
Oleh: Bima Setya Dharma
Khutbah Pertama
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه, اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
فَيَا عِبَادَ الله اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَاللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقٌوْنَ, فقد قال الله تعالى في القرآن الكريم:
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
أَمَّا بَعْدُ
Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah.
Segala puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Subhaanahu wa Ta’aala, yang tak pernah berhenti mengalirkan nikmat kepada kita hingga hari ini. Shalawat beriring salam, semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, serta kita semua umatnya hingga akhir zaman.
Kemudian, tak lupa khatib berwasiat khusus untuk diri khatib pribadi dan juga kepada jamaah sekalian, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala.
Jamaah Shalat Jumat yang Dimuliakan Allah.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah menegaskan dalam Surah Al-Ahzab Ayat 21:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Mengenai ayat yang mulia ini, para ulama menjelaskan, bahwa pada diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terdapat teladan yang sempurna. Beliau mengorbankan seluruh jiwa dan raganya demi menolong agama Allah, sebagaimana yang tampak nyata ketika beliau memimpin para shahabat dalam peristiwa Perang Khandaq.
Saat penggalian parit Khandaq yang begitu berat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak hanya berdiri memberikan perintah. Beliau ikut turun tangan menghantam batu dengan cangkul, ikut memikul tanah bersama para shahabat. Beliau ikut menahan perihnya rasa lapar dan lelahnya berjaga di malam hari. Beliau adalah sosok pemimpin yang tegas sekaligus penuh kasih sayang, tempat para shahabat mengadu ketika menemui jalan buntu.
Jamaah Shalat Jumat yang Dimuliakan Allah.
Kita diajak untuk memahami bahwa akhlak mulia adalah buah nyata dari akidah yang lurus dan ibadah ritual yang kita jalankan. Shalat, puasa, dan zakat yang dikerjakan dengan benar harus memancarkan dampak sosial berupa kebaikan karakter. Keimanan tanpa akhlak ibarat pohon tanpa buah, ia hidup namun tidak memberikan manfaat bagi sekitarnya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman dalam Surah Al-Ankabut ayat 45:
اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar.” (QS. Al-Ankabut: 45).
Melalui ayat ini, Allah memerintahkan kita untuk terus menunaikan shalat dengan cara yang dicintai-Nya. Shalat yang didirikan tepat waktu, diiringi rasa khusyu’ dan keikhlasan secara alami akan mencegah pelakunya dari perbuatan fahsya’. Yaitu segala keburukan dalam ucapan dan perbuatan. Dan juga mencegah dari perbuatan munkar. Yaitu segala hal yang ditolak oleh syariat dan akal sehat.
Jamaah Shalat Jumat yang Dimuliakan Allah.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menjadi tauladan kita dalam berperilaku jujur. Kejujuran adalah salah satu akhlak paling mulia dan paling tinggi derajatnya, yang menjadi sebab terbesar bagi seorang hamba untuk meraih keberuntungan serta keselamatan di dunia dan akhirat. Dalam interaksi sosial, dunia kerja, hingga dunia bisnis, kejujuran merupakan modal utama yang berlaku sepanjang zaman. Sifat inilah yang membuat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendapatkan gelar Al-Amin (sosok yang terpercaya), bahkan jauh sebelum beliau diangkat menjadi seorang Rasul.
Pentingnya sifat ini ditegaskan secara langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sabdanya:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun ke surga.” (HR. Muslim).
Jamaah Shalat Jumat yang Dimuliakan Allah.
Kemudian kita diajak untuk meneladani kelembutan, kelapangan hati, serta kemampuan memaafkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di tengah kehidupan yang sering kali memicu amarah dan perpecahan, beliau hadir mengajarkan kita untuk mengikis sifat dendam dan ketajaman lisan dengan cara membalas keburukan menggunakan kebaikan.
Kelembutan kepemimpinan beliau, diabadikan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala dalam Surah Ali ‘Imran Ayat 159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ
“Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Ketegasan yang ditempatkan bukan pada porsinya hanya akan mencerai-beraikan, melemahkan, dan merusak persatuan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ
“Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Seandainya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah sosok yang bertabiat buruk, bersikap kasar, kaku dalam kata dan perbuatan, serta berhati keras tanpa peduli pada penderitaan shahabatnya, niscaya para shahabat akan lari menjauh dan tidak akan pernah merasa tenang di dekat beliau. Ayat ini secara tegas menepis sifat kasar dan keras hati dari diri Nabi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sepenuhnya bersih dari seluruh keburukan tersebut. Karena kelembutan dan kesucian hati beliaulah, dakwah beliau bisa sampai dan diterima di berbagai belahan dunia.
Jamaah Shalat Jumat yang Dimuliakan Allah.
Di samping berikhtiar secara nyata, hendaklah kita memohon kebaikan akhlak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana doa yang senantiasa dibaca oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
اللَّهُمَّ أَحْسَنْتَ خَلْقِي فَأَحْسِنْ خُلُقِي
“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperbagus rupa fisikku, maka perbaguslah pula akhlakku.” (HR. Ahmad).
Doa ini adalah bentuk permohonan hamba agar Allah menyempurnakan nikmat-Nya secara utuh. Yaitu dengan menyempurnakan kualitas agamanya sebagaimana Allah telah menyempurnakan bentuk fisiknya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing hati kita, melembutkan tutur kata kita, dan menghiasi seluruh jalan hidup kita dengan keanggunan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.
بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ رَسُولِ ٱللَّهِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ
أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى ٱللَّهِ، فَقَدْ قَالَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْكَرِيمِ
يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
أَمَّا بَعْدُ
Jamaah yang Dimuliakan Allah.
Marilah di khutbah kedua ini, kita berdoa kepada Allah, memohon ampunan dan Rahmat-Nya.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
اَللَّهُمَّ اَهْدِنَا لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِي لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ.
اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ وَالأَدْوَاءِ.
اَللَّهُمَّ كَمَا حَسَّنْتَ خَلْقَنَا فَحَسِّنْ أَخْلاَقَنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ, وسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ولَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ،