Keluarga Sakinah Sebagai Pondasi Bangsa

YahyaKhutbah Jumat13 hours ago11 Views

Oleh: Bima Setya Dharma

Khutbah Pertama

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه, اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

فَيَا عِبَادَ الله اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَاللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقٌوْنَ, فقد قال الله تعالى في القرآن الكريم:

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah Tuhan yang telah membimbing kita, menuntun langkah kaki kita, dari gelapnya dunia menuju cahaya iman dan Islam. Dialah pula yang dengan kasih sayang-Nya, telah menganugerahkan kepada kita nikmat berupa keluarga, tempat di mana kita belajar tentang arti cinta, kesetiaan, dan pengorbanan.

Shalawat dan salam, semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabiyullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau teladan terbaik dalam membangun rumah tangga. Beliau yang mengajarkan kepada kita, bahwa kemuliaan sebuah keluarga bukan terletak pada megahnya rumah atau banyaknya harta. Melainkan pada ketaatan, indahnya akhlak dan agama yang menjadikan suatu rumah tangga itu hidup.

Selaku khatib, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita terus berjuang meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, hanya dengan modal taqwa dan ilmu itulah, kita dapat membangun keluarga yang kokoh. Dan hanya dari keluarga yang bertaqwa pulalah, akan lahir pengorbanan yang tulus untuk membangun kejayaan bangsa dan agama yang kita cintai ini.

Sidang Jumat yang Dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hari ini kita hidup di zaman yang penuh dengan cobaan yang sangat besar. Kita sering sekali menyaksikan kenakalan remaja, penyalahgunaan teknologi, pergaulan bebas, hingga runtuhnya adab dan akhlak di tengah masyarakat. Ketika masalah ini terjadi, banyak orang sibuk mencari kambing hitam dengan menyalahkan sekolah, lingkungan sekitar, atau media sosial. Padahal, jika kita mau merenung dan menelusuri akar masalahnya lebih dalam, awal mula kerusakan tersebut bersumber dari satu tempat yang sama, yaitu dari dalam rumah dan keluarga kita sendiri.

Hal ini terjadi karena keluarga adalah Al-Madrasatul Ula, sekolah pertama dan utama bagi setiap anak manusia. Di dalam rumahlah seorang anak pertama kali belajar berbicara, meniru perbuatan, mengenal Allah, dan memahami arti kehidupan.

Hubungan antara keluarga dan bangsa ibarat akar dan pohon. Jika akarnya yang merupakan keluarga diperhatikan dengan baik, diberi pupuk dan disiram, maka buahnya yang berupa masyarakat dan bangsa ini akan tumbuh dengan baik. Namun sebaliknya, jika pondasi keluarganya sudah rapuh dan rusak, maka masyarakat pun akan ikut merasakan dampak kehancurannya.

Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah.

Tujuan pernikahan dalam Islam sejatinya bukan hanya sekadar menyatukan dua insan dalam ikatan formal. Melainkan, untuk membangun sebuah ketenangan hidup.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan visi suci ini dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rum Ayat 21:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Allah menciptakan pasangan hidup agar kita merasakan sakinah, mawaddah dan rahmah di antara suami istri. Sakinah artinya rumah tangga kita bisa bikin hati tenang dan damai. Mawaddah adalah rasa cinta yang kuat di antara suami istri. Sedangkan rahmah adalah sifat kasih sayang yang membuat kita selalu ingin berbuat baik, saling memaafkan, dan saling membantu dalam urusan rumah tangga.

Kita semua tahu, kehidupan rumah tangga itu tidak selalu mulus dan indah. Pasti ada kalanya kita menghadapi masa-masa sulit. Seperti masalah ekonomi, ujian penyakit, atau terjadi perbedaan pendapat antara suami dan istri. Di sinilah pentingnya sifat rahmah atau kasih sayang karena Allah.

Ketika rasa cinta mulai hambar karena usia atau rasa bosan, rasa kasih sayang inilah yang membuat suami istri tetap bertahan, saling memaklumi, berusaha mencoba memahami satu sama lain, dan tidak mudah bertengkar. Kalau keluarga kita sudah bisa tenang dan akur seperti ini, insyaa Allah lingkungan di sekitar rumah kita pun akan ikut aman dan damai.

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah.

Kita sering kali memimpikan punya pemimpin bangsa yang jujur dan amanah. Tapi pertanyaannya, bagaimana mungkin hal itu bisa terwujud kalau di rumah, kita sebagai orang tua tidak pernah mengajarkan anak-anak kita kejujuran?

