
Oleh: Bima Setya Dharma
Saat badai ujian datang menerpa, salah satu pertanyaan yang paling sering terbersit di dalam benak kita adalah, “Mengapa Allah memberi cobaan seberat ini kepada saya?” Pertanyaan ini wajar muncul saat hati sedang rapuh. Kita melihat di sekeliling kita atau mungkin diri kita sendiri, ada yang tiba-tiba kehilangan pekerjaan di saat kebutuhan keluarga sedang tinggi-tingginya. Ada yang harus merelakan kepergian orang tua tercinta untuk selamanya. Ada yang diuji dengan penyakit yang tak kunjung sembuh bertahun-tahun, terlilit utang yang mencekik, gagal membangun rumah tangga, atau terjebak dalam berbagai labirin kesulitan hidup lainnya.
Ketika beban itu terasa begitu menghimpit dada, tidak sedikit dari kita yang mulai merasa kesepian, putus asa, bahkan terbisikkan prasangka buruk bahwa Allah telah meninggalkan kita sendirian. Padahal, Islam mengajarkan sebuah kaidah yang sangat indah dan menenangkan hati. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ الْمَعُونَةَ تَأْتِي مِنَ اللَّهِ عَلَى قَدْرِ الْمَؤُونَةِ، وَإِنَّ الصَّبْرَ يَأْتِي عَلَى قَدْرِ الْمُصِيبَةِ
“Sesungguhnya pertolongan dari Allah datang kepada seorang hamba sebanding dengan beratnya beban yang dipikulnya. Dan kesabaran yang Allah berikan datang sebanding dengan besar musibah yang menimpanya.” (HR. Al-Baihaqi).
Kalimat ini adalah pelukan hangat bagi setiap hati yang sedang terluka. Artinya, Allah tidak pernah mengirimkan musibah tanpa mengirimkan bekal untuk menghadapinya.
Sering kali, ketika kita meminta pertolongan kepada Allah, yang ada di bayangan kita adalah masalah tersebut harus langsung lenyap seketika. Kita berharap utang langsung lunas besok pagi, penyakit langsung sembuh hari ini, atau masalah pelik tiba-tiba selesai begitu saja. Namun, kita perlu menyadari, bahwa bentuk pertolongan Allah memiliki makna yang sangat luas dan tidak selalu berupa hilangnya sebuah ujian dengan cepat. Tetapi, pertolongan Allah sering hadir dalam bentuk yang berbeda namun sangat menguatkan diri kita, seperti hati yang mendadak tenang di tengah masalah, atau munculnya solusi dari arah yang tak disangka-sangka, atau munculnya orang-orang baik untuk membantu kita. Itulah sejatinya pertolongan Allah.
Banyak orang mengira, bahwa sabar hanyalah sifat bawaan sejak lahir. Padahal, sabar sebenarnya adalah sebuah karunia yang bisa digapai oleh siapa saja apabila dia mengusahakannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ
“Barang siapa berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya orang yang sabar.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kalimat ini mendidik kita, bahwa sabar memerlukan perjuangan di awal. Ketika seorang hamba mau memaksa dirinya, mendidik jiwanya untuk menahan diri, dan tetap bertahan di tengah sempitnya kehidupan atau beratnya ujian dunia, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan memenuhi hatinya dengan rasa sabar tersebut dan menjadikannya sebagai karakter yang melekat.
Itulah mengapa, kita sering kali dibuat takjub saat melihat seseorang yang sedang ditimpa musibah yang luar biasa besar, namun ia justru tampak begitu tenang, tegar, dan ikhlas. Sesungguhnya bukan karena orang tersebut tidak merasakan sedih atau tidak punya rasa sakit, melainkan karena Allah telah mengabulkan ikhtiarnya untuk bersabar. Allah-lah yang kemudian turun tangan langsung untuk mengokohkan hatinya, menuangkan ketenangan ke dalam dadanya, sehingga beban yang terlihat begitu berat di mata orang lain, terasa sanggup ia pikul berkat bantuan dari-Nya.
