Di Mana Pembelaan Allah? Refleksi atas Kejujuran dan Syukur

YahyaKhutbah Jumat49 minutes ago6 Views

                                                           Khutbah Pertama

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه, اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

فَيَا عِبَادَ الله اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَاللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقٌوْنَ, فقد قال الله تعالى في القرآن الكريم:

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

أَمَّا بَعْدُ

Sidang Jumat yang Dirahmati Allah

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa memberikan limpahan nikmat-Nya kepada kita semua. Di antaranya, kita dapat mendatangi panggilan-Nya untuk melaksanakan sholat Jumat pada siang hari yang mulia ini.

Shalawat dan salam, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala curahkan kepada baginda Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kepada keluarganya, para shahabatnya, serta umatnya yang konsisten dan komitmen dengan sunnahnya. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

Selanjutnya, khatib berwasiat untuk diri khatib pribadi dan untuk jama’ah semuanya, untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benar taqwa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).

Sidang Jumat yang Dirahmati Allah

Dunia ini sering kali terlihat seperti panggung ketidakadilan. Kita melihat orang jujur tersingkir, sementara para penipu melenggang bebas. Kita melihat kebenaran dibungkam, dan kebatilan berpesta pora. Dalam riuh rendah kebingungan itu, sering kali terbersit sebuah tanya di sudut hati kita, “Jika aku beriman, di mana pembelaan Allah?”

Mari kita merenungkan firman Allah dalam Surah Al-Hajj Ayat yang ke 38:

 اِنَّ اللّٰهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.”

Allah berjanji, Allah membela, tak ada keraguan.

Sidang Jumat yang Dirahmati Allah

Mengapa Allah memulai ayat ini dengan kata “Inna” —sebuah penegasan yang berarti “Sesungguhnya” atau “Tanpa keraguan”? Dalam retorika Al-Qur’an, penegasan ini muncul karena Allah tahu bahwa manusia sering kali bersikap skeptis, ragu-ragu, kurang percaya. Kita seperti seseorang yang sedang berbicara dengan tenaga penjual yang mencurigakan; kita sulit percaya karena apa yang kita lihat di depan mata justru berkebalikan. Kita melihat penderitaan, maka kita ragu akan pembelaan.

Namun, Allah menegaskan: Dia melakukan Idfa’. Allah tidak sekadar melindungi secara pasif. Idfa’ adalah tindakan aktif mendorong, menangkis, dan membelokkan serangan. Seperti perisai yang kokoh, Allah membelokkan anak panah fitnah dan tombak kedzaliman agar tidak membinasakan hamba-Nya. Namun, pertanyaan itu tetap mengusik, “Lalu mengapa kita masih melihat penderitaan?”

Sidang Jumat yang Dirahmati Allah

Kita sering menuntut pembelaan yang instan. Kita ingin musuh jatuh saat ini juga. Kita ingin keadilan datang secepat kilat. Namun, kita harus memahami, bahwa Allah memiliki timbangan keadilan untuk individu, dan timbangan keadilan untuk masyarakat (Ummah).

Lihatlah sejarah. Kaum ‘Ad dan Tsamud langsung dihancurkan begitu mereka melampaui batas. Namun, lihatlah kaum Quraisy di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka menghina Nabi. Mereka menyiksa para shahabat. Mereka mengusir hamba-hamba Allah dari rumah mereka. Dan Allah membiarkan mereka hidup bertahun-tahun. Tak ada petir yang menyambar, tak ada bumi yang menelan mereka seketika.

Kenapa? Karena Allah melihat gambaran besar. Allah memberikan waktu. Allah memiliki rencana jangka panjang yang melampaui batas kesabaran manusia yang sempit.

Kita melihat kekalahan, kita melihat penderitaan, tapi Allah melihat hikmah. Kita melihat kepedihan hari ini, tapi Allah melihat kemenangan hari esok.

Namun, ada sebuah rahasia pahit yang harus kita telan. Mengapa pembelaan Allah terasa jauh? Mungkin jawabannya ada pada lanjutan ayat tersebut:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُوْرٍ ࣖ

“Sesungguhnya Allah tidak mencintai setiap orang yang Khawwan lagi Kafur.”

Sidang Jumat yang Dirahmati Allah

Allah menggunakan kata Khawwan. Dalam bahasa Arab, pola kata ini (Fa’aal) merujuk pada sebuah profesi atau perilaku yang dilakukan terus-menerus. Seorang tukang roti disebut Khabbaz karena dia memanggang roti setiap hari. Seorang tukang jagal disebut Jazzar karena itu adalah pekerjaannya. Maka, seorang Khawwan adalah mereka yang menjadikan pengkhianatan dan kebohongan sebagai identitas. Sebagai hobi. Sebagai budaya. Satu bohong. Dua bohong. Lama-lama, kebohongan menjadi napas.