Kita juga mendambakan masyarakat yang tertib dan saling menghormati. Tapi apakah mungkin itu terjadi kalau di dalam rumah, anak-anak setiap hari justru melihat ayah dan ibunya yang hobi saling mencaci dan bertengkar?

Ingatlah. Kharakter anak itu adalah hasil dari apa yang mereka lihat di dalam rumah mereka sendiri.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan amanah besar ini dalam sebuah hadits shahih yang bunyinya:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْ أَهْلِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam (pemimpin) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maksud dari hadits ini sangat jelas. Menjadi pemimpin dalam keluarga artinya kita wajib menjaga, merawat, dan memastikan semua anggota keluarga berjalan di jalan yang benar, baik untuk urusan dunia maupun urusan akhirat.

Bagi para suami dan ayah, tugas kita bukan cuma mencari nafkah yang banyak, tetapi membimbing istri dan anak-anak dengan memberi nafkah yang halal dan mengajarkan adab dan akhlak yang baik. Sementara bagi para istri dan ibu, tugas utamanya adalah mengurus rumah tangga dengan bijak dan mendidik anak-anak dengan penuh kesabaran.

Kalau kita bisa menjalankan tugas tersebut dengan benar, pahalanya sangat besar di sisi Allah. Akan tetapi, jika kita mendidik keluarga dengan asal-asalan, maka di akhirat kelak anak dan istri kita sendiri yang akan menuntut kita di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Untuk merangkum seluruh tanggung jawab besar ini, mari kita renungkan firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam Surah At-Tahrim Ayat 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).

Imam Al-Qurtubhi dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa cara menjaga diri kita adalah melalui amal-amal shaleh yang kita lakukan. Sedangkan cara menjaga keluarga kita adalah dengan rajin memberikan wasiat, nasehat, serta bimbingan kepada mereka di dalam rumah. Kita harus sadar, bahwa Neraka ini tidak menyala dari kayu bakar biasa, melainkan dari manusia-manusia yang durhaka. Menyelamatkan keluarga dari tempat mengerikan ini bukan sekadar tugas sampingan, melainkan tugas utama kita sebagai kepala rumah tangga jika tidak ingin mereka terjerumus ke sana.

Lebih jauh lagi, ayat ini menggambarkan betapa mengerikannya suasana di sana. Neraka tersebut dijaga oleh malaikat-malaikat yang “ghiladh dan syidad”. Yaitu mereka adalah makhluk yang berwujud sangat besar, berhati kasar, tidak memiliki rasa kasihan, dan memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyat. Para ulama menjelaskan, bahwa malaikat ini memiliki dua sifat utama. Yang pertama mereka sama sekali tidak pernah menolak atau mengingkari apa pun yang Allah perintahkan. Dan yang kedua, mereka selalu sigap melaksanakan tugas menyiksa tanpa rasa malas atau menunda-nunda sedikit pun.

Maka, sebelum khutbah ini ditutup, mari kita tanyakan pada diri kita sendiri. Sanggupkah kita melihat anak dan istri yang kita cintai, atau diri kita sendiri, diseret ke Neraka oleh malaikat karena kita lalai menjaga nilai-nilai Islam di dalam rumah kita?

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga keluarga kita, menganugerahkan istri dan keturunan yang menjadi penyejuk mata (qurrata a’yun), dan menjadikan keluarga kita sebagai pilar-pilar kokoh yang memajukan kejayaan bangsa Indonesia. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ رَسُولِ ٱللَّهِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ

أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى ٱللَّهِ، فَقَدْ قَالَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْكَرِيمِ

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

أَمَّا بَعْدُ

Jamaah yang Dimuliakan Allah.

Marilah kita manfaatkan kesempatan yang mulia di hari Jumat ini untuk kembali membulatkan tekad dan niat kita dalam menjaga keutuhan rumah tangga kita masing-masing. Ingatlah, bahwa setiap usaha kecil yang kita lakukan untuk mendidik anak istri di jalan Allah adalah kontribusi nyata kita untuk menyelamatkan masa depan bangsa ini. Jangan pernah lelah memberikan teladan yang baik, menjaga nafkah yang halal, dan mendoakan keselamatan mereka di dunia dan akhirat.

Marilah kita tutup khutbah Jumat ini dengan berdoa, agar keluarga serta bangsa kita senantiasa berada dalam lindungan dan berkah-Nya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًااللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِوَالِدِينَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِي الدِّينِ، وَعَافِيَةً فِي الْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ، وَبَرَكَةً فِي الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَاحَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ.

اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِي سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ، وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ, وسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ولَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ،

Leave a reply

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...