4 Tanda Baiknya Akhlak

YahyaNasehat Kehidupan19 hours ago15 Views

Oleh: Bima Setya Dharma

Pernahkah kita merenungkan, apa sebenarnya yang membuat seseorang terlihat begitu mulia dan dicintai di mata Allah maupun di tengah manusia? Sering kali kita mengira bahwa kemuliaan itu diukur dari indahnya pakaian, tingginya jabatan, atau menumpuknya harta benda. Bahkan, ada pula yang menyangka bahwa kemuliaan cukup diraih hanya dengan memperbanyak ibadah ritual semata. Padahal, semua itu belumlah menjadi jaminan. Ukuran kemuliaan hamba yang sejati justru terletak pada keagungan akhlak dan kebersihan hatinya.

Begitu utamanya urusan akhlak ini, hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan bahwa misi utama diutusnya beliau ke muka bumi adalah untuk memperbaiki akhlak. Beliau bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).

Untuk memahami wujud nyata dari kebaikan akhlak, setidaknya ada 4 ciri utama yang menjadi indikator bahwa seseorang telah memiliki akhlak yang mulia dalam kesehariannya.

1. Memiliki rasa malu

      Dalam ajaran Islam, rasa malu bukanlah tanda kelemahan atau sikap penakut, melainkan sebuah “rem” yang amat kuat. Rem inilah yang menahan jemari, lisan, dan langkah kaki kita dari jatuh ke dalam perbuatan dosa.

      Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memuji sifat mulia ini dalam sabdanya:

      الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

      “Rasa malu itu tidak menghadirkan sesuatu melainkan kebaikan.” (HR. Bukhari & Muslim).

      Sifat malu ini wajib dihiasi oleh setiap muslim dan muslimah tanpa terkecuali. Orang yang malu terlihat berbuat curang atau berniat jahat di hadapan sesama manusia, sejatinya sedang belajar untuk lebih malu lagi kepada Allah, Sang Maha Pencipta.

      Para ulama menjelaskan bahwa rasa malu terbagi menjadi dua, yaitu malu bawaan yang membuat seseorang secara alami enggan melakukan hal-hal yang buruk, dan malu buah dari iman yang lahir dari kesadaran bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui apa pun yang tersembunyi di dalam dada. Malu inilah yang berada pada derajat ihsan tertinggi.

      2. Menjaga agar tidak mengganggu orang lain

      Seorang muslim yang berakhlak mulia sangat menjaga diri agar kehadiran dirinya menjadi beban, ancaman, atau merenggut kenyamanan sesama. Kehadiran sosok yang berakhlak mulia ini ibarat pohon yang tidak hanya membagikan naungan yang sejuk, tetapi juga memastikan tidak ada ranting rapuh yang jatuh menimpa orang-orang yang sedang berteduh di bawahnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan dalam sabdanya:

      الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

      “Seorang muslim sejati adalah orang yang membuat muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari & Muslim).

      Yaitu muslim yang sempurna keislamannya adalah dia yang tidak menyakiti sesamanya, baik dengan kata-kata maupun tindakan. Lisan begitu mudah berbohong, menggunjing (ghibah), atau mencela. Sementara tangan bisa dipakai untuk memukul, mengambil yang bukan haknya, atau merusak. Lisan bahkan didahulukan penyebutannya daripada tangan, sebab luka akibat tajamnya ucapan sering kali lebih dalam, lebih mudah dilakukan, dan dampaknya bisa membekas kepada siapa saja.

      3. Menjaga Lisan

      Lisan pada hakikatnya adalah cermin dari isi hati. Apa yang mengalir dari lidah seseorang menunjukkan apa yang mengisi jiwanya. Seorang muslim yang berakhlak mulia senantiasa menyaring setiap kata yang akan keluar dari mulutnya, memastikan bahwa yang terucap hanyalah kata-kata yang jujur, bermanfaat, serta menyejukkan hati siapa saja yang mendengarnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

      وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

      “Katakan kepada hamba-hamba-Ku supaya mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (dan benar).” (QS. Al-Isra’: 53).

      Ayat ini merupakan bimbingan langsung dari Allah agar kita senantiasa menghiasi lisan dengan ucapan yang mendekatkan diri kepada-Nya, seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, menuntut ilmu, menyebarkan kebaikan, serta mencegah kemungkaran. Tidak hanya itu, perintah ini juga mencakup cara kita berbicara kepada sesama manusia dari berbagai tingkatan dan latar belakang dengan tutur kata yang lembut dan santun.

      4. Memaafkan saat mampu membalas

      Kemuliaan akhlak tidak diukur saat seseorang memaafkan karena ia tidak memiliki daya untuk membalas. Puncak dari kemuliaan hati adalah ketika seseorang memiliki kekuasaan, kesempatan, dan alasan yang sangat cukup untuk membalas dendam, namun ia lebih memilih untuk membendung amarahnya dan memberi maaf semata-mata demi mengharap keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

      Keteladanan pemaaf yang luar biasa ini pernah diukir oleh sahabat tercinta Nabi, Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu. Ketika terjadi peristiwa “Haditsul Ifki” (berita bohong dan fitnah keji yang ditujukan kepada putri beliau, Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha).

      Di antara orang-orang yang tersulut dan ikut menyebarkan fitnah tersebut adalah Misthah bin Utsatsah, seorang kerabat miskin yang selama ini seluruh kebutuhan hidupnya ditanggung oleh Abu Bakar. Secara manusiawi, betapa perih hati seorang ayah melihat orang yang selalu dibantunya justru ikut merusak kehormatan putrinya. Karena rasa kecewa yang mendalam, Abu Bakar pun bersumpah, “Demi Allah, aku tidak akan lagi memberikan nafkah kepada Misthah untuk selamanya!”

      Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian menurunkan teguran dalam Surah An-Nur ayat 22:

      وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

      “Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22).

      Seketika itu pula, Abu Bakar batalkan sumpahnya, memaafkan Misthah sepenuhnya, dan kembali menyalurkan bantuan nafkah kepadanya seperti sedia kala.

      Empat tanda kebaikan akhlak inilah cermin bagi kita untuk terus menata hati dan memperbaiki pergaulan kita sehari-hari.

      اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

      “Ya Allah, tunjukilah aku kepada akhlak yang paling baik, tidak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak yang baik melainkan Engkau. Dan palingkanlah dariku akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkan dariku akhlak yang buruk melainkan Engkau.” (HR. An-Nasa’i).

      Leave a reply

      Previous Post

      Next Post

      Ikuti
      Search
      Loading

      Signing-in 3 seconds...

      Signing-up 3 seconds...