Mari kita bercermin. Bukankah kita hidup di zaman di mana kebohongan telah dinormalisasi?

  • Kita berbohong dalam wawancara kerja demi posisi impian.
  • Kita memalsukan data di resume agar terlihat hebat.
  • Kita memanipulasi laporan pajak seolah itu adalah kecerdikan.
  • Kita menipu calon pasangan dan keluarganya saat akan menikah demi citra diri.

Kita menyebutnya “Strategi”, padahal itu adalah kelemahan internal. Ia seperti demam yang menggerogoti tubuh dari dalam, atau pandangan yang perlahan kabur. Bayangkan sebuah tali timba yang terus bergesek pada katrol besi. Setiap kali ditarik, helai-helai benangnya menipis. Gesek lagi, menipis lagi. Sedikit demi sedikit, tali itu kehilangan kekuatannya.

Itulah kejujuran kita yang dikikis oleh kebohongan-kebohongan kecil “Demi perlindungan diri”. Kita tidak menjadi pembohong dalam semalam; kita menjadi pembohong karena tali prinsip kita telah aus dan hampir putus.

Ironisnya, seorang Khawwan berbohong karena ingin “Membela diri”. Mereka pikir dengan menipu, mereka akan selamat. Mereka lupa bahwa Allah-lah satu-satunya yang benar-benar membela (Yudafi’u).

Di sinilah letak sifat Kafur—sangat tidak bersyukur. Kita mengejar perlindungan manusia, tapi mengabaikan perlindungan Sang Khalik. Kita mengejar simpati makhluk, tapi membuang kasih sayang Allah.

Sering kali, alasan kita berkhianat pada kebenaran adalah “Loyalitas”. Kita lebih takut pada amarah ibu, tapi abai pada murka Pencipta ibu. Kita lebih takut dikucilkan paman yang berkuasa, tapi tidak takut pada Tuhan yang memegang nyawa paman itu.

Renungkanlah dalam hati, “Aku tidak apa-apa Allah marah, asal ibuku tidak marah. Aku tidak peduli Allah murka, yang penting pamanku tetap mendukungku.”

Bukankah ini adalah bentuk “Syirik” yang tersembunyi? Kita lebih takut pada manusia yang fana daripada Dia Yang Maha Membela. Kita pikir dengan berbohong demi keluarga, kita sedang menyelamatkan harmoni. Padahal, kita sedang menghancurkan satu-satunya jangkar yang bisa menyelamatkan kita di hari Kiamat.

Sidang Jumat yang Dirahmati Allah

Siapa yang kita pilih? Manusia yang tidak punya kuasa apa-apa, atau Allah yang memegang kendali semesta? Saat kita memilih kejujuran meski itu pahit, kita sedang mengundang pembelaan Allah. Saat kita memilih kebohongan, kita mungkin mendapatkan dunia, tapi kita kehilangan cinta-Nya. Dan apa artinya dunia, jika Allah tidak lagi mencintai kita?

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

                                                             Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ رَسُولِ ٱللَّهِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ

أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى ٱللَّهِ، فَقَدْ قَالَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْكَرِيمِ

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

أَمَّا بَعْدُ

Sidang Jumat yang Dirahmati Allah

Kebohongan dan pengkhianatan (Khawwan) adalah tali yang sudah lapuk dan menipis. Seseorang mungkin merasa aman memegangnya sekarang, tapi saat badai ujian datang, tali itu akan putus dengan suara yang memilukan, dan seseorang tersebut akan jatuh ke dasar sumur kehinaan.

Sebaliknya, kejujuran dan iman adalah ‘Urwatul Wuthqa, seperti rantai jangkar kapal yang sangat besar dan berat. Ia tidak akan patah. Ia tidak akan goyah. Ia akan menahan Anda tetap teguh meski gelombang kehidupan menghantam dengan dahsyatnya.

Maka, kita pegang rantai itu. Jangan kita lepaskan. Meski kejujuran itu membuat kita tampak kalah hari ini, namun ketahuilah bahwa dibalik kejujuran itu ada pembelaan Allah yang tak terkalahkan. Mari kita tutup khutbah Jumat ini dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد

“Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari sifat khianat dan lisan kami dari kebohongan. Janganlah Engkau jadikan kami bagian dari golongan yang kehilangan cinta-Mu karena kami lebih takut kepada manusia daripada kepada-Mu.

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang jujur, yang memegang teguh tali agama-Mu, dan berikanlah kami pembelaan-Mu di dunia maupun di akhirat.”

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًااللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِوَالِدِينَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِي الدِّينِ، وَعَافِيَةً فِي الْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ، وَبَرَكَةً فِي الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَاحَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ.

اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِي سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ، وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ, وسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ولَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ،

Leave a reply

Previous Post

Next Post

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...