Tiga Perkara Penyelamat Manusia

YahyaKhutbah Jumat6 hours ago17 Views

Oleh: Bima Setya Dharma

Khutbah Pertama

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jamaah Shalat Jumat yang Dimuliakan Allah.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah melimpahkan begitu banyak nikmat kepada kita. Di antaranya, kita masih diberikan kesempatan untuk dapat melangkahkan kaki ke masjid untuk menunaikan ibadah shalat Jumat.

Shalawat serta salam, semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beserta keluarganya, para sahabatnya, dan umatnya yang senantiasa istiqomah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.

Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan jamaah sekalian, untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. ‘Ali Imran: 102).

Kaum Muslimin yang Dirahmati Allah.

Dunia bukanlah tempat tinggal yang abadi, melainkan sebuah perjalanan panjang menuju kampung akhirat. Setiap detik yang kita lewati adalah langkah yang mendekatkan kita pada hari pertanggungjawaban. Setiap kita pasti mendambakan satu hal yang paling utama, yaitu keselamatan. Keselamatan jiwa, keselamatan iman, hingga keselamatan di hadapan Allah kelak. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan kita melalui sebuah hadis:

ثلاثٌ مُنجِياتٌ : خَشيةُ اللهِ تعالَى في السِّرِّ والعلانِيَةِ، والعدلُ في الرِّضا والغضَبِ، والقصْدُ في الفقْرِ والغِنَى

“Tiga perkara yang menyelamatkan: Takut kepada Allah Ta’ala di tempat sepi maupun terang-terangan, berlaku adil di saat senang maupun marah, dan bersikap sederhana dikala miskin maupun kaya.” (HR. Ibnu Hibban).

Kaum Muslimin yang Dirahmati Allah.

Yang Pertama: Takut kepada Allah di tempat sepi maupun ramai.

Kualitas keimanan seorang manusia sebenarnya tidak diuji saat ia berada di tengah keramaian, Keimanan yang sejati justru diuji di tempat yang sunyi, ketika tidak ada satu pun mata manusia yang melihat gerak-geriknya. Rasa takut dan rasa cinta kepada Allah (khasyah) yang tetap terjaga saat sendirian adalah bukti bahwa iman itu hidup di dalam dada, bukan sekadar topeng atau pencitraan di hadapan manusia.

Orang-orang yang memiliki kualitas iman seperti inilah yang diabadikan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an Surah Qaf Ayat 33:

مَنْ خَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاۤءَ بِقَلْبٍ مُّنِيْبٍ

“(Dialah) orang yang takut kepada Dzat Yang Maha Pengasih (sekalipun) dia tidak melihat-Nya dan dia datang (menghadap Allah) dengan hati yang bertaubat.” (QS. Qaf: 33).

Yang dimaksud pada ayat ini adalah seorang hamba yang takut kepada Allah meskipun ia tidak melihat-Nya secara langsung. Ia sadar bahwa Allah Maha Melihat. Dan kelak di hari kiamat, ia datang menghadap Tuhannya dengan membawa qolbun muniib, yaitu hati yang selalu kembali kepada Allah, tulus dalam ketaatan-Nya, serta senantiasa rindu kepada-Nya.

Jamaah Shalat Jumat yang Dimuliakan Allah.

Yang Kedua: Berlaku adil dalam kondisi marah dan senang.

Keadilan seseorang tidak sedang diuji ketika semua urusannya berjalan lancar. Keadilan justru diuji pada saat gelombang amarah sedang memuncak, atau ketika kesenangan dunia sedang memabukkan. Seringkali, saat marah, kita ingin menghancurkan segala hal dan berkata semaunya. Sebaliknya, saat senang atau dikuasai hawa nafsu, kita cenderung membela orang yang dekat dengan kita meskipun salah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاۤءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun kesaksian itu memberatkan dirimu sendiri…” (QS. An-Nisa: 135).

Ayat ini memerintahkan manusia agar senantiasa istiqomah menegakkan keadilan di antara sesama manusia dalam segala situasi. Menjadi “saksi karena Allah” berarti kita menegakkan kebenaran semata-mata mencari ridha Allah, bukan demi kepentingan duniawi, bukan pula karena membela kelompok atau hawa nafsu pribadi. Iman yang benar menuntut kita untuk bersikap adil, bahkan ketika keadilan itu harus menghantam kita atau orang yang kita cintai.

Bahkan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan, bahwa seandainya Fatimah putri beliau mencuri niscaya beliau sendiri yang akan memotong tangannya. Hal ini menjadi bukti bahwa hukum Allah ditegakkan secara murni tanpa melihat status sosial, kekerabatan, maupun amarah dan kesenangan pribadi.

Jamaah Shalat Jumat yang Dimuliakan Allah.

Yang Ketiga dan Terakhir: Bersikap sederhana dalam kesusahan dan kecukupan.

Keseimbangan hidup seorang Mukmin sangat tercermin dari bagaimana ia mengelola mental dan finansialnya dalam dua kondisi yang sering membuai manusia, yaitu sempit dan lapang. Ketika diuji dengan kefakiran atau kekurangan harta, ia tidak berkeluh kesah secara berlebihan. Sebaliknya, ketika ia diuji dengan kelapangan dan kekayaan, ia tidak melampaui batas dalam kemewahan. Sifat qonaah inilah yang menjaga hati agar tidak menjadi budak harta, baik saat harta itu sedikit maupun banyak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا

“Dan, orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67).

Ciri khas orang beriman adalah senantiasa mengambil jalan tengah dalam mengelola rezeki. Mereka bukanlah orang-orang yang menghamburkan harta pada hal yang tidak berguna, dan bukan pula orang-orang bakhil yang menahan harta dari hak-hak yang harus dikeluarkan. Bahkan, ketika berinfak selalu berada di posisi pas dan pertengahan (qowwam). Mereka menyadari bahwa baik sikap boros maupun kikir adalah dua penyakit yang sama-sama merusak. Pemborosan menghancurkan harta pada tempat yang salah, sedangkan kekikiran menahan harta dari kebaikan.

Jamaah Shalat Jumat yang Dimuliakan Allah.

Inilah ketiga perkara penyelamat yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; keimanan yang selalu terjaga di tempat sunyi melalui rasa takut kepada Allah, keadilan yang kokoh dikala marah maupun senang, dan bersikap sederhana baik dalam kesusahan maupun kecukupan. Ketiga hal inilah yang akan menyelamatkan manusia dari fitnah dunia dan menyelamatkan dari siksa di akhirat kelak.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kita kekuatan agar bisa mengamalkan sifat adil, qonaah, serta taqwa dengan sebenar-benarnya taqwa.

بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ رَسُولِ ٱللَّهِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ

أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى ٱللَّهِ، فَقَدْ قَالَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْكَرِيمِ

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

أَمَّا بَعْدُ

Jamaah yang Dimuliakan Allah.

Marilah di khutbah kedua ini, kita berdoa kepada Allah, memohon segala kebaikan dunia dan akhirat.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِي الدِّينِ، وَعَافِيَةً فِي الْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ، وَبَرَكَةً فِي الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَاحَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ.

اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِي سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ، وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ, وسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ولَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Leave a reply

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...