Menghayati Surat Cinta yang Belum Terbaca

YahyaNasehat Kehidupan4 hours ago11 Views

Oleh: Bima Setya Dharma

Sering kali kita merasa telah menunaikan kewajiban terhadap Al-Qur’an hanya karena lisan kita fasih melantunkan setiap hurufnya. Kita membacanya dengan khusyu’ di kala Shubuh atau sebelum tidur. Namun anehnya, hati kita tetap terasa sepi dan hidup kita tidak banyak berubah. Kita seolah sedang menggenggam sebuah surat yang sangat penting, namun hanya sibuk mengagumi keindahan kertas dan eloknya tulisan tangan sang pengirim, tanpa pernah benar-benar membuka isinya untuk mengetahui apa yang sedang Allah bicarakan kepada kita. Kita begitu akrab dengan suaranya, tapi terasa asing dengan pesannya.

Namun, pernahkah kita bertanya, untuk apa sebenarnya Al-Qur’an itu hadir di tengah-tengah kita? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Shad Ayat 29:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“(Al-Qur’an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”(QS. Shad: 29).

Membaca Al-Qur’an memang mendatangkan pahala yang berlipat ganda di setiap hurufnya. Namun, perjalanan kita jangan berhenti di tenggorokan saja. Allah menurunkan Al-Qur’an bukan hanya untuk diperdengarkan keindahannya, melainkan untuk dipahami isinya. Bayangkan jika kita menerima surat dari seseorang yang sangat kita cintai dan hormati, namun kita hanya membacanya tanpa peduli apa maksud pesannya. Tentu ada sesuatu yang kurang bukan? Begitu jugalah hubungan kita dengan Al-Qur’an.

Maka, pada ayat ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang penuh dengan keberkahan agar kita menghayati ayat-ayatnya. Kata “mubarak” dalam ayat tersebut mengisyaratkan, bahwa Al-Qur’an adalah sumber kebaikan yang sangat banyak dan luas. Keberkahan ini ibarat mata air yang hanya bisa kita rasakan kesegarannya jika kita mau menyelaminya melalui dua proses, yaitu tafakkur dan tadabbur.

Tafakkur adalah saat kita menggunakan akal untuk mencari pemahaman dan menangkap maksud dari perintah serta larangan Allah. Namun, kita perlu melangkah lebih jauh menuju tadabbur, yaitu proses menyelami kandungan isi Al-Qur’an untuk mencari hikmah yang terdalam. Jika tafakkur bertujuan agar kita paham, maka tadabbur bertujuan agar muncul perubahan nyata pada diri kita. Saat bertadabbur, kita mulai bertanya pada diri sendiri tentang apa yang Allah inginkan dari kita melalui ayat tersebut. Di sinilah Al-Qur’an berhenti menjadi sekadar bacaan dan mulai menjadi kompas yang menggerakkan perubahan perilaku, memperbaiki akhlak, dan menuntun kita menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sayangnya, di tengah kemuliaan Al-Qur’an tersebut, banyak dari kita yang justru terjebak dalam hiruk-pikuk urusan dunia yang seolah-olah tidak ada habisnya. Kesibukan mengejar materi dan status seringkali menjadi “racun” yang perlahan mematikan ruh kita. Kita sering lupa bahwa dunia ini hanyalah tempat mampir untuk mencari bekal, sebuah jembatan yang harus diseberangi, bukan rumah abadi untuk menetap. Ironisnya, semakin hari kita sebenarnya sedang melangkah menjauh dari dunia dan semakin dekat menuju pintu akhirat, namun hati kita justru terasa semakin tertambat pada dunia yang fana ini.

Kondisi ini telah diingatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nada yang sangat menyentuh dalam Surah Al-Anbiya Ayat 1:

اِقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ مُّعْرِضُوْنَۚ

“Telah makin dekat kepada manusia perhitungan (amal) mereka, sedangkan mereka dalam keadaan lengah lagi berpaling (darinya).”(QS. Al-Anbiya: 1).

Ayat ini mengabarkan bahwa saat perhitungan amal bagi manusia telah semakin dekat, tetapi manusia justru tetap dalam keadaan lalai lagi berpaling. Kata iqtaraba dalam ayat ini menegaskan bahwa hari di mana setiap langkah kita akan dimintai pertanggungjawaban itu sudah sangat dekat, bahkan semakin mendekat setiap kali kita bernafas. Namun, kita seringkali terlalu sibuk dengan urusan yang kita anggap besar, sampai-sampai kita tidak sadar bahwa waktu untuk mempersiapkan amal tinggal sedikit lagi.

