Empat Pilar Taubat

YahyaKhutbah Idul Fitri6 hours ago59 Views

Oleh: Bima Setya Dharma

Khutbah Pertama

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ


إِنَّ الْحَمْد للهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمْنْ يَضْلُلُ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدُهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْد

Jamaah Shalat Idul Fitri Rahimakumullah.

Segala puji hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla, Tuhan semesta alam. Pada pagi yang fitri ini, lisan kita tak henti bertakbir, mengagungkan kebesaran-Nya yang telah melimpahkan nikmat iman dan Islam. Kita bersyukur, karena di saat banyak saudara kita telah mendahului kita, Allah masih memberikan kita kesempatan untuk bernapas, bersujud, dan merayakan kemenangan di hari yang penuh berkah ini.

Shalawat dan salam, semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau adalah teladan sempurna dalam kesabaran, kesederhanaan, hingga kebersihan jiwa. Beliaulah yang mengajarkan kita bahwa pintu kasih sayang Allah selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin kembali pulang menuju jalan-Nya.

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya taqwa. Yaitu dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat yang Dirahmati Allah.

Hari ini, kumandang takbir bergema di seluruh penjuru bumi. Kita melihat wajah-wajah bahagia, kita memakai pakaian terbaik, dan kita bersiap untuk saling memaafkan. Namun, ketahuilah, bahwa Hari Raya Idul Fitri bukan sekadar hari untuk makan-makan dan bergembira semata. Idul Fitri memiliki makna “kembali kepada fitrah”. Artinya, kita kembali kepada kesucian jiwa seperti bayi yang baru dilahirkan.

Namun, mungkinkah kita kembali suci jika noda-noda dosa masih mengerak di dalam hati? Mungkinkah kita merasa menang jika hubungan kita dengan Sang Pencipta masih terhalang oleh kemaksiatan yang belum disesali?

Oleh karena itu, Idul Fitri adalah momentum terbaik untuk bertaubat kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggil kita semua, orang-orang yang beriman, melalui firman-Nya dalam Surah At-Tahrim Ayat 8:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS. At-Tahrim: 8).

Ayat ini adalah undangan kasih sayang dari Allah. Allah tidak memanggil kita dengan sebutan, “Wahai para pendosa.” Tetapi, Allah memanggil kita dengan sapaan lembut, “Wahai orang-orang yang beriman.” Ini adalah isyarat, bahwa setinggi apa pun gunung dosa yang kita perbuat, selama iman masih ada di dada, pintu ampunan Allah selalu lebih luas dari samudera kesalahan kita.

Namun, taubat yang kita kerjakan hendaknya tidak hanya ucapan di bibir saja. Melainkan, taubatan nasuha, yaitu taubat yang murni, yang bersungguh-sungguh.

Jamaah Shalat Idul Fitri yang Dirahmati Allah.

Mungkin di antara kita ada yang bertanya-tanya, “Bagaimanakah sebenarnya taubat yang benar itu? Apakah cukup dengan beristighfar setelah shalat saja?” Untuk menjawab ini, mari kita merenungkan penjelasan salah seorang ulama besar, Imam Al-Qurthubi, yang menjelaskan bahwa taubatan nasuha atau taubat yang tulus itu bukanlah sekadar kata-kata. Beliau megatakan:

 التَّوْبَةُ النَّصُوحُ يَجْمَعُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الِاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالْإِقْلَاعُ بِالْأَبْدَانِ، وَإِضْمَارُ تَرْكِ الْعَوْدِ بِالْجَنَانِ، وَمُهَاجَرَةُ سَيِّءِ الْإِخْوَانِ

“Taubat nasuha (taubat yang murni/sungguh-sungguh) terkumpul dalam empat perkara: Memohon ampun dengan lisan, menjaga tubuh dari perbuatan dosa, hati yang bertekad tidak mengulangi lagi, dan menjauhi teman-teman (lingkungan) yang buruk.”

Inilah empat pilar yang harus kita jaga. Idul Fitri adalah garis start kita untuk memulai hidup baru dengan empat pilar ini. Jangan sampai Ramadhan berlalu, namun tabiat buruk kita masih menetap. Jangan sampai lisan kita bertakbir, namun hati kita masih menyimpan niat untuk kembali bermaksiat setelah hari raya ini usai.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah.

