Menemukan Ketenangan di Balik Lelahnya Ikhtiar

YahyaNasehat Kehidupan3 hours ago8 Views

Oleh: Bima Setya Dharma

Dalam perjalanan hidup, setiap manusia pasti menghadapi berbagai urusan, rencana, dan tantangan. Namun, sering kali kita terjebak dalam rasa cemas yang berlebihan atau justru berhenti berusaha dengan alasan “pasrah”. Padahal, kunci utama ketenangan seorang muslim terletak pada satu pilar besar dalam akidah, yaitu tawakkal.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Maidah Ayat 23:

وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”

Di ayat ini Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk bertawakkal sebagai tanda keimanan seseorang. Namun, banyak orang salah dalam mengartikan makna tawakkal. Mereka menganggap tawakkal adalah menyerahkan segala sesuatu kepada Allah tanpa melakukan tindakan apa pun. Padahal, tawakkal yang benar adalah sebuah proses yang berurutan dan terpadu; berdoa, berusaha (ikhtiar), lalu menyerahkan keputusan kepada Allah.

Penggalan Ayat “In kuntum mu’minin” (jika kamu benar-benar orang beriman) memberikan penegasan yang luar biasa. Allah menjadikan tawakkal sebagai salah satu ciri utama dan syarat bagi kesempurnaan iman seseorang.

Jika hati kita masih merasa gelisah karena bergantung pada bantuan makhluk, atau jika kita merasa keberhasilan kita 100% adalah hasil dari kepintaran dan usaha kita semata, maka di titik itulah iman kita perlu dipertanyakan. Selama hati masih bergantung kepada makhluk atau sekadar mengandalkan kekuatan ikhtiar, maka iman kita belum mencapai puncaknya.

Sebagai contoh sederhana, seorang pelajar yang menghadapi ujian tidak disebut bertawakkal jika ia hanya berdoa tanpa menyentuh buku pelajaran. Tawakkal yang sejati adalah ketika ia mengetuk pintu langit dengan doa, memeras keringat dengan belajar sungguh-sungguh, lalu melapangkan dada untuk menerima apa pun hasil yang Allah tetapkan. Kita menggerakkan sebab (usaha), namun kita tidak bergantung pada sebab tersebut. Dengan memahami hal ini, seorang mukmin tidak akan sombong saat berhasil, dan tidak akan hancur saat menemui kegagalan.

Pesan mengenai tawakkal ini ditekankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits yang sangat populer. Beliau memberikan sebuah perumpamaan yang sangat nyata agar kita bisa memahami bagaimana kaitan antara keyakinan hati dan pergerakan sebab (usaha):

لَوْ أَنَّكُمْ كنْتُمْ تَوكَّلونَ علَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتمْ كَمَا يُرزَقُ الطيْرُ: تَغْدُو خِمَاصًا، وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi).

Hadits ini menjelaskan, bahwa jika seseorang bertawakkal dengan kualitas yang benar, maka Allah pasti akan menjamin rezekinya. Namun, mari kita perhatikan analogi burung yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Burung tidak mendapatkan rezekinya dengan cara duduk diam di dalam sangkar atau sarangnya. Burung-burung itu terbang mengepakkan sayap, pergi meninggalkan sarangnya di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan rasa lapar yang nyata. Mereka melakukan usaha, mereka bergerak, dan mereka mencari.

Kenyang yang mereka rasakan di sore hari adalah hasil dari kombinasi antara gerak fisik di siang hari dan kepasrahan total kepada Sang Pemberi Rezeki. Hal ini mengajarkan kepada kita, bahwa tawakkal yang benar menuntut adanya aktivitas. Ia menuntut seseorang untuk menjemput sebab-sebab keberhasilan dengan tangan dan kakinya, sementara hatinya tetap tenang bersandar pada kekuasaan Allah. Jadi, tidak ada istilah tawakkal bagi mereka yang malas dan hanya berpangku tangan, karena burung pun harus terbang terlebih dahulu sebelum Allah mengenyangkan perutnya.

