Dzulqa’dah: Bulan Haram dan Kesadaran Menjaga Dosa

YahyaKhutbah Jumat7 hours ago13 Views

Oleh: Bima Setya Dharma

Khutbah Pertama

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُه

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

 أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

فَيَا عِبَادَ الله اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَاللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقٌوْنَ

,فقد قال الله تعالى في القرآن الكريم:

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فإنَّ أصدقَ الحديثِ كتابُ اللهِ وخيرَ الهديِ هديُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ وشرَّ الأمورِ مُحدثاتُها، فَإِنَّ كلَّ مُحدَثةٍ بدعةٌ، وكلَّ بدعةٍ ضلالةٌ، وكلَّ ضلالةٍ في النَّارِ

 أَمَّا بَعْدُ

Hadirin Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam, yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam serta nikmat kesehatan, sehingga kita dapat berkumpul di rumah-Nya pada hari yang mulia ini.

Shalawat dan salam, semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kepada keluarga beliau, para shahabatnya, serta seluruh umatnya yang setia mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.

Tak lupa, kami berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya taqwa. Yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang bertaqwa dan mendapatkan keselamatan di dunia dan di akhirat.

Kaum Muslimin yang Dirahmati Allah.

Saat ini kita telah memasuki bulan Dzulqa’dah, salah satu dari empat bulan yang Allah tetapkan sebagai Al-Asyhurul Hurum atau bulan-bulan Haram. Dinamakan bulan Haram karena pada waktu-waktu ini, Allah dengan tegas melarang kita untuk melakukan peperangan dan mendzalimi diri sendiri.

Kedudukan bulan ini sangat istimewa di sisi Allah. Sehingga, amal shaleh yang dilakukan di dalamnya akan mendapatkan balasan yang berlipat ganda. Namun sebaliknya, kemaksiatan yang dilakukan pada bulan-bulan ini juga memiliki timbangan dosa yang jauh lebih berat. Oleh karena itu, kehadiran Dzulqa’dah seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk meningkatkan kewaspadaan hati dan ketelitian dalam menjaga lisan serta perbuatan dari segala bentuk maksiat.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Poin utama yang harus kita sadari dalam memasuki bulan ini adalah mengenai kemuliaan waktu yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah Ayat 36:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan Haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu mendzalimi dirimu padanya (empat bulan itu),”

Ayat ini memberikan pelajaran berharga bagi kita, bahwa waktu di dunia ini tidaklah bersifat netral. Ada saat-saat tertentu yang Allah pilih dan Allah muliakan di atas waktu yang lain. Salah satunya adalah Dzulqa’dah yang sedang kita jalani saat ini. Penegasan Allah agar kita tidak mendzalimi diri sendiri di bulan-bulan tersebut menunjukkan bahwa kemaksiatan yang dilakukan saat ini memiliki dampak yang jauh lebih besar. Jika di bulan lain dosa sudah berakibat buruk, maka pada bulan Haram ini, luka yang diakibatkan oleh dosa tersebut menjadi lebih dalam dan timbangannya menjadi lebih berat di sisi Allah.

Hal ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih berhati-hati dalam melangkah. Kesadaran akan kemuliaan bulan ini seharusnya membuat kita lebih waspada. Jangan sampai kita merusak waktu yang suci ini dengan kedzaliman, baik itu kedzaliman kepada Allah dengan meninggalkan perintah-Nya, maupun kedzaliman kepada sesama manusia.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Setelah kita memahami bahwa di bulan Haram kita dilarang keras berbuat dzalim, maka penting bagi kita untuk mengenal lebih dalam mengenai identitas dan kemuliaan bulan yang tengah kita jalani ini. Apa sebenarnya keistimewaan bulan Dzulqa’dah?

Secara kedudukan, Dzulqa’dah bukan hanya sekadar salah satu dari empat bulan haram, tetapi juga merupakan bulan yang telah dimuliakan sejak zaman Nabi Ibrahim Alaihis Salam. Keberadaannya sangat penting karena ia menjadi pintu pembuka bagi rangkaian musim haji, masa di mana umat Islam dari seluruh penjuru dunia mulai mempersiapkan diri menuju tanah suci.

Para ulama menjelaskan bahwa nama Dzulqa’dah berasal dari “dzul” yang berarti memiliki, dan akar kata “qa‘ada” yang berarti duduk atau berhenti. Pada bulan ini, orang-orang Arab dahulu bersepakat untuk sepenuhnya berhenti dari segala macam peperangan dan pertikaian guna menghormati kesucian waktu yang telah Allah tetapkan.

Stabilitas dan keamanan pun dijadikan sebagai prioritas utama agar para peziarah yang hendak menunaikan ibadah haji dapat melakukan perjalanan dengan tenang tanpa rasa takut. Dengan meredam segala bentuk permusuhan dan menghentikan pertumpahan darah, mereka menunjukkan bentuk penghormatan tertinggi terhadap kemuliaan bulan haram ini, sebuah teladan bagi kita untuk juga mengistirahatkan diri dari perselisihan dan fokus pada kedamaian ibadah.