Ketika musibah datang bertubi-tubi tanpa henti, ketahuilah bahwasanya hal itu bukan karena Allah membenci kita. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya oleh para shahabat tentang siapa manusia yang paling berat ujian hidupnya. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الأنبياءُ ، ثُمَّ الصَّالِحونَ ، ثُمَّ الأَمثَلُ فالأَمثَلُ ، يُبتَلى الرَّجُلُ على حَسَبِ دِينِه ، فإنْ كانَ في دِينِه صَلابَةٌ زِيدَ في بَلائِه ، وإنْ كانَ في دِينِه رِقَّةٌ خُفِّفَ عنه ، ولا يَزالُ البَلاءُ بالمُؤمِنِ حتّى يَمشيَ على الأرضِ وليسَ عليه خَطيئَةٌ
“Para nabi, kemudian orang-orang sholeh, kemudian yang terbaik setelah mereka, lalu yang berikutnya sesuai tingkatannya. Seorang hamba diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika dalam agamanya terdapat keteguhan, maka ditambah ujiannya. Jika dalam agamanya terdapat kelembutan (lemah), maka diringankan darinya. Dan ujian senantiasa menimpa seorang mukmin hingga ia berjalan di muka bumi tanpa membawa dosa sedikit pun.” (HR. At-Tirmidzi).
Hadits ini menjelaskan, bahwa besarnya musibah atau peliknya masalah yang sedang kita hadapi saat ini sama sekali bukanlah tanda bahwa Allah benci atau meninggalkan kita. Sebaliknya, ujian adalah tanda keimanan. Semakin kuat iman dan cinta seorang hamba kepada Allah, maka akan semakin besar pula ujian yang Allah berikan kepadanya. Ujian hidup bukanlah sebuah hukuman, melainkan bentuk kasih sayang dari Allah untuk membersihkan dosa-dosa kita, sekaligus menjadi tanda bahwa Dia sedang mempersiapkan kita untuk naik kelas ke derajat yang jauh lebih mulia dan tinggi di sisi-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memang telah menjanjikan pertolongan bagi setiap hamba-Nya yang beriman, namun pertolongan tersebut tidak akan datang begitu saja tanpa ada usaha untuk menjemputnya. Cara terbaik untuk mengetuk pintu pertolongan-Nya adalah dengan memperbanyak doa yang tulus, serta menjaga ibadah shalat dengan penuh kekhusyukan, terutama di saat-saat hati kita sedang terasa sempit dan sesak oleh beban dunia. Setelah kita melakukan ikhtiar yang maksimal yang dilanjutkan dengan tawakal dengan menyerahkan segala hasil akhir sepenuhnya kepada kehendak Allah, dan juga dibarengi dengan berprasangka baik kepada Allah, kita harus percaya bahwa ketika Allah memperbesar ujian hidup kita, di saat yang sama Dia juga pasti akan memperbesar kekuatan hati kita untuk memikulnya.
Oleh karena itu, janganlah terburu-buru menganggap musibah yang hadir sebagai tanda menjauhnya kasih sayang Allah dari hidup kita. Bisa jadi, justru di balik air mata dan beratnya ujian itulah Allah sedang membimbing kita dengan lembut agar kita bisa lebih mengenal-Nya, lebih bergantung hanya kepada-Nya, dan melepaskan ketergantungan kita pada makhluk. Karena sesungguhnya ujian ini adalah cara Allah untuk mengangkat derajat kita ke tempat yang lebih mulia di sisi-Nya.
Semoga Allah senantiasa menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang penyabar, yang hatinya selalu dipenuhi rasa tawakal, serta selalu diijinkan untuk merasakan kehangatan pertolongan-Nya dalam setiap keadaan. Aamiin.