Pilar yang pertama adalah الاستغفار باللسان (Al-Istighfaru bil Lisan), yaitu memohon ampun kepada Allah dengan lisan yang sungguh-sungguh.

Kita akui, bahwasanya dosa yang telah kita lakukan sudah terlalu banyak, sudah terlalu menggunung. Mungkin ada yang merasa malu untuk kembali kepada Allah karena berkali-kali berjanji, tapi berkali-kali pula melanggarnya. Namun dengarlah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Az-Zumar Ayat 53:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan mendzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.”

Perhatikanlah jamaah sekalian! Allah memanggil mereka yang “melampaui batas”, mereka yang berlumuran dosa, tetap dengan sebutan, “Hamba-Ku”. Ini adalah bukti bahwa Allah tidak pernah mengusir kita dari pintu-Nya, selama kita mau menggerakkan lidah kita untuk memohon ampun. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

“Berbahagialah orang yang mendapati dalam catatan amalnya istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah).

Ungkapan ini menekankan, betapa agungnya amalan istighfar, hingga ia menjadi sumber kebahagiaan bagi siapa saja yang memperbanyaknya.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat yang dirahmati Allah.

Setelah lisan kita basah dengan istighfar memohon ampunan, maka pilar yang kedua yang juga merupakan langkah nyata selanjutnya, yang merupakan bukti kejujuran taubat kita adalah الإقلاع بالأبدان (Al-Iqla’u bil Abdan). Yaitu, kita harus benar-benar berhenti dari segala bentuk kemaksiatan dengan raga dan perbuatan kita secara total. Karena, taubat yang sesungguhnya tidaklah cukup hanya manis di bibir saja. Namun, ia harus berwujud dalam perubahan perilaku.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang bertaqwa di dalam Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran Ayat 135:

وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

“Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau mendzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(-nya).”

Ayat ini menegaskan, bahwa orang yang benar-benar ingat kepada Allah akan langsung membuktikan penyesalannya dengan tindakan. Sehingga, jika pada masa lalu kita termasuk orang-orang yang sering melalaikan shalat, maka mulai hari ini kita berhenti dari kelalaian itu, dan mulai istiqomah mendirikan shalat. Begitu pula jika sebelumnya lisan kita sering terjebak dalam ghibah atau membicarakan aib orang lain, maka mulai hari ini kita berhenti melakukan kemaksiatan lisan tersebut, dan menggantinya dengan menjaga lisan kita hanya untuk hal-hal yang baik.

Inilah hakikat dari kembali kepada fitrah. Yaitu melepaskan perbuatan dosa yang lama dan menggantinya dengan amal shaleh pada hari yang fitri ini.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.

Jamaah yang Dimuliakan Allah.

Setelah raga kita berhenti dari perbuatan maksiat, maka pilar yang ketiga adalah إضمار ترك العود بالجنان (Idhmaru Tarkil ‘Audi bil Janan), yaitu menanamkan tekad yang bulat dan niat yang kuat di dalam hati untuk tidak pernah kembali lagi kepada dosa-dosa tersebut.

Ketahuilah, bahwa taubat yang tulus bukanlah sebuah “istirahat sejenak” dari maksiat, yangmana seseorang berhenti hanya karena sedang merayakan Idul Fitri, namun dalam hatinya sudah merencanakan untuk kembali melakukannya setelah suasana lebaran ini usai. Taubat yang semacam itu, belum mencapai derajat kesempurnaan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan petunjuk singkat namun sangat mendalam melalui sabdanya:

النَّدَمُ تَوْبَةٌ

“Penyesalan adalah inti dari taubat.” (HR. Ibnu Majah).

Penyesalan yang sesungguhnya akan melahirkan rasa benci terhadap dosa yang pernah dilakukan. Jika di dalam hati kita masih tersimpan niat atau keinginan untuk kembali mencicipi dosa yang sama di kemudian hari, maka itu tandanya penyesalan kita belum benar-benar menghujam ke dalam jiwa. Pada hari yang fitri ini, marilah kita bersihkan hati kita dari segala niat buruk. Kita harus memiliki prinsip, bahwa kemaksiatan yang telah kita tinggalkan pada bulan Ramadhan kemarin, adalah masa lalu yang tidak akan pernah kita datangi lagi.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat yang dirahmati Allah.

