ANYAMAN BAMBU MENJADI INSPIRASI TUNGGAL LOGO SYIAR 28 TAHUN FKAM

pusatKabar Organisasi6 hours ago10 Views

Dengan izin Allah, Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM) dapat terus berkontribusi untuk umat dalam dakwah dan kemanusiaan. Sejak berdirinya pada 15 Juli 1998, para pendiri dan pimpinan FKAM berikhtiar untuk senantiasa mewariskan dan melanggengkan nilai-nilai keikhlasan, dedikasi, dan perjuangan dalam bingkai akhlakul karimah. Di usia ke-28 tahun, FKAM optimis dapat menjalin nilai, memori, serta visi-misi untuk memunculkan sistem dan budaya organisasi yang efektif, efisien, moderat, serta adaptif terhadap perkembangan zaman dalam bentuk penataan sistem di segala lini organisasi sehingga memunculkan kontribusi kebermanfaatan yang lebih luas dan terstruktur.

Tahun ini, logo Syiar 28 Tahun FKAM DPP FKAM mengangkat inspirasi tunggal berupa anyaman bambu. Tentunya bukan tanpa makna, susunan setiap helai dalam anyaman bambu menjelaskan ikhtiar yang sedang disusun oleh DPP FKAM Masa Bakti 2025-2030 sepanjang tahun 2026. Ikhtiar yang dilaksanakan di tahun pertama masa bakti, Ketua Umum DPP FKAM, Ustadz Zul Fahmi, S.Pd.I., M.H. memiliki program unggulan berupa mengkodifikasikan sistem, membentuk pedoman pelaksanaan, dan memunculkan wadah khidmah utama agar menjadi sistem yang terpadu, efektif, serta berkelanjutan. Seluruh ikhtiar tersebut dilaksanakan dengan mengilhami nilai-nilai serta blueprint yang telah tersirat dan tersurat dalam masa kepemimpinan di masa lalu tanpa menghilangkan relevansi dengan kemajuan zaman.

Mengenai makna logo yang terinspirasi dari anyaman bambu, di masa lampau anyaman bambu seringkali dijadikan dinding gedheg rumah dan gerabah alat rumah tangga. Hari ini, anyaman bambu digunakan dalam berbagai fungsi dengan nilai nostalgik. Logo Syiar 28 Tahun FKAM memuat filosifi sebagai berikut:

Keberlanjutan

    Dalam prosesnya, penganyam mengubah bahan alam mentah menjadi karya bernilai guna tinggi. Hal ini mencerminkan visi tentang keberlanjutan (sustainability) dan keselarasan hidup.

    Ketekunan

    Proses menganyam helai demi helai sehingga terwujud hasil yang menyejukkan mata dan hati, membutuhkan waktu, ketelitian, dan ritme yang konsisten. Hal ini  menyimbolkan bahwa dalam ikhtiar menuju  pengokohan organisasi perlu konsistensi, ketelitian, dan kesabaran.

    Kolaboratif

    Untuk menjadi selembar gedheg dan produk lain berbahan dasar bambu yang kokoh, membutuhkan jalinan demi jalinan helai bambu yang saling menopang dan mengunci. Melambangkan bahwa kekuatan sejati lahir dari ikhtiar menyusun persatuan dan kolaborasi, bukan berdiri sendiri.

    Leave a reply

    Previous Post

    Next Post

    Ikuti
    Search
    Loading

    Signing-in 3 seconds...

    Signing-up 3 seconds...