
Oleh: Bima Setya Dharma
Khutbah Pertama
إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه, اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
فَيَا عِبَادَ الله اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَاللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقٌوْنَ, فقد قال الله تعالى في القرآن الكريم:
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam, yang dengan limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya, kita diberikan nikmat iman dan Islam, serta masih diberi kesempatan untuk berada di momentum Tahun Baru Hijriyah. Sebuah momentum perubahan, lembaran baru yang bersih, yang Allah hadiahkan kepada kita semua.
Shalawat serta salam, semoga senantiasa tercurah kepada baginda tercinta, Sayyidina Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, beserta seluruh keluarga beliau, para shahabat yang mulia, kepada kita semua, serta umatnya hingga akhir zaman.
Dari atas mimbar ini, khatib berwasiat untuk diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, “Ittaqullah…,” marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah. Mari kita memanfaatkan pergantian tahun ini, bukan sekadar sebagai perubahan tahun, melainkan sebagai momentum untuk berhijrah menuju pribadi yang lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sidang Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah.
Mengapa pergantian tahun yang kita peringati hari ini disebut sebagai Tahun Baru Hijriyah? Sejarah mencatat, bahwa penamaan ini merujuk langsung pada peristiwa bersejarah yang teramat agung, yaitu perpindahan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para pengikut beliau dari kota Makkah menuju Madinah. Ketika khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu hendak merumuskan penanggalan Islam, muncullah berbagai usulan. Namun, atas saran dari Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhum, peristiwa hijrah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam inilah yang akhirnya dipilih secara resmi sebagai penanda tahun pertama dalam kalender Islam.
Namun, apakah hijrah hanya sekedar berpindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain? Tentu tidak. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah membuka cara berpikir kita tentang hakikat hijrah yang sesungguhnya, melalui sabda beliau:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ
“Dan orang yang berhijrah yang sebenarnya adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jamaah yang Dimuliakan Allah.
Para ulama menjelaskan hadits ini, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ingin mengajarkan kepada kita, bahwa seorang Muhajir, yaitu orang yang berhijrah secara sempurna, bukanlah orang yang hanya berpindah badan atau tempat tinggal saja.
Hijrah yang dipuji oleh Allah adalah ketika seseorang tidak hanya sanggup meninggalkan lingkungan yang buruk, tetapi ia juga sanggup meninggalkan semua perkara yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka, seorang dikatakan benar-benar hijrah ketika jiwanya benar-benar memutuskan hubungan dengan segala hal yang dibenci dan dilarang oleh Allah. Jika selama ini masih sering menggunjing orang lain, mari berhijrah untuk menjaga lisan. Jika selama ini urusan ibadah masih bolong-bolong, mari berhijrah menuju sholat yang tepat waktu. Di sinilah hakikat hijrah kita di awal Tahun Baru Islam ini dimulai. Dari meninggalkan larangan Allah, menuju keridhoan-Nya.
Jamaah yang Dimuliakan Allah.
Setelah kita memahami bahwa hakikat hijrah adalah meninggalkan larangan Allah, maka pertanyaan besar berikutnya adalah, ke mana arah hijrah kita dan apa sebetulnya tujuan akhirnya? Hijrah memiliki arah yang sangat jelas, dan tujuannya adalah melahirkan ketaqwaan yang sejati di dalam dada kita. Mengenai arah hijrah ini, Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan tanda yang sangat tegas yang terdapat dalam sebuah hadits yang sangat masyhur. Bahwasanya beliau bersabda:
فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ
“Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya benar-benar kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari).
Pada hadits ini disebutkan, “Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ketika kita berniat untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik, tujuan kita harus tunggal, yaitu menuju Allah dan Rasul-Nya. Hijrah kepada Allah, artinya seluruh gerak-gerik perubahan kita didasari demi mencari ridho Allah dan bukan demi pandangan manusia. Sedangkan hijrah kepada Rasul-Nya, artinya dalam proses berbenah diri ini, kita bersungguh-sungguh mengikuti tuntunan dan menaati syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Sidang Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah.
