Berdarah Demi Merdeka

YahyaKhutbah Jumat9 hours ago17 Views

Oleh: Muhammad Fawwaz Al Ghozy, B.A., S.Pd.

Khutbah Pertama

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

إِنَّ الْحَمْد للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ وَمْنْ يَضْلُلُ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدُهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَمَّا بَعْدُ

عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْد

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Alhamdulillahirabbil’alamiin. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, atas segala limpahan nikmat yang diberikan kepada kita semua. Di antaranya berupa nikmat keislaman, keimanan, kesehatan, serta kesempatan, sehingga kita pun dapat mendatangi masjid ini untuk memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam rangka melaksanakan sholat Jumat.

Shalawat dan salam, semoga senantiasa tercurah kepada Nabiyullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, keluarganya, shahabatnya, serta umatnya yang taat hingga akhir zaman.

Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan jamaah sekalian, untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa. Dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. ‘Ali Imran: 102).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Sangat banyak nikmat Allah Azza wa Jalla yang telah Dia curahkan dan hamparkan kepada hamba-hamba-Nya. Allah berfirman:

وَاَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهٗ ظَاهِرَةً وَّبَاطِنَةً

“Dan Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin.” (QS. Luqman: 20).

Dan Allah juga berfirman:

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗ

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18).

Dan di antara nikmat Allah yang agung dan mulia itu adalah nikmat kemerdekaan dan kebebasan. Nikmat ini benar-benar akan dirasakan nilainya oleh mereka yang pernah dirampas kemerdekaannya. Mereka yang pernah hidup dalam masa penuh kekurangan, yang pernah merasakan pahitnya kehinaan dan perbudakan, dan yang pernah menderita sengsara di bawah cengkeraman penjajahan.

Maka, orang-orang seperti inilah, ketika tiba peringatan hari kemerdekaan, mereka bersyukur kepada Allah karena telah menyelamatkan mereka dari penindasan penjajah. Mereka bergembira dengan pertolongan Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَيَوْمَىِٕذٍ يَّفْرَحُ الْمُؤْمِنُوْنَۙ

بِنَصْرِ اللّٰهِ ۗيَنْصُرُ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ

“Dan pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Perkasa, Maha Penyayang.” (QS. Ar-Rum: 4-5).

Adapun orang-orang yang sejak lahir sudah menikmati kemerdekaan dan kebebasan, dan tidak pernah diajarkan tentang betapa besarnya nikmat ini, maka bisa jadi peringatan hari kemerdekaan itu tidak berarti apa-apa bagi mereka. Satu-satunya yang mengingatkan mereka hanyalah karena hari kemerdekaan 17 Agustus adalah hari libur.

Lebih buruk lagi adalah orang-orang yang meremehkan nikmat ini. Mereka tidak melihat bahwa kemerdekaan itu layak untuk disyukuri. Karena bagi mereka, penjajah memang sudah pergi dari tanah airnya, tapi belum pergi dari hati dan lisan mereka. (baca: londo ireng)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Sesungguhnya kemerdekaan itu bukan hanya sekadar mengembalikan tanah dan kebebasan sebuah bangsa saja. Tetapi kemerdekaan adalah kemuliaan agama kita yang dulu telah direncanakan oleh penjajah untuk diserang dan dihapuskan dari muka bumi ini.

Hal ini pernah diungkapkan oleh kolonial Perancis pada peringatan 100 tahun penjajahan di negara Aljazair, dengan berkata:

إِنَّنَا لَا نَحْتَفِلُ بِمُرُورِ قَرْنٍ عَلَى احْتِلَالِ الْجَزَائِرِ، وَلَكِنَّنَا نَحْتَفِلُ بِجِنَازَةِ الْإِسْلَامِ فِي الْجَزَائِرِ

“Kita tidak merayakan 100 tahun penjajahan Aljazair, tetapi kita merayakan pemakaman Islam di Aljazair.”

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Menyebut kemerdekaan sebagai “nikmat” bukanlah majaz atau kiasan, tetapi itu adalah sebuah kenyataan. Hal ini disaksikan langsung oleh wahyu, dan wahyu adalah saksi yang paling benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an yang mulia:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ هَمَّ قَوْمٌ اَنْ يَّبْسُطُوْٓا اِلَيْكُمْ اَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ اَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu, lalu Allah menahan tangan mereka dari kamu.” (QS. Al-Maidah: 11).

