4 Rahasia Menjadi Hamba Terbaik

YahyaNasehat Kehidupan1 hour ago8 Views

Oleh: Bima Setya Dharma

Setiap kita tentu mendambakan gelar “Hamba terbaik” di hadapan Sang Pencipta.  Namun, mari sejenak kita bertanya pada diri sendiri, bagaimana cara kita mengukur kebaikan selama ini? Seringkali, tolak ukur yang kita pakai masih sebatas hal-hal yang kasat mata. Kita menganggap orang yang paling mulia adalah mereka yang rakaat shalat malamnya paling panjang, atau yang puasa sunnahnya tidak pernah absen setiap minggunya.

Tentu saja, ibadah ritual tersebut sangat mulia dan berharga. Namun, apakah hanya sebatas itu ukuran seorang hamba terbaik di hadapan Allah? Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan petunjuk tentang bagaimana menjadi hamba yang paling unggul, bukan hanya di mata Allah, tetapi juga di tengah-tengah manusia. Beliau bersabda:

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ، وَكُنْ قَنِعًا تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ، وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا، وَأَحْسِنْ جِوَارَ مَنْ جَاوَرَكَ تَكُنْ مُسْلِمًا، وَأَقِلَّ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

“Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara’ (berhati-hati dari maksiat dan syubhat), niscaya engkau menjadi orang yang paling beribadah. Jadilah orang yang qana’ah (merasa cukup), niscaya engkau menjadi orang yang paling bersyukur. Cintailah untuk orang lain apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi mukmin sejati. Berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi muslim sejati. Dan sedikitkanlah tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. Ibn Majah)

Menjadi hamba terbaik ternyata tidak selalu soal menambah deretan angka rakaat atau porsi puasa, melainkan tentang menata kualitas hati, menjaga sikap, serta menebar kebaikan kepada sesama di kehidupan sehari-hari.

Agar kita dapat memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, mari kita bedah satu per satu 4 pilar utama beserta 1 pengingat penting berikut ini.

Pilar Pertama: Sifat Wara’

Pilar pertama yang ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah perintah untuk memiliki sifat wara’. Secara sederhana, wara’ adalah sikap hati-hati dalam melangkah, yaitu meninggalkan hal-hal yang samar (syubhat) karena khawatir jatuh ke dalam perkara yang haram. Seseorang yang menjaga kehati-hatian ini dikatakan oleh Nabi sebagai “Orang yang paling beribadah” (a’badan naas). Sebab, ketika seseorang sungguh-sungguh menjauhi keharaman, ia secara otomatis akan tegak menjalankan kewajiban-kewajiban yang Allah perintahkan. Untuk memahami pentingnya menjaga diri ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan batas yang sangat jelas dalam sabdanya:

الحَلالُ بَيِّنٌ، والحَرامُ بَيِّنٌ، وبينَهما مُشَبَّهاتٌ لا يَعلَمُها كَثيرٌ مِنَ النَّاسِ، فمَنِ اتَّقى المُشَبَّهاتِ استَبرَأ لدينِه وعِرضِه

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barangsiapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, sungguh ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya.” (HR. Muslim).

Pilar Kedua: Sifat Qana’ah

Pilar kedua yang diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah perintah untuk menggembleng jiwa dengan sifat qana’ah. Secara sederhana, qana’ah adalah rasa ridho, merasa cukup dengan apa yang Allah takdirkan, serta berlapang dada atas segala rezeki yang diterima tanpa meratapi apa yang telah berlalu. Seseorang yang memiliki sifat ini digelari oleh Nabi sebagai “Orang yang paling bersyukur” (asykaran naas). Sebab, siapa saja yang ridho dengan pembagian Allah dan tidak menggantungkan hatinya pada apa yang dimiliki orang lain, Allah akan memenuhi hati dan kedua tangannya dengan kecukupan.

Untuk mempertegas hakikat dari kecukupan dan kekayaan yang sebenarnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan itu bukanlah dari banyaknya harta benda, melainkan kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa (rasa merasa cukup).” (HR. Bukhari & Muslim).

Kunci utama dari rasa syukur bukanlah terletak pada seberapa melimpahnya harta yang kita genggam, melainkan pada seberapa tenang dan lapangnya hati kita dalam menerima ketetapan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang jiwanya tidak memiliki sifat qana’ah akan selalu diburu oleh rasa kurang dan haus dunia yang tak pernah tuntas, meskipun seluruh isi bumi berhasil ia kuasai.

Pilar Ketiga: Empati dan Kasih Sayang

Pilar ketiga yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah perintah untuk melapangkan dada dengan rasa empati serta kasih sayang kepada sesama. Secara mendalam, sifat ini diwujudkan dengan mengharapkan kebaikan dan kebahagiaan bagi saudara muslim sebagaimana kita mengharapkannya untuk diri sendiri dan keluarga kita. Begitu pula sebaliknya, kita turut merasa enggan jika hal-hal buruk menimpa mereka. Seseorang yang memiliki kelapangan jiwa seperti ini diganjar oleh Nabi sebagai “Seorang mukmin yang sejati”.

Untuk menegaskan bahwa iman tidak cukup hanya bersemayam dalam ibadah ritual pribadi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari & Muslim).

Iman bukanlah sekadar hubungan vertikal antara seorang hamba dengan Allah semata, melainkan juga terpancar melalui hubungan horizontal dalam memperlakukan sesama.

Pilar Keempat: Akhlak kepada Tetangga

Pilar keempat yang ditekankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah perintah untuk berbuat baik kepada tetangga (ihsan ilal jar). Berbuat baik di sini mencakup segala bentuk kebaikan, baik berupa tutur kata yang santun, kepedulian sikap, bantuan harta, hingga perlindungan dan perhatian. Cakupan tetangga ini tidak hanya terbatas pada orang yang tinggal di samping rumah kita, tetapi juga teman di tempat kerja, rekan saat berada dalam perjalanan, maupun siapa saja yang berada di sekitar kita. Seseorang yang memuliakan tetangganya ditegaskan oleh Nabi sebagai “Seorang muslim yang sejati”.

Mengenai pentingnya memelihara hak tetangga ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Peringatan dari Rasulullah

Setelah meletakkan 4 pilar utama untuk menjadi hamba terbaik yaitu: Menjaga kehati-hatian (wara’), menanamkan rasa cukup (qana’ah), menebarkan kasih sayang kepada sesama, serta memuliakan tetangga di lingkungan terdekat kita, Beliau menutup wasiat mulianya dengan sebuah peringatan yang sangat berharga untuk menjaga kesehatan jiwa kita. Beliau bersabda:

وَأَقِلَّ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

“Dan sedikitkanlah tertawa, karena banyak tertawa itu dapat mematikan hati.” (HR. Ibn Majah).

Larangan di dalam hadits ini bukanlah berarti kita tidak boleh tersenyum atau bersenda gurau sama sekali. Yang dimaksud oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah sikap tertawa yang berlebihan, terbahak-bahak, dan dijadikan kebiasaan hingga melampaui batas. Sifat suka tertawa berlebihan ini dapat menyebabkan seseorang tenggelam dalam kelalaian. Jika hati yang hidup dibiarkan terus-menerus larut dalam kelalaian berlebihan, maka kelamaan akan mati. Dan jika hati itu sudah mati, ia akan semakin gelap dan keras sehingga sulit menerima kebenaran dan nasehat. Semoga

Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita untuk menghidupkan 4 kebaikan ini dan melindungi kita agar terhindar dari kelalaian yang mematikan hati. Aamiin.

Leave a reply

Previous Post

Next Post

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...