Ibnu Katsir Rahimahullah menambahkan sebuah catatan yang menggetarkan hati, bahwasanya peringatan ini dikatakan “sudah dekat” karena masanya telah dihitung sejak diutusnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih dari empat belas abad yang lalu. Jika di masa itu saja sudah dikatakan dekat, maka bayangkan betapa singkatnya waktu yang kita miliki sekarang. Lebih menyedihkan lagi, Allah menggunakan kata mu’ridhun, yang berarti tidak hanya sekadar lalai karena tidak tahu, tetapi juga berpaling. Banyak dari kita yang ketika diingatkan tentang kematian atau hari hisab, justru merasa tidak nyaman dan memilih menjauh, seolah-olah dengan mengabaikan peringatan tersebut, hari perhitungan itu tidak akan pernah datang. Inilah masalah besar kita hari ini. Kita sibuk membangun istana di tempat yang akan kita tinggalkan, dan lupa mempersiapkan bekal untuk tempat yang akan kita tuju selamanya.

Di tengah kelalaian dan kesibukan yang membelenggu itu, maka salah satu cara untuk menghidupkan kembali ruh yang mulai layu adalah dengan berinteraksi secara mendalam melalui tadabbur Al-Qur’an. Tadabbur bukan sekadar aktivitas lisan, melainkan tanda utama bahwa hati seseorang masih memiliki kehidupan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan teguran yang sangat dalam bagi siapa saja yang enggan menyelami makna ayat-ayat-Nya melalui Surah Muhammad Ayat 24:

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

“Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?”(QS. Muhammad: 24).

Ayat ini merupakan sebuah peringatan keras sekaligus ajakan untuk bercermin. Kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah kita tidak mau merenungi Al-Qur’an selama ini disebabkan oleh kemalasan kita sendiri, ataukah karena hati kita memang sudah terkunci rapat oleh Allah? Ketika hati seseorang telah terkunci, segala bentuk nasehat dan kebenaran yang masuk hanya akan lewat begitu saja tanpa meninggalkan bekas. Hati yang tertutup tidak akan mampu merasakan getaran iman saat ayat-ayat suci dibacakan, karena tidak ada celah bagi cahaya untuk masuk.

Jika kita merasa sulit untuk meresapi makna Al-Qur’an, itu adalah isyarat bahwa ada “gembok-gembok” yang harus segera kita buka. Kunci yang menutupi hati itu biasanya berupa tumpukan dosa dan maksiat yang kita anggap remeh, atau rasa sombong yang membuat kita merasa sudah cukup berilmu sehingga meremehkan setiap peringatan yang terdengar. Selain itu, rasa cinta dunia yang berlebihan seringkali menjadi penghalang terbesar yang membuat hati kita menjadi keras dan tidak peka. Menghilangkan kunci-kunci ini adalah langkah darurat yang harus kita lakukan, agar Al-Qur’an kembali bisa menyapa hati dan membawa kita pada perubahan hidup yang lebih bermakna.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut Al-Qur’an dengan istilah yang sangat indah dalam Surah Asy-Syura Ayat 52:

وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَاۗ

“Demikianlah Kami mewahyukan kepadamu (Nabi Muhammad) ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami.” (QS. Asy Syuro: 52).

Penggunaan kata ruh di ayat ini bukanlah tanpa alasan, karena Al-Qur’an bagi hati memiliki fungsi yang sama persis seperti ruh bagi jasad manusia. Bayangkan sebuah jasad tanpa ruh, ia hanyalah tubuh yang mati, tidak memiliki kesadaran, tidak punya tujuan, dan tidak lagi memiliki makna. Begitu pulalah kondisi hati yang jauh dari Al-Qur’an. Seseorang mungkin memiliki hati secara fisik, namun jika ia tidak dibasahi dengan tadabbur Al-Qur’an, hatinya akan kehilangan kepekaan. Ia akan merasa kebingungan dalam menilai mana yang benar dan mana yang salah, atau mana yang bermanfaat dan mana yang sia-sia. Ibarat seseorang yang memiliki mata normal namun berada di tengah kegelapan total, ia tetap tidak akan bisa melihat apa pun karena tidak ada cahaya yang menuntun pandangannya.

Namun, ketika hati kembali hidup dengan ruh Al-Qur’an, segalanya akan berubah. Kesadaran jiwa kita akan bangkit, sehingga ketaatan kepada Allah tidak lagi terasa sebagai beban, dan menjauhi maksiat pun menjadi sebuah kebutuhan demi menjaga ketenangan jiwa. Dengan ruh ini, kita akan mampu melihat hakikat kehidupan yang sebenarnya, sehingga kita bisa membedakan mana kebaikan yang sejati dan mana keburukan yang terbungkus keindahan semu. Hati yang hidup adalah hati yang senantiasa diterangi oleh bimbingan ayat-ayat-Nya.

Sebagai penutup, ketahuilah bahwa jalan untuk mentadabburi Al-Qur’an sangatlah luas dan terbuka bagi siapa saja; kita bisa memulainya dengan rutin membaca terjemahannya, mendalami tafsir ringkas, hingga tekun menghadiri kajian-kajian keislaman. Kajian yang kita ikuti pun tidak harus selalu berupa pembahasan tafsir yang berat, namun setiap majelis ilmu yang mengajak kita merenungi ayat-ayat Allah.

Semoga kita senantiasa menjadi hamba yang hatinya hidup dan diterangi oleh cahaya Al-Qur’an hingga akhir hayat nanti. Aamiin.

Leave a reply

Previous Post

Next Post

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...