Setelah kita memohon ampun dengan lisan, berhenti dengan perbuatan, dan bertekad kuat di dalam hati, ada satu benteng terakhir yang harus kita bangun agar taubat kita tidak hancur di tengah jalan. Hal itu adalah, atau yang merupakan pilar yang keempat, مهاجرة سىء الإخوان (Muhajaratu Sayyi’il Ikhwan), yaitu memiliki keberanian untuk meninggalkan teman-teman dan lingkungan yang membawa pengaruh buruk bagi agama kita.

Kita harus menyadari, bahwa lingkungan sangat menentukan masa depan iman kita. Seringkali seseorang kembali terjerumus ke dalam dosa lama setelah Ramadhan, bukan karena ia tidak ingin bertaubat, melainkan karena ia kembali berkumpul dengan orang-orang yang menariknya kembali ke jalan kemaksiatan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengingatkan kita dengan sangat tegas dalam sebuah hadits:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya, maka perhatikanlah oleh kalian dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud).

Hadits ini menjadi peringatan bagi kita semua, bahwa karakter dan perilaku kita sedikit banyak akan menyerupai dengan siapa kita sering menghabiskan waktu. Jika kita berteman dengan orang-orang yang meremehkan syariat, maka perlahan kita pun akan ikut meremehkannya. Maka, pada hari Idul Fitri ini, di saat kita merayakan kemenangan, mari kita pilih lingkungan yang sehat bagi iman kita.

Meninggalkan lingkungan yang buruk bukan berarti kita memusuhi manusia, melainkan kita sedang menyelamatkan diri kita agar tetap istiqomah di jalan Allah. Carilah sahabat-sahabat yang jika kita melihatnya, kita teringat kepada Allah, dan jika ia berbicara, ia menambah ilmu dan ketaatan kita. Dengan menjaga pergaulan, insyaa Allah taubat yang kita bangun akan tetap kokoh dan terjaga selamanya.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat yang Dirahmati Allah.

Jika Ramadhan telah pergi, jangan sampai taubat kita ikut pergi. Sangat menyedihkan jika kita hanya menjadi hamba Allah pada bulan Ramadhan saja, namun kembali menjadi hamba kemaksiatan pada bulan-bulan lainnya. Ketahuilah, bahwa Tuhan yang kita sembah di bulan Ramadhan adalah Tuhan yang sama yang tetap mengawasi kita pada bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya.

Idul Fitri bukanlah akhir dari perjalanan ibadah kita, melainkan sebuah awal dari kehidupan yang baru yang merupakan momentum bagi kita untuk bertaubat. Yangmana, taubat yang kita lakukan hendaknya memenuhi keempat pilar taubat yang telah disebutkan tadi. Yaitu: Memohon ampun dengan lisan, berhenti dengan perbuatan, bertekad tidak mengulangi, dan menjaga pergaulan. Keempat ini adalah bekal utama kita untuk melangkah, memasuki bulan Syawal ini.

Kita buktikan, bahwa didikan Ramadhan selama sebulan penuh telah berhasil membentuk kita menjadi pribadi yang lebih bersih, lebih jujur, dan lebih dekat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat yang Dirahmati Allah.

Demikianlah khutbah Idul Fitri kali ini. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni segala kekhilafan kita, dan memberikan kita kekuatan untuk tetap istiqomah di atas jalan Allah. Dan semoga, kita semua dipertemukan kembali dengan Ramadhan-Ramadhan berikutnya dalam keadaan yang jauh lebih baik dan lebih bertaqwa. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

   وَلِلَّهِ الْحَمْدُ ،(x 7) اَللهُ أكْبَرُ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

أَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتْ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَاَمْوَاتِ

إ ِنَّكَ أَنْتَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَلنَابِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَ اغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

أَللَّهُمَّ أَعِزِّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ أَللَّهُمَّ شَطِّطْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامُهُمْ وَقَلِّلْ عَدَدَهُمْ وَ أَلْقِ فِى قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

أَللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَاْلأَنْصَارِأَللَّهُمَّ انْصُرْ مُجَاهِدِيْنَ فِى كُلِّ مَكَانٍ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَنَا صِغَارًا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَاحَسَنَةً وَفِى اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Leave a reply

Previous Post

Next Post

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...