
Oleh: Bima Setya Dharma
Hidup di dunia ini sering kali membuat kita terlena dalam hiruk-pikuk rutinitas yang seolah tanpa batas, hingga kita lupa bahwa setiap detik yang kita lalui sebenarnya sedang berjalan menuju satu titik akhir. Kelak, saat semua kesibukan dunia ini usai, kita tidak hanya akan kembali, melainkan juga akan dimintai pertanggungjawaban atas segala hal yang telah diamanahkan kepada kita. Sebelum melangkah lebih jauh dalam mengarungi sisa waktu yang kita miliki, ada baiknya kita merenungkan sebuah pesan mendalam dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjadi pengingat sekaligus kompas bagi setiap langkah kita ke depan. Rasulullah Shallalalhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لا تَزولُ قَدَمَا عَبْدٍ يومَ القيامةِ، حتَّى يُسأَلَ عن عُمُرِه؛ فيمَ أفناه؟ وعن عِلْمِه؛ فيم فعَلَ فيه؟ وعن مالِه؛ من أين اكتسَبَه؟ وفيم أنفَقَه؟ وعن جِسمِه؛ فيمَ أبلاه؟
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang: Umurnya, untuk apa dihabiskan? Ilmunya, untuk apa diamalkan? Hartanya, dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan? Serta tubuhnya, untuk apa digunakan?” (HR. At-Tirmidzi).
Dalam sebuah pesan ini, Rasulullah mengingatkan bahwa kelak di Padang Mahsyar, tidak akan bergeser atau beranjak setapak pun kaki seorang hamba dari hadapan Allah, sampai ia selesai menjawab pertanyaan tentang empat hal besar dalam hidupnya. Pertanyaan-pertanyaan ini adalah kunci yang harus kita siapkan jawabannya sejak sekarang, yaitu:
1. Umur: Di mana kita habiskan?
Umur kita sebenarnya adalah modal utama dalam perjalanan menuju Allah. Umur yang kita miliki adalah waktu yang terus berkurang setiap detiknya, namun di sanalah peluang kita untuk mengumpulkan bekal akhirat. Dalam hadits tadi, pertanyaan pertama yang akan dihadapi adalah:
عن عُمُرِه؛ فيمَ أفناه؟
“Tentang umurnya, untuk apa ia habiskan?”
Allah akan menanyakan setiap jatah waktu dan fase kehidupan yang telah kita lalui, hal-hal apa saja yang kita kerjakan, serta bagaimana cara kita memanfaatkan waktu luang yang diberikan-Nya.
Penting bagi kita untuk menyadari bahwa kehadiran kita di dunia ini bukan sekadar kebetulan atau tanpa tujuan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
اَفَحَسِبْتُمْ اَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّاَنَّكُمْ اِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ
“Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115).
Ayat ini menegaskan, bahwa kita diciptakan sebagai hamba Allah dengan tugas dan tanggung jawab yang nyata. Umur yang kita miliki adalah kesempatan untuk menjalankan kewajiban tersebut. Siapa yang bersungguh-sungguh mengisi waktunya dengan ketaatan, maka balasan pahala telah menanti. Namun sebaliknya, bagi mereka yang menyia-nyiakan waktu hanya untuk kesia-siaan, kelak mereka akan merasa rugi saat harus mempertanggungjawabkan setiap embusan napasnya di hadapan Allah.
2. Ilmu: Sudahkah diamalkan?
Pertanyaan kedua yang akan menghentikan langkah kita adalah tentang ilmu. Dalam Islam, ilmu bukanlah sekadar tumpukan informasi atau wawasan luas yang kita koleksi di kepala. Hakikat ilmu adalah cahaya (nur) yang menuntut pembuktian melalui amal perbuatan.
Rasulullah pernah mengingatkan kita dengan kalimat yang sangat tegas:
الْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“Al-Qur’an itu akan menjadi hujjah yang membelamu atau yang akan menuntutmu.” (HR. Muslim).
Kalimat ini mengandung makna yang dalam bagi kita. Jika kita membaca, mempelajari, dan berusaha mengamalkannya, maka ilmu tersebut akan menjadi pembela yang menyelamatkan kita di hari kiamat. Namun, jika ilmu itu hanya dibiarkan tanpa diamalkan, atau dibaca tanpa dipedulikan isinya, ia justru akan menjadi saksi yang memberatkan dan membawa kerugian besar bagi pemiliknya.
