Nabi Ismail Leluhur Arab Musta‘Ribah

Loading

Oleh: Dr. Muhammad Isa Anshory, M.P.I.

Sejak kedatangan kabilah Jurhum, ibunda Hajar dan Ismail tidak lagi kesepian tinggal di Makkah. Sebagian orang Jurhum kembali ke Yaman untuk menjemput keluarga mereka. Mereka membangun rumah-rumah di Makkah hingga muncullah pemukiman.

Ismail tumbuh di tengah komunitas kabilah Jurhum. Ia membaur dengan mereka. Ia belajar bahasa Arab dari mereka hingga menjadi bahasa sehari-harinya. Oleh karena itu, Ismail menjadi leluhur bagi bangsa Arab Musta‘ribah. Anak keturunan Ismail disebut demikian karena leluhur mereka bukan orang Arab asli, namun kemudian hidup di tengah komunitas Arab dan menikahi wanita Arab. Dari sini, anak keturunan Ismail menjadi ter-Arab-kan (mustaribah).

Abu Ubaidah meriwayatkan bahwa telah menceritakan kepada kami Masma‘ bin Abdul Malik dari Abu Ja‘far Muhammad bin Ali bin Al-Hasan dari leluhur mereka yang berkata, “Orang yang pertama kali fasih berbicara dengan bahasa Arab yang terstruktur adalah Ismail. Tatkala itu, usianya baru 14 tahun.” Dari kabilah Jurhum pula, Ismail belajar melempar tombak dan berburu. Kelak ketika Ismail dewasa, orang-orang Jurhum merasa takjub terhadap sifat dan perangai baiknya. Mereka pun menikahkan Ismail dengan gadis dari kalangan kabilah Jurhum.     

Kisah Penyembelihan Ismail

Meskipun tinggal di tempat yang jauh, Nabi Ibrahim senantiasa memperhatikan keadaan Ismail dan ibunda Hajar dari waktu ke waktu. Ia sering datang berkunjung ketika muncul kerinduan kepada mereka. Ismail tumbuh menjadi remaja yang kuat dan mampu membantu orang tuanya.

Dalam sebuah kunjungan, Nabi Ibrahim bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih Ismail. Sementara itu, mimpi para nabi –sebagaimana disebutkan dalam hadits– adalah wahyu. Nabi Ibrahim sedikit pun tidak merasa ragu terhadap mimpinya. Akan tetapi, perintah tersebut terkait dengan putranya. Ia harus mempertimbangkan dengan baik. Pada hari kedua, ia bermimpi serupa. Menurut riwayat, peristiwa ini terjadi pada 8 Dzulhijjah sehingga tanggal ini disebut hari Tarwiyah. Beliau bermimpi serupa kembali pada hari ketiga. Menurut riwayat, peristiwa ini terjadi pada 9 Dzulhijjah sehingga tanggal ini disebut hari ‘Arafah. Setelah tiga kali mimpi berturut-turut, maka tidak ada pilihan lain kecuali harus melaksanakan perintah Allah dan bersabar terhadap ujian.

Nabi Ibrahim kemudian terpikir untuk menyampaikan mimpinya itu kepada putranya. Tujuannya adalah agar hati Ismail tenang dan tidak merasa terpaksa. Ternyata ia adalah anak yang patuh lagi tabah serta layak untuk menjadi seorang nabi dan rasul. Ismail berkata, “Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu! Insyaa Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang yang bersabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102).

Nabi Ibrahim mulai memegang tangan putranya. Ia mengajaknya pergi ke tempat penyembelihan yang berada di Mina. Ia membaringkan Ismail, kemudian mengambil pisau. Ia lewatkan pisau itu di leher Ismail. Akan tetapi pisau itu tidak memutusnya, bahkan sedikit pun tidak membekas di leher Ismail. Ketika itulah terdengar suara panggilan dari langit, “Wahai Ibrahim! Engkau telah menepati mimpimu dan menjalankan perintah. Kami tebus putramu ini dengan domba jantan gemuk yang mudah untuk disembelih.”

Nabi Ibrahim pun menyembelih domba tersebut di tempat yang semula untuk menyembelih Ismail. Penyembelihan ini kemudian menjadi sunnah yang terus berlanjut hingga hari kiamat. Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail, pantas menjadi teladan baik bagi orang-orang sesudah mereka. Mereka layak mendapatkan ampunan dari Allah Sang Pencipta alam semesta. Kisah keduanya diabadikan dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaffat: 99-111.           

Membangun Kabah

Beberapa tahun kemudian, Nabi Ibrahim datang kembali ke Makkah untuk mengunjungi Ismail. Saat itu ibunda Hajar telah meninggal dunia, sedangkan Ismail telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa dan telah menikah. Ismail biasa meruncingkan anak panahnya di bawah pohon besar dekat dengan sumur Zamzam. Tatkala melihat kedatangan ayahnya, ia bangkit menyambutnya. Ia menyalami dan merangkulnya. Keduanya pun saling berpelukan.

Nabi Ibrahim lalu berkata, “Wahai Ismail! Sesungguhnya Allah memberiku suatu perintah.” Ismail menanggapi, “Laksanakanlah perintah Tuhanmu itu!” “Apakah engkau bersedia membantuku?,” tanya Nabi Ibrahim. “Ya, aku akan membantu,” jawab Ismail. Nabi Ibrahim kemudian menyampaikan bahwa Allah memerintahnya untuk membangun Ka‘bah di tempat ini. Ia menunjukkan gundukan tinggi di sekitarnya.

Keduanya segera meninggikan pondasi dan bangunan. Ismail datang membawa batu-batu, sedangkan Ibrahim menatanya hingga menjadi bangunan kokoh. Setelah pondasi cukup tinggi dari permukaan tanah, didatangkanlah Hajar Aswad. Ibrahim meletakkannya di salah satu tiang Ka‘bah sebagaimana hari ini masih bisa didapati. Ketika tinggi Ka‘bah telah mencapai tinggi perawakan laki-laki dewasa, Ismail mengambilkan batu untuk pijakan kaki ayahnya. Batu ini kemudian dikenal sebagai Maqam (tempat berdiri) Ibrahim. Ka‘bah pun selesai dibangun. Nabi Ibrahim kemudian berdoa sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah: 127-129.

(Sumber: Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah, As-Sirah An-Nabawiyah,jilid 1, hlm. 123-134)         

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *