
Oleh: Dr. Muhammad Isa Anshory, M.P.I.
Pada tahun-tahun pertama kenabian, dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berlangsung secara terbatas. Beliau mengajak orang-orang terdekat untuk beriman kepada Allah dan menerima risalah yang dibawanya. Meskipun dilakukan secara hati-hati, kabar tentang ajaran baru yang dibawa Muhammad perlahan mulai beredar di tengah masyarakat Makkah.
Bagi penduduk Makkah, Muhammad bukanlah sosok asing. Beliau dikenal sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya. Namun, seruan untuk meninggalkan penyembahan berhala dan mengesakan Allah membawa ajaran yang berbeda dari keyakinan mayoritas masyarakat. Seiring berkembangnya dakwah, keberadaan orang-orang yang menerima ajaran tersebut mulai menarik perhatian.
Dari Ketidakpedulian Menuju Kekhawatiran
Berita tentang lahirnya agama baru yang telah diikuti oleh sejumlah orang itu akhirnya didengar oleh para pemuka Quraisy. Pada awalnya mereka tidak terlalu menghiraukan dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka memandang Muhammad seperti sejumlah tokoh yang berbicara tentang ketuhanan dan persoalan agama, di antaranya Umayyah bin Salth, Quss bin Sa‘idah, ‘Amr bin Nufail, dan lainnya. (Muhammad Al-Ghazali, Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah, Kairo: Dar Asy-Syuruq, hlm. 75).
Masyarakat Arab memang mengenal orang-orang yang mempertanyakan penyembahan berhala dan mencari ajaran yang lebih dekat dengan agama Ibrahim. Oleh karena itu, sebagian pemuka Quraisy mungkin belum menyadari bahwa seruan Muhammad akan berkembang menjadi gerakan yang membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat.
Namun, dakwah Nabi bukan sekadar pemikiran keagamaan. Beliau mengajak manusia menyembah Allah semata, meninggalkan berhala, serta memercayai wahyu yang diturunkan kepadanya. Orang-orang yang menerima dakwah itu pun mulai mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Semakin banyak orang menerima Islam, semakin nyata keberadaan kelompok Muslim di tengah masyarakat Makkah. Bagi kalangan yang mempertahankan tradisi penyembahan berhala, seruan tauhid menghadirkan persoalan yang tidak dapat terus diabaikan. Dakwah Nabi mulai memperlihatkan pengaruhnya, bukan hanya melalui perkataan, tetapi juga melalui kehidupan orang-orang yang telah beriman.
Tentu, sikap kaum Quraisy tidak seragam. Ada yang belum memberikan perhatian besar, ada yang mulai khawatir, dan ada pula yang kemudian menerima Islam. Akan tetapi, perkembangan dakwah membuat para penentangnya semakin menyadari bahwa ajaran Muhammad bukan sekadar pembicaraan tentang agama. Mereka sangat mengkhawatirkan kalau berita mengenai lahirnya agama baru itu akan bertambah luas dan pengaruhnya akan semakin menjalar. Oleh karena itu, mereka menunggu apa yang akan dialami oleh dakwah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hari-hari mendatang. (Muhammad Al-Ghazali, Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah, hlm. 75).
Bentrokan Awal Kaum Muslimin dengan Kaum Quraisy
Salah satu riwayat yang menggambarkan keadaan kaum Muslimin pada masa awal dakwah dicatat oleh Ibn Ishaq dan diteruskan dalam karya Ibn Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah. Para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasa pergi ke celah-celah lembah Makkah untuk melaksanakan shalat. Mereka memilih tempat yang relatif tersembunyi agar ibadah mereka tidak diketahui oleh kaum mereka.
Pada suatu hari, Sa‘d bin Abi Waqqash berada bersama sejumlah shahabat di salah satu lembah tersebut. Ketika mereka sedang shalat, sekelompok orang musyrik mendatangi dan mencela mereka. Perselisihan itu kemudian berkembang menjadi bentrokan fisik.
Dalam peristiwa tersebut, Sa‘d memukul salah seorang musyrik menggunakan tulang rahang unta hingga kepalanya terluka. Ibn Ishaq menyebut kejadian itu sebagai pertumpahan darah pertama dalam Islam. (Abdul Malik Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Beirut: Dar Al-Kitab Al-‘Arabi, (I/296).
Kisah ini memperlihatkan bahwa pelaksanaan shalat kaum Muslimin mulai berhadapan langsung dengan penentangan sebagian masyarakat. Ibadah yang dilakukan di tempat tersembunyi ternyata tidak selalu dapat berlangsung tanpa gangguan. Perbedaan keyakinan yang sebelumnya mungkin hanya menjadi bahan pembicaraan berubah menjadi perselisihan nyata.
Peristiwa tersebut juga menggambarkan keadaan kaum Muslimin yang belum memiliki kekuatan sosial besar. Mereka hidup di tengah masyarakat yang didominasi kaum musyrik dan harus menghadapi kemungkinan gangguan ketika menjalankan agamanya. Meskipun demikian, mereka tetap berusaha melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinan yang telah diterima.
Bentrokan yang melibatkan Sa‘d tidak berarti bahwa sejak saat itu seluruh Quraisy langsung melakukan perlawanan terbuka. Riwayat tersebut juga tidak memastikan bahwa peristiwa itu merupakan satu-satunya penyebab perubahan sikap para pemuka Quraisy. Namun, kisah ini menunjukkan bahwa keberadaan kaum Muslimin mulai terlihat dan pelaksanaan ajaran mereka dapat memicu pertentangan dengan orang-orang yang menolaknya.
Dakwah yang Semakin Dikenal
Perkembangan dakwah Islam pada masa awal Makkah berlangsung secara bertahap. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mula-mula mengajak orang-orang secara personal. Setelah itu, terbentuk kelompok orang beriman yang memiliki ikatan persaudaraan dan menjalankan ibadah bersama. Kabar mengenai mereka pun semakin dikenal masyarakat.
Peristiwa Sa‘d bin Abi Waqqash di lembah Makkah menjadi salah satu gambaran penting dari fase tersebut. Shalat yang dilakukan kaum Muslimin memperlihatkan bahwa Islam bukan sekadar kabar tentang ajaran baru. Islam telah menjadi keyakinan yang diamalkan dan menyatukan sekelompok orang dalam ibadah kepada Allah.
Tidak lama kemudian, dakwah memasuki tahap yang lebih terbuka setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menerima perintah untuk memberikan peringatan kepada kerabat dekat dan menyeru masyarakat secara terang-terangan. Pada fase berikutnya, pertentangan terhadap dakwah semakin tampak dalam berbagai bentuk.
Perjalanan ini mengajarkan bahwa perubahan besar dapat bermula dari langkah-langkah kecil yang belum banyak diperhatikan orang. Dakwah Islam berkembang melalui pertemuan personal dan pembinaan keimanan. Namun, ketika ajaran tersebut mulai membentuk komunitas dan tampak dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat di sekitarnya tidak dapat selamanya menganggapnya sebagai kabar biasa.
Dari sinilah kita memahami salah satu tahap penting sejarah dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Perjalanan dari dakwah yang terbatas menuju gerakan yang semakin dikenal masyarakat Makkah. Wallahu a‘lam.