Ketika hijrah yang kita lakukan semata-mata menuju Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan melahirkan buah yang sangat manis, yaitu ketaqwaan. Ketaqwaan inilah yang pada hakikatnya menjadi kunci utama lahirnya kehidupan yang berkualitas, sebuah kehidupan yang diidam-idamkan oleh setiap manusia.
Orang yang bertaqwa akan dianugerahi oleh Allah kedamaian batin dan kelapangan hidup berupa hati yang tenang serta hidup yang penuh berkah. Tak hanya itu, Allah juga menjamin bahwa setiap kali ia menghadapi ujian, ia akan dengan mudah mendapatkan jalan keluar dari arah yang tak disangka-sangka. Janji agung ini Allah abadikan di dalam Al-Qur’an Surah At-Thalaq Ayat 2 dan 3. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ
“Siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).
Para ulama tafsir menjelaskan, bahwa makna sejati dari ayat ini adalah tentang orang yang takut kepada Allah, lalu ia bersegera mengamalkan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang, maka Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap urusan yang memberatkan hidupnya. Allah akan menanamkan keyakinan di dalam hatinya, bahwa apa pun yang telah Allah tetapkan pasti akan terjadi, sehingga hatinya menjadi tenang dan ridho. Kemudian, Allah menyiapkan sebab-sebab datangnya kecukupan hidup dari jalan yang tidak pernah ia sadari, tidak pernah ia duga, dan tidak pernah ia perhitungkan sebelumnya.
Sidang Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah.
Lalu bagaimana cara kita memulai langkah hijrah ini? Sering kali kita memiliki keinginan yang kuat untuk berubah, tetapi kita kebingungan harus memulai dari mana. Langkah pertama dan utama yang harus kita lakukan adalah bertaubat. Kita ketuk pintu ampunan Allah dengan air mata penyesalan dan bertekad kuat untuk tidak mengulangi maksiat itu lagi.
Namun, taubat saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan langkah kedua, yaitu memperdalam ilmu agama. Kita harus meluangkan waktu untuk hadir di majelis ilmu, membaca Al-Qur’an dan memahami syariat-Nya, sebab hijrah yang tidak didasari oleh ilmu akan sangat mudah goyah dan tersesat di tengah jalan.
Kemudian langkah ketiga yang tidak kalah penting adalah memilih teman yang baik. Lingkungan pergaulan memiliki andil yang sangat besar dalam membentuk karakter kita. Carilah sahabat-sahabat sholeh yang jika kita melihat wajahnya, kita menjadi ingat kepada Allah.
Dari ketiga modal inilah, barulah kita masuk ke langkah keempat yang menjadi kunci dari segala perubahan, yaitu istiqomah. Jangan membayangkan bahwa hijrah harus mengubah kita menjadi manusia yang sempurna dalam waktu semalam. Mulailah dari amalan-amalan kecil yang sanggup kita kerjakan, namun kita jaga konsistensinya setiap hari. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling terus-menerus meskipun sedikit.”(HR. Bukhari dan Muslim).
Allah tidak menuntut kita langsung melakukan amalan yang besar dan berat, melainkan Allah sangat mencintai hamba-Nya yang menjaga rutinitas kebaikannya. Lebih baik kita konsisten menjaga sholat fardhu tepat waktu dan membaca Al-Qur’an satu halaman setiap hari, daripada kita beribadah semalam suntuk namun setelah itu kita kembali lalai selama berbulan-bulan.
Semoga kita dimudahkan untuk berhijrah meninggalkan hal-hal buruk yang masih kita lakukan menuju keistiqomahan dalam berbuat amal shaleh. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.
بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ رَسُولِ ٱللَّهِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ
أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى ٱللَّهِ، فَقَدْ قَالَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْكَرِيمِ
يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
أَمَّا بَعْدُ
Jamaah yang Dimuliakan Allah.
Marilah di khutbah kedua ini, kita berdoa kepada Allah, memohon ampunan dan rahmat-Nya. Kita berdoa kepada Rabb Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًااللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِي الدِّينِ، وَعَافِيَةً فِي الْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ، وَبَرَكَةً فِي الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَاحَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ.
اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِي سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ، وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ, وسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ولَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ،