
Oleh: Dr. Muhammad Isa Anshory, M.P.I.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mulai berdakwah, beliau tidak hanya mengajarkan tauhid. Sejak awal, orang-orang yang menerima Islam juga dibentuk melalui ibadah. Salah satu ibadah yang telah hadir dalam kehidupan Rasulullah dan para shahabat pada masa awal dakwah adalah shalat.
Hal ini penting diketahui bahwa shalat bukan baru ada setelah Isra dan Mi‘raj. Anggapan tersebut tidak tepat. Shalat telah dilaksanakan sebelum Isra dan Mi‘raj, sedangkan kewajiban shalat lima waktu ditetapkan pada peristiwa Isra dan Mi’raj.
Shalat pada Masa Awal Dakwah
Syekh Al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq Al-Makhtum menyebutkan bahwa di antara perkara yang pertama kali turun adalah perintah shalat. Ia mengutip Muqatil bin Sulaiman yang mengatakan bahwa pada awal Islam, Allah mewajibkan dua rakaat pada pagi hari dan dua rakaat pada sore hari. Pendapat tersebut dikaitkan dengan firman Allah:
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ
“Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.”(QS. Ghafir: 55).
Ibn Hajar juga menjelaskan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam telah melaksanakan shalat sebelum Isra, demikian pula para shahabat. Para ulama berbeda pendapat mengenai bentuk dan waktu shalat yang diwajibkan sebelum shalat lima waktu, di antaranya shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya. (Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq Al-Makhtum, Dar Ibnul Jauzi, hlm. 92-93).
Dengan demikian, perlu dibedakan antara shalat yang telah ada pada masa awal dakwah dengan shalat lima waktu yang diwajibkan kemudian. Jika dikatakan bahwa “shalat baru diwajibkan setelah Isra dan Mi’raj”, yang tepat adalah kewajiban shalat lima waktu. Bukan berarti sebelum itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para shahabat belum melaksanakan shalat.
Pada masa awal dakwah, melaksanakan shalat bukanlah perkara mudah. Ibn Hisyam menyebutkan bahwa apabila waktu shalat tiba, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para shahabat pergi menuju lembah-lembah di sekitar Makkah. Mereka bersembunyi untuk melaksanakan shalat agar tidak diketahui oleh kaum mereka. (Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 93). Jumlah kaum Muslimin masih sedikit dan tekanan Quraisy semakin terasa. Namun dalam kondisi tersebut, shalat telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Generasi pertama Islam dibentuk sebelum mereka memiliki kekuatan materi. Mereka belum mempunyai kekuasaan atau jumlah pengikut yang besar, tetapi mereka memiliki hubungan yang kuat dengan Allah. Shalat menjadi salah satu sarana untuk membangun hubungan tersebut.
Shalat yang Mengundang Perhatian
Shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak hanya menjadi ibadah bagi beliau dan para shahabat. Bagi sebagian orang yang melihatnya, shalat justru menjadi awal munculnya rasa ingin tahu terhadap Islam. Dalam Yaumiyat As-Sirah An-Nabawiyah disebutkan beberapa kisah tentang orang-orang yang menyaksikan Rasulullah melaksanakan shalat.
Ali bin Abi Thalib termasuk orang yang tertarik kepada Islam setelah menyaksikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Khadijah Radhiyallahu ‘anha melaksanakan shalat. Ia melihat keduanya melakukan sesuatu yang belum pernah ia kenal. Setelah mengetahui bahwa ibadah tersebut merupakan bagian dari agama yang dibawa Rasulullah, Ali menerima Islam.
Hal serupa terjadi pada Zaid bin Haritsah. Ia menyaksikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaksanakan shalat dan mengetahui bahwa shalat tersebut merupakan bagian dari agama yang beliau bawa. Peristiwa itu menjadi salah satu sebab yang mengantarkannya menerima Islam.
Kisah lain datang dari ‘Afif Al-Kindi. Ketika berada di Makkah bersama Al-‘Abbas bin Abdul Muththalib, ia melihat seorang laki-laki menghadap kiblat dan melaksanakan shalat. Tidak lama kemudian seorang perempuan berdiri di belakangnya, disusul seorang anak muda.
‘Afif bertanya kepada Al-‘Abbas tentang mereka. Al-‘Abbas menjelaskan bahwa laki-laki itu adalah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, perempuan itu adalah Khadijah, dan anak muda tersebut adalah Ali bin Abi Thalib. Muhammad mengaku sebagai nabi dan mengajak manusia kepada agama baru.
‘Afif belum masuk Islam saat itu. Setelah kemudian menjadi seorang Muslim, ia mengenang peristiwa tersebut dan menyesal karena belum mengikuti mereka. Ia bahkan melihat dirinya sebagai orang yang semestinya dapat menjadi orang keempat yang masuk Islam. (Abdullah Abu Dzikri, Yaumiyyat As-Sirah An-Nabawiyyah Al-Musyarrafah, 1/81-84).
Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa shalat dapat menjadi pintu munculnya pertanyaan tentang Islam. Sebelum mendengar penjelasan panjang tentang ajaran Islam, seseorang dapat terlebih dahulu melihat bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beribadah kepada Allah.
Membentuk Generasi Pertama
Mengapa shalat telah hadir sejak masa awal dakwah? Jawabannya dapat dipahami dari keadaan generasi pertama Islam. Mereka menghadapi penolakan keluarga, gangguan masyarakat, dan tekanan Quraisy. Mereka membutuhkan kekuatan yang tidak bergantung kepada jumlah, harta, maupun kedudukan. Shalat membentuk kekuatan tersebut dari dalam.
Melalui shalat, seorang Muslim belajar tunduk hanya kepada Allah. Ia berdiri, rukuk, dan sujud kepada Rabb semesta alam. Di tengah masyarakat yang dipenuhi kesyirikan, shalat terus menanamkan tauhid dalam kehidupan sehari-hari.
Shalat juga melatih kedisiplinan dan ketaatan. Iman tidak berhenti sebagai keyakinan dalam hati, tetapi diwujudkan dalam ibadah yang dilakukan sesuai tuntunan Allah. Ketika tekanan semakin berat, shalat menjadi tempat seorang hamba kembali kepada Allah, memohon pertolongan, dan memperbarui ketundukannya. Oleh karena itu, generasi pertama Islam tidak hanya dibentuk dengan penjelasan tentang tauhid. Mereka juga ditempa melalui ibadah yang menghubungkan hati dengan Allah. Wallahu a‘lam.