Maka maksud dari “hendak menggerakkan tangan” adalah penjajahan dan perampasan kebebasan. Sedangkan “Allah menahan tangan mereka” adalah nikmat kebebasan dan kemerdekaan yang Allah anugerahkan kepada kita. Dan Allah memerintahkan kita untuk mengingatnya dalam firman-Nya:

 اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Ingatlah nikmat Allah kepadamu.” (QS. Al-Maidah: 11).

Mengingatnya berarti menghidupkannya, dan mensyukurinya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Semua nikmat, khususnya nikmat kemerdekaan, mewajibkan kita untuk bersyukur kepada Sang Pemberi Nikmat, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala terlebih dahulu. Kemudian juga bersyukur kepada orang-orang yang Allah jadikan sebagai sebab datangnya nikmat itu, yaitu para syuhada dan para mujahidin. Mereka yang telah mengorbankan sesuatu yang paling mahal dan paling berharga demi meraih kemerdekaan dan mengembalikan kedaulatan bangsa.

Dan barangsiapa ingin merasakan nikmatnya rasa aman, kebebasan, dan kemerdekaan, maka hendaklah ia melihat apa yang sedang diderita oleh saudara-saudara kita di Gaza yang terluka akibat penjajahan Zionis. Berupa penghancuran, pengusiran, pembunuhan, kelaparan, pelukaan, penindasan, penyiksaan, pemboman, dan pengungsian.

Semua ini pernah terjadi di Indonesia. Namun dengan karunia Allah, kemudian dengan pengorbanan yang besar, Indonesia menang dan merdeka.

Dan dengan ijin Allah, Palestina pada saatnya akan merdeka. Gaza akan aman, dan Baitul Maqdis akan kembali ke pangkuan Islam dan kaum muslimin. Dengan karunia Allah, Tuhan semesta alam.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ رَسُولِ ٱللَّهِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ

أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى ٱللَّهِ، فَقَدْ قَالَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْكَرِيمِ

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Sebagaimana bersyukur atas nikmat akan mendatangkan tambahannya, maka kufur terhadap nikmat akan menyebabkan hilangnya nikmat itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً اَنْعَمَهَا عَلٰى قَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۙ

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Anfal: 53).

Dan termasuk bentuk bersyukur kepada Allah atas nikmat kemerdekaan dan kebebasan adalah menjaga tanah air para syuhada, menjaga segala potensi dan kekayaannya. Menjaga keamanan, persatuan, dan perbatasannya serta tidak mengkhianatinya.

Termasuk darurat pengkhianatan di negeri kita saat ini yang wajib dicegah adalah:

Pertama: Mengingkari mengaburkan identitas keislaman para pahlawan yang gugur. Karena Indonesia bukan hadiah yang jatuh begitu saja. Ia dibayar dengan darah, air mata, dan doa para syuhada yang gugur dari Sabang sampai Merauke.

Kedua: Menjarah kekayaannya dan merampas sumber dayanya dengan korupsi dana bansos, tambang ilegal, menebang hutan sembarangan, serta menjual aset negara tanpa perhitungan untuk rakyat.

Ketiga: Menginjak-injak hukum, melanggar hak-hak rakyat, dan merusak sektor publik dengan suap, pungli, melanggar aturan demi kepentingan pribadi, serta membiarkan sektor publik seperti pendidikan dan kesehatan rusak karena niat yang tidak lurus.

Dan berbagai bentuk pengkhianatan lainnya. Semuanya bermuara pada satu penyakit, yakni kufur terhadap nikmat kemerdekaan dan kebebasan serta tidak mensyukurinya. Maka, bersyukurlah kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Allah akan tambahkan nikmat-Nya, dan mohonlah ampun kepada-Nya, sebab Allah Maha Pengampun. Mari kita akhiri khutbah Jumat ini dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِيْنَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَقِمِ الصَّلَاة


Leave a reply

Previous Post

Next Post

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...