Membersamai, Menanam Harapan untuk Anak-Anak Yatim

YahyaUncategorized3 hours ago9 Views

Ada orang-orang yang memilih memberikan waktunya bukan karena memiliki banyak waktu, tetapi karena meyakini bahwa setiap waktu yang diberikan untuk kebaikan akan menjadi bagian dari amal yang terus tumbuh. Salah satunya adalah Ibu Nurhayati, seorang ustadzah yang telah membersamai anak-anak Yatim Brilian selama kurang lebih 12 tahun. Alhamdulillah pada kesempatan 8 September 2026, Ibu Nurhayati dapat berbagi kisahnya pada acara podcast di Ghra Wakaf FKAM.

Ibu Nurhayati sejak tahun 2014 bersama empat pembina lainnya dengan keahlian yang berbeda saling melengkapi dalam mendampingi para santri. Berawal dari 17 santri, perjalanan pembinaan terus berlangsung hingga kini tersisa enam santri yang masih didampingi. Mereka tumbuh bersama dalam perjalanan panjang, dari bangku TK, SD, SMP, SMA, hingga kini beberapa di antara mereka telah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan ada pula yang telah bekerja.

Bagi Ibu Nurhayati dan para pembina, membersamai mereka bukan sekadar menjalankan sebuah kegiatan pembinaan. Ada harapan besar yang ingin ditanamkan: agar anak-anak tersebut tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan salehah, di mana pun mereka berada. Kebersamaan yang terjalin pun tidak semata-mata karena sebuah program, tetapi karena keyakinan bahwa Allah telah mempertemukan mereka dalam sebuah kebaikan.

Di tengah kesibukannya sebagai seorang guru di MAN 2 Surakarta yang mengajar sejak pagi hingga sore, Ibu Nurhayati tetap meluangkan waktu untuk mendampingi anak-anak Yatim Brilian. Setiap hari Ahad, waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarga, ia dedikasikan untuk kegiatan pembinaan. Bahkan, di tengah tanggung jawabnya sebagai seorang ibu dengan empat orang anak, masih ada ruang di hatinya untuk mendidik dan membersamai anak-anak orang lain.

Bagi seorang ibu, mendidik bukan hanya tentang mengajarkan ilmu. Lebih dari itu, mendidik adalah tentang menghadirkan perhatian, keteladanan, nasihat, dan doa. Dua belas tahun tentu bukan waktu yang singkat. Ada lelah yang mungkin tidak selalu terlihat, ada waktu yang harus dikorbankan, dan ada banyak cerita yang mungkin tidak semuanya dapat diceritakan. Namun, semua itu dijalani dengan satu harapan: semoga anak-anak yang didampingi tumbuh menjadi generasi yang baik dan kelak menjadi bagian dari keluarga Allah di dunia, dan tentu di akhirat.

Perjalanan Ibu Nurhayati bersama Yatim Brilian menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Terkadang, kebaikan adalah tentang kesediaan untuk hadir setiap pekan. Tentang meluangkan waktu ketika kita sendiri memiliki banyak kesibukan. Tentang memilih mendidik anak-anak yang bukan darah daging kita, tetapi kita cintai karena Allah.

Dua belas tahun telah berlalu. Anak-anak itu tumbuh, sebagian telah dewasa, melanjutkan pendidikan, dan menapaki kehidupan mereka masing-masing. Namun, jejak pembinaan dan kasih sayang dari orang-orang yang pernah membersamai mereka akan menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tidak mudah dilupakan.

Semoga setiap ilmu yang diajarkan, setiap waktu yang diberikan, setiap nasihat yang disampaikan, dan setiap doa yang dipanjatkan menjadi amal jariyah bagi Ibu Nurhayati dan seluruh pembina Yatim Brilian. Sebab, boleh jadi anak-anak yang hari ini mereka dampingi adalah bagian dari investasi kebaikan yang akan terus mengalir hingga kehidupan setelah dunia.

Leave a reply

Previous Post

Next Post

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...