Maka bagi kita saat ini, makna “qa‘ada” atau berhenti ini seharusnya menjadi pengingat untuk “mengistirahatkan” diri dari segala pertikaian lisan maupun hati. Dzulqa’dah adalah saat yang tepat untuk berhenti dari mengejar ambisi duniawi yang berlebihan, berhenti dari perdebatan yang sia-sia, dan memberikan ruang bagi jiwa kita untuk kembali tenang dalam ketaatan. Dengan menghormati kesucian bulan ini, kita sedang melatih diri untuk menjadi pribadi yang lebih damai dan terkontrol di hadapan Allah.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Di tengah kemuliaan bulan Dzulqa’dah ini, marilah kita sejenak menundukkan kepala dan melakukan refleksi ruhani ke dalam diri kita masing-masing. Di bulan yang bermakna “berhenti” ini, sudah sepatutnya kita bertanya pada hati nurani yang paling dalam. Sudahkah kita benar-benar berhenti dari dosa-dosa yang selama ini menghalangi cahaya hidayah masuk ke dalam jiwa? Ataukah kita justru masih terbelenggu dan kembali kepada kebiasaan-kebiasaan lama yang menjauhkan kita dari ridho Allah?

Penting bagi kita untuk menyadari sebuah hakikat besar dalam beragama, bahwa apa yang Allah nilai dari seorang hamba bukan hanya seberapa banyak ibadah yang ia kerjakan, atau seberapa panjang sujud yang ia lakukan. Namun, Allah juga melihat sejauh mana kekuatan dan kejujuran kita dalam meninggalkan kemaksiatan demi menghormati kesucian perintah-Nya. Meninggalkan satu dosa di bulan haram ini karena rasa takut kepada Allah, bisa jadi jauh lebih mulia di sisi-Nya daripada melakukan banyak ketaatan namun tetap membiarkan diri berlumuran kedzaliman. Untuk itu, kita jadikan Dzulqa’dah ini sebagai garis start untuk berhenti dari segala yang buruk dan melangkah menuju pribadi yang lebih bersih.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Sering kali dalam menjalani keseharian, kita terjebak dalam pemikiran, bahwa dosa hanyalah sebatas perbuatan maksiat yang besar seperti zina, mencuri, atau tindak kejahatan berat lainnya. Kita merasa aman selama tidak melakukan dosa-dosa besar tersebut. Padahal, ada bahaya yang mengintai di balik dosa-dosa yang sering dianggap remeh. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengingatkan, bahwa kumpulan dosa kecil yang terus-menerus dilakukan tanpa taubat dapat menumpuk dan akhirnya menggelapkan hati, layaknya noda hitam yang menutupi cermin yang bersih.

Di bulan Haram ini, kita harus lebih jeli memperhatikan perilaku kita yang mungkin dianggap biasa, namun bernilai dosa di sisi Allah. Perbuatan seperti ghibah atau membicarakan aib orang lain, lisan yang terbiasa berkata kasar dan menyakiti perasaan sesama, mata yang tidak terjaga dari melihat hal-hal yang diharamkan, hingga kebiasaan menunda-nunda waktu shalat tanpa alasan yang syar’i adalah bentuk-bentuk kedzaliman terhadap diri sendiri.

Janganlah kita melihat kecilnya sebuah kesalahan, namun lihatlah kepada siapa kita sedang bermaksiat. Di waktu yang mulia ini, mari kita bersihkan hati dengan menjauhi segala bentuk kemaksiatan, sekecil apa pun itu, agar cahaya keberkahan Dzulqa’dah benar-benar merasuk ke dalam jiwa kita.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Marilah kita jadikan bulan Dzulqa’dah sebagai momentum untuk melakukan introspeksi diri yang mendalam. Kita harus menyadari bahwa dosa bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan hijab atau penghalang yang merenggangkan hubungan antara kita dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Agar kita dapat menjaga kesucian bulan Haram ini, marilah kita menempuh langkah-langkah praktis.

Memulainya dengan menjaga lisan dari ghibah dan kata-kata yang menyakiti sesama, menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan, serta senantiasa membasahi lidah dengan istighfar karena menyadari keterbatasan kita sebagai manusia yang tak luput dari salah. Terakhir, pilihlah lingkungan pergaulan yang baik, karena suasana di sekitar kita adalah cermin yang sangat mempengaruhi kualitas iman dan keteguhan kita dalam menjauhi maksiat. Semoga dengan kesungguhan ini, Allah senantiasa membimbing setiap langkah kita menuju ridho-Nya.

بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ رَسُولِ ٱللَّهِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ

أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى ٱللَّهِ، فَقَدْ قَالَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْكَرِيمِ

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Sebagai penutup rangkaian khutbah hari ini, marilah kita berkomitmen untuk senantiasa menjaga hati dari noda dosa, menjaga lisan dari segala bentuk keburukan dan kebatilan, serta membentengi amal ibadah kita dari kelalaian yang menghancurkan pahala. Ingatlah, bahwa setiap detik di bulan Haram ini adalah ruang untuk mendulang ridho Allah, maka jangan biarkan waktu yang suci ini berlalu tanpa ada perbaikan diri yang nyata.

Mari kita tutup majelis yang mulia ini dengan bersimpuh memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa teguh dalam menjaga diri dari jeratan dosa, hamba yang memiliki kesadaran tinggi untuk menghormati waktu-waktu yang telah Allah muliakan, dan hamba yang Allah mudahkan jalannya untuk wafat dalam keadaan husnul khatimah.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِي الدِّينِ، وَعَافِيَةً فِي الْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ، وَبَرَكَةً فِي الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَاحَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ.

اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِي سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ، وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ, وسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ولَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ،

Leave a reply

Previous Post

Next Post

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...