Allah tidak hanya bertanya seberapa banyak yang kita ketahui, tapi apa “buah” dari pengetahuan tersebut dalam keseharian kita? Mengetahui banyak hal bukanlah jaminan keselamatan, melainkan bisa menjadi beban hisab jika tidak ada satu pun yang mendarat menjadi tindakan nyata.
Mungkin tebersit di pikiran kita, “Kalau begitu, lebih baik saya tidak usah belajar agama saja supaya tidak banyak ditanya?” Tentu ini pemikiran yang keliru. Ada perbedaan besar antara orang yang memang tidak tahu karena keterbatasan, dengan orang yang tidak mau tahu karena sengaja menghindar dari kewajiban. Menuntut ilmu tetaplah kewajiban, namun tugas kita selanjutnya adalah memastikan ilmu itu tidak berhenti di lisan, tapi mengalir hingga ke tangan dan hati.
3. Harta: Dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan?
Berbeda dengan poin lainnya, urusan harta memiliki dua pertanyaan sekaligus: Dari mana kita mendapatkannya dan ke mana kita mengeluarkannya. Hakikatnya, sumber harta adalah penentu utama keberkahan hidup kita. Harta yang diperoleh dengan cara yang salah tidak hanya akan membebani hisab di akhirat, tetapi juga dapat menutup pintu doa dan ketenangan hati selama di dunia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan panduan yang sangat jelas dalam Al-Qur’an:
فَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّاشْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
“Makanlah sebagian apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu sebagai (rezeki) yang halal lagi baik dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. An-Nahl: 114).
Pesan ini mengajak kita untuk sangat berhati-hati. Halal bukan hanya soal zat makanannya seperti menghindari daging yang diharamkan, tetapi juga tentang cara memperolehnya. Apakah dari hasil kerja keras yang jujur, ataukah ada hak orang lain yang terambil secara tidak sah?
Selain itu, kita diminta untuk membelanjakan harta tersebut sesuai tuntunan-Nya, bukan untuk bermegah-megahan atau kemaksiatan, melainkan untuk kebaikan keluarga dan sesama. Inilah wujud iman yang sesungguhnya, menyadari bahwa harta hanyalah titipan yang setiap rupiahnya akan ditanya asal-usul dan tujuannya.
4. Tubuh: Untuk apa digunakan?
Terakhir, kita akan ditanya tentang fisik yang selama ini kita banggakan. Pada hakikatnya, jasad ini adalah amanah, bukan milik pribadi yang bisa kita gunakan sesuka hati. Mungkin di dunia kita bisa berdalih atau menyembunyikan perbuatan kita di balik kata-kata manis, namun di hadapan Allah nanti, keadaannya akan sangat berbeda.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan momen mendebarkan itu dalam Al-Qur’an:
اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Pada hari ini Kami membungkam mulut mereka. Tangan merekalah yang berkata kepada Kami dan kaki merekalah yang akan bersaksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Yasin: 65).
Pada hari itu, mulut yang biasanya pandai bersilat lidah akan dikunci rapat. Allah tidak lagi mendengar pembelaan dari lisan kita, melainkan langsung dari “saksi kunci” yang tidak mungkin berbohong. Tangan kita akan mulai berbicara tentang apa saja yang telah ia jamah dan lakukan. Kaki kita pun akan memberikan kesaksian yang jujur tentang ke mana saja ia melangkah selama di dunia.
Ini adalah momen pengadilan yang paling adil, di mana tidak ada ruang untuk mengelak. Oleh karena itu, mari kita jadikan ini sebagai bahan perenungan. Mata kita, sudahkah ia digunakan untuk melihat kebesaran Allah dan ilmu yang bermanfaat, atau justru asyik memandang hal-hal yang dilarang? Tangan kita, apakah ia banyak membantu dan memberi manfaat, atau justru menyakiti dan mengambil yang bukan haknya? Kaki kita, apakah lebih sering melangkah menuju tempat ibadah dan majelis ilmu, atau justru bersemangat menuju tempat yang sia-sia?
Keempat poin ini menegaskan bahwa hidup kita tidaklah bebas, karena setiap detiknya terikat erat dengan amanah dan hisab. Kita harus menyadari bahwa kelak langkah kita akan tertahan hingga tuntas menjawab pertanggungjawaban atas umur yang telah dihabiskan, ilmu yang telah diamalkan, harta yang diperoleh dan dibelanjakan, serta seluruh anggota tubuh yang telah digunakan dalam keseharian. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang siap menjawab empat pertanyaan tersebut.