Tiga Pintu Tipu Daya Setan

YahyaNasehat Kehidupan16 hours ago17 Views

Oleh: Bima Setya Dharma

Dalam setiap detik yang kita lalui, ada sebuah pertempuran yang tak pernah usai. Pertempuran itu tidak terdengar oleh telinga dan tidak tampak, namun terjadi tepat di dalam dada kita. Di sanalah setan senantiasa mengintai tanpa kenal lelah, mencari sedikit saja celah untuk meracuni dan merusak hati.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan kita dengan tegas dalam Al-Qur’an agar senantiasa waspada. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

“Sesungguhnya setan itu musuh bagimu. Maka, perlakukanlah ia sebagai musuh!” (QS. Fatir: 6).

Para ulama menafsirkan bahwa perintah untuk menjadikan setan sebagai musuh berarti kita harus senantiasa menyadari keberadaannya dan tidak boleh lengah sedikit pun dalam menghadapinya. Setan terus mengawasi dari tempat yang tidak bisa kita lihat dan selalu mengintai setiap kesempatan. Tujuan utamanya mengajak pengikutnya hanyalah satu, yaitu menyeret manusia menuju kehinaan yang paling dalam di dalam siksa api Neraka yang menyala-nyala.

Dalam tipu dayanya, setidaknya ada 3 pintu utama yang paling sering dijadikan celah oleh setan untuk melubangi benteng hati seorang hamba, yaitu Ghaflah (Kelalaian hati), Syahwat, dan Ghadhab (Gejolak amarah).

Mengenali ketiga pintu ini adalah langkah awal agar kita dapat menguncinya rapat-rapat sebelum musuh abadi itu masuk dan menguasai jiwa kita.

Pertama: Ghaflah (Kelalaian hati)

Ghaflah terjadi ketika hati perlahan mulai lupa kepada Allah, berpaling dari mengingat akhirat, dan tenggelam dalam urusan duniawi hingga melupakan hakikat tujuan hidup. Kelalaian ini bekerja secara sangat halus. Ia tidak membuat seseorang serta-merta membenci agama, melainkan membuatnya terlalu sibuk dan terlena hingga hatinya mengeras, sulit tersentuh ayat-ayat-Nya, dan kebal dari nasihat kebaikan.

Mengenai gambaran manusia yang terjebak dalam kelalaian ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۖ وَهُمْ عَنِ الْاٰخِرَةِ هُمْ غٰفِلُوْنَ

“Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7).

Ayat ini melukiskan keadaan mayoritas manusia yang begitu ahli mengurus kemudahan dan kenikmatan hidup duniawi, namun hatinya benar-benar buta terhadap urusan akhirat, tempat di mana ada hisab, pahala dan balasan, sebab mereka lebih memilih kehidupan sementara daripada negeri yang abadi.

Orang yang hatinya tertutup oleh ghaflah ibarat seorang pemburu yang terpesona melihat burung berbulu indah, lalu terus mengejarnya hingga masuk sangat jauh ke tengah hutan yang lebat. Ketika malam turun dan kegelapan mengepung, barulah ia tersadar bahwa ia telah tersesat jauh dari jalan pulang dan berada di tengah ancaman bahaya. Begitulah gambaran jiwa yang tergoda keindahan dunia. Fokus mengejar hal-hal yang tampak menggiurkan di mata, namun tanpa sadar telah melangkah terlalu jauh hingga tersesat dari jalan kembali kepada-Nya.

Kedua: Syahwat

Syahwat merupakan hasrat dalam diri manusia untuk mengejar kenikmatan, baik berupa makanan, harta benda, maupun keinginan biologis, tanpa lagi peduli pada batas halal dan haram. Sifat dasar dari hawa nafsu ini tidak akan pernah merasa puas, semakin dituruti, ia justru akan terus menuntut lebih hingga mengikis iman.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan Neraka diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan nafsu.” (HR. Muslim).

Hadis tersebut menegaskan bahwa Allah menghalangi dan menutupi jalan menuju Neraka dengan berbagai kenikmatan syahwat. Siapa saja yang menembus tirai syahwat itu dengan menuruti hawa nafsunya, sungguh ia akan jatuh dan terperosok ke dalam Neraka. Sebaliknya, jalan menuju Surga dipenuhi dengan hal-hal yang berat bagi jiwa, seperti bersabar menjalankan ibadah, menahan amarah, bersedekah, serta mengekang keinginan dari yang diharamkan.

Ketiga: Ghadhab (Gejolak amarah).

Yaitu ketika emosi memuncak hingga melumpuhkan akal sehat. Saat seseorang berada dalam cengkeraman amarah, setan dengan sangat mudah membisikkan perkataan kotor, kata-kata perceraian, tindak kekerasan, hingga pertumpahan darah yang merusak segalanya dalam sekejap.

Mengenai bahaya besar di balik gejolak ini, dikisahkan bahwasannya ada seeorang yang mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk meminta nasihat. Kemudian beliau bersabda:

لا تَغْضَبْ

“Jangan marah.” (HR. Bukhari).

Para ulama menjelaskan bahwa sabda ringkas ini sejatinya merangkum kebaikan dunia dan akhirat. Larangan ini bermakna jauhilah sebab-sebab amarah, tundukkan kesombongan diri dengan ketawadhuan, dan jangan pernah menuruti apa pun yang diperintahkan oleh emosi. Sebab, ketika seseorang melampiaskan amarahnya, hubungan silaturahmi bisa terputus seketika, kelembutan sirna, dan rasa penyesalan seumur hidup kerap kali berawal dari satu detik amarah yang tak tertahan.

Sebagai hamba yang lemah, kita tidak akan pernah mampu melawan tipu daya setan hanya dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri. Hati kita terlalu rapuh jika harus berdiri sendirian tanpa perlindungan dari Sang Pencipta. Oleh karena itu, kuncilah ketiga pintu tadi dengan memperbanyak zikir, menundukkan nafsu, serta senantiasa bersandar dan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ نَزْغٌ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200).

Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita, mengunci rapat setiap celah dari bisikan setan, dan menggolongkan kita ke dalam hamba-hamba-Nya yang berada dalam naungan perlindungan-Nya. Aamiin.

Leave a reply

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...