-Nabawiyyah, Juz 1, hlm. 78).
Masa penantian ini berlangsung beberapa waktu. Dalam periode yang sama, Waraqah bin Naufal wafat. Tokoh yang pertama kali membenarkan kenabian Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu tidak sempat menyaksikan perkembangan dakwah Islam pada masa-masa berikutnya. Namun kesaksiannya menjadi salah satu bukti penting tentang kebenaran wahyu yang diterima Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Turunnya Surah Al-Muddatsir
Setelah masa terhentinya wahyu berakhir, datanglah peristiwa yang sangat menentukan perjalanan dakwah Islam. Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang berjalan di Makkah. Tiba-tiba beliau mendengar suara dari langit. Ketika mengangkat pandangan, beliau melihat malaikat yang pernah datang kepadanya di Gua Hira. Jibril tampak duduk di atas sebuah kursi besar antara langit dan bumi.
Pemandangan yang sangat agung itu membuat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terkejut dan gemetar. Beliau segera pulang ke rumah dan berkata kepada istrinya, Sayyidah Khadijah, “Selimutilah aku! Selimutilah aku!”
Allah kemudian menurunkan firman-Nya, “Wahai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan. Dan agungkanlah Tuhanmu. Dan bersihkanlah pakaianmu. Dan tinggalkanlah segala bentuk kekotoran.” (QS. Al-Muddatsir: 1–5).
Ayat-Ayat ini memiliki makna yang sangat besar. Jika wahyu pertama dalam Surah Al-‘Alaq merupakan pengangkatan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai nabi, maka Ayat-Ayat Surah Al-Muddatsir merupakan perintah untuk mulai menjalankan tugas kerasulan secara terbuka. Masa persiapan telah berakhir. Kini saatnya menyampaikan risalah kepada manusia.
Hikmah Masa Terhentinya Wahyu
Para ulama menyebutkan beberapa hikmah di balik terhentinya wahyu pada masa awal kenabian. Pertama,untuk menghilangkan rasa takut dan kegelisahan yang muncul saat pengalaman pertama menerima wahyu. Kedua, untuk menumbuhkan kerinduan yang mendalam kepada wahyu sehingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam semakin mencintai dan menantikan petunjuk Allah. Ketiga, untuk menegaskan bahwa wahyu benar-benar datang dari Allah dan bukan hasil renungan atau pemikiran pribadi beliau. Keempat,sebagai persiapan mental sebelum memikul amanah dakwah yang sangat berat. (Sa‘ad bin Rasyid bin Abdul Aziz Asy-Syabrami, As-Sirah An-Nabawiyyah, hlm. 122).
Masa terhentinya wahyu mungkin terasa sebagai masa yang sunyi dan penuh penantian. Namun justru pada masa itulah Allah sedang mempersiapkan Rasul-Nya untuk memasuki fase baru dalam sejarah umat manusia. Tidak lama kemudian wahyu turun kembali secara berkesinambungan. Dari sinilah dimulai perjalanan dakwah Islam yang kelak mengubah dunia. Wallahu a‘lam.