Pesan mengenai pentingnya menyelaraskan gerak raga dan kepasrahan hati ini juga terekam indah dalam kisah ibunda Maryam yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Setelah beliau selesai melahirkan Nabi Isa ‘Alaihissalam dalam kesendirian dan kelelahan yang luar biasa di bawah pohon kurma, Allah memerintahkannya melalui petunjuk-Nya yang berbunyi:

وَهُزِّيْٓ اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا

“Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 25).

Secara logika manusia, perintah ini tampak mustahil untuk membuahkan hasil. Pohon kurma adalah pohon yang besar, kokoh, dan berakar sangat kuat. Bagaimana mungkin seorang wanita yang sedang dalam keadaan nifas, lemah, dan baru saja bertaruh nyawa melahirkan seorang anak, mampu menggoyangkan pohon sebesar itu? Namun, setelah Maryam melakukan usaha yang nampaknya kecil dan tidak sebanding itu, Allah memberikan hasil dari usahanya.

Kisah ini membawa pesan yang sangat mendalam bahwa الأخذُ بالأسباب (Al-Akhdzu bil Asbab) atau mengambil sebab (ikhtiar) adalah sebuah kewajiban, sekecil apa pun itu. Tentu sangat mudah bagi Allah untuk menurunkan buah kurma langsung ke pangkuan Maryam tanpa beliau harus menyentuh pohonnya sedikit pun. Namun, Allah ingin mengajarkan kepada kita tentang nilai sebuah usaha. Allah ingin melihat hamba-Nya bergerak melakukan apa yang ia mampu, meskipun secara hitungan manusia usaha tersebut tidak akan mungkin sanggup mengubah keadaan.

Pesan yang dapat kita petik adalah kita diwajibkan untuk berikhtiar dan berusaha semampu kita, sesuai dengan kapasitas yang kita miliki saat itu. Adapun hasilnya, kita kembalikan sepenuhnya kepada Allah. Seperti Maryam yang mungkin tidak sanggup membuat pohon itu bergoyang hebat, namun ketaatannya untuk tetap “menggerakkan tangan” membuat Allah menurunkan keberkahan-Nya. Dalam tawakkal, yang dituntut dari kita bukanlah keberhasilan untuk menggoyangkan “pohon masalah” yang besar, melainkan kemauan untuk terus berusaha secara lahiriah, lalu membiarkan kekuasaan Allah yang menyelesaikan sisanya.

Sebagai kesimpulan dari hakikat tawakkal ini, kita dapat membayangkan hubungan antara ikhtiar dan ketetapan Allah ibarat seseorang yang sedang mengetuk pintu. Tugas kita sebagai hamba adalah terus mengetuk pintu tersebut melalui usaha yang sungguh-sungguh dan doa yang tidak terputus. Namun, pada akhirnya, sepenuhnya adalah hak dan otoritas Sang Tuan Rumah untuk memutuskan kapan pintu itu akan dibukakan atau justru tetap tertutup bagi kita.

Ada kalanya pintu tersebut tidak kunjung terbuka karena mungkin cara kita mengetuknya yang salah, mungkin ikhtiar kita belum maksimal, atau cara kita memohon belum dibarengi dengan adab dan ketulusan yang benar. Namun, ada kalanya pula kita sudah melakukan segalanya dengan benar, mengetuk dengan cara yang paling santun dan usaha yang paling keras, namun pintu itu tetap belum terbuka. Di sinilah letak ujian tawakkal yang sesungguhnya. Kita harus meyakini bahwa jika Allah belum membukakan pintu tersebut, itu bukan karena Dia tidak mendengar ketukan kita, melainkan karena Dia Sang Pemilik Rumah Yang Maha Tahu kapan waktu terbaik bagi kita untuk masuk, atau mungkin Dia sedang menyiapkan pintu lain yang jauh lebih baik untuk kita lewati.

Pada akhirnya, tawakkal yang sebenar-benarnya adalah tentang bagaimana kita tetap tenang dan berbaik sangka kepada Allah, baik saat pintu itu terbuka lebar maupun saat ia tetap terkunci. Tugas kita hanyalah memastikan bahwa kita tidak pernah berhenti mengetuk, karena bagi seorang mukmin, proses mengetuk itu sendiri adalah sebuah ibadah, sedangkan hasilnya adalah sepenuhnya keputusan Allah Yang Maha Bijaksana.

Leave a reply

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...