
Oleh: Dr. Muhammad Sri Kalono, S.H., M.Si.
(Ketua Dewan Syura FKAM)
Dari cita-cita yang tercatat pada 2013 hingga lahirnya perguruan tinggi pada 2026, FKAM merawat harapan dengan menyiapkan manusia yang akan menghidupkannya.
Ada cita-cita yang membutuhkan waktu panjang untuk menemukan jalan perwujudannya. Bagi Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM), mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam Surakarta (STAIS) merupakan mimpi besar yang telah dirawat selama 13 tahun. Sebuah ikhtiar untuk memperluas pengabdian kepada umat melalui pendidikan tinggi, yang kini, atas izin Allah, memasuki babak baru.
Pada 7 Oktober 2026, FKAM menerima Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 1198 Tahun 2026 tentang pendirian STAIS. Penyerahan SK kepada Ketua STAIS, Dr. Sri Kalono, S.H., M.Si., menjadi penanda terwujudnya cita-cita yang telah lama diperjuangkan.
Di balik dokumen tersebut, tersimpan perjalanan panjang, harapan yang terus dijaga, kesabaran dalam menanti, serta kesungguhan menyiapkan fondasi keilmuan.
Jejak Cita-cita Sejak 2013
Jejak tertulis mimpi itu dapat ditemukan dalam publikasi FKAM bertanggal 22 Februari 2013 mengenai rencana pembangunan Gedung Dakwah dan Kemanusiaan atau Dakwah and Charity Center (DCC).
Dalam tulisan tersebut, FKAM telah menyebut rencana pendirian sekolah tinggi untuk mencetak kader-kader muslim yang akan menjadi penerus perjuangan. Bahkan, nama STAIS —Sekolah Tinggi Agama Islam Surakarta— sudah tercantum dalam uraian mengenai kegiatan pendidikan yang diharapkan berlangsung di kawasan tersebut.
Saat itu, FKAM menggambarkan kegiatannya yang terus berkembang dari tempat yang sederhana. Kantor yang digunakan merupakan rumah pinjaman seorang dermawan. Dari ruang pengabdian itulah tumbuh gagasan untuk menghadirkan pusat dakwah, pelayanan kemanusiaan, dan pendidikan tinggi dalam satu kawasan.
Gagasan tersebut memperlihatkan arah pandang yang jauh ke depan. Pengabdian kepada umat hendak diteruskan melalui pendidikan yang menyiapkan generasi berilmu, berakhlak, dan mampu memikul tanggung jawab sosial.
Dalam tulisan yang sama, FKAM menghubungkan rencana pembangunan itu dengan harapan akan amal jariah/wakaf, ilmu yang bermanfaat, serta lahirnya anak-anak saleh. Dengan demikian, sejak awal, cita-cita mendirikan STAIS mengandung dimensi keilmuan sekaligus pengabdian.
Merawat Mimpi dengan Menyiapkan Sumber Daya Manusia
Tiga belas tahun merupakan rentang waktu yang panjang. Namun, masa tersebut diisi FKAM dengan ikhtiar yang sangat menentukan bagi masa depan perguruan tinggi, yakni menyiapkan tenaga pengajar.
Melalui dukungan beasiswa, FKAM berinvestasi dalam pendidikan sumber daya manusia. Hingga kini, tujuh orang yang didukung melalui ikhtiar tersebut telah menyelesaikan pendidikan strata tiga dan meraih gelar doktor.
Capaian ini menjadi bagian penting dari kisah berdirinya STAIS. Sebelum memiliki perguruan tinggi sendiri, FKAM telah menyiapkan orang-orang yang diharapkan dapat mengembangkan kehidupan akademiknya.
Saat ini, para doktor tersebut mengajar di berbagai perguruan tinggi. Pengabdian mereka telah memberi manfaat kepada mahasiswa dan masyarakat, sekaligus menjadi ruang untuk memperkaya pengalaman akademik. Pengalaman itu merupakan modal berharga bagi pengembangan STAIS ke depan.
Pilihan menyiapkan tenaga pengajar menunjukkan kesadaran bahwa mutu perguruan tinggi bertumpu pada manusia yang menghidupkannya. Gedung menyediakan ruang belajar, sementara dosen membangun tradisi berpikir, membimbing pencarian ilmu, dan menumbuhkan karakter mahasiswa.
Dalam perjalanan FKAM, dukungan beasiswa tersebut menjadi wujud nyata kesungguhan merawat cita-cita.
Ketika Allah Mengizinkan
Bagi FKAM, terwujudnya STAIS pada 2026 dimaknai sebagai saat ketika Allah mengizinkan amanah itu mulai dikelola. Manusia merencanakan dan mengusahakan; hasilnya hadir pada waktu yang ditetapkan-Nya.
Penantian panjang itu kini dapat dilihat sebagai masa persiapan. Selama cita-cita kelembagaan diperjuangkan, bekal keilmuan dan pengalaman para calon penggeraknya turut bertumbuh.
Karena itu, penerimaan SK pendirian STAIS membawa rasa syukur sekaligus tanggung jawab. Cita-cita yang dahulu dituliskan kini harus diterjemahkan menjadi penyelenggaraan pendidikan yang bermutu, tata kelola yang dapat dipercaya, serta manfaat yang dirasakan mahasiswa dan masyarakat.
Tantangan berikutnya adalah menumbuhkan kampus yang berakar pada nilai-nilai Islam, memiliki tradisi akademik yang kuat, dan mampu menjawab perkembangan zaman, termasuk kebutuhan akan kompetensi digital.
Tujuh doktor yang telah disiapkan menjadi salah satu modal penting dalam perjalanan tersebut. Bekal itu perlu terus dikembangkan melalui kerja bersama, penguatan kelembagaan, dan komitmen menjaga mutu pendidikan.
Tiga belas tahun lalu, STAIS hidup sebagai cita-cita dalam sebuah tulisan dan kesungguhan orang-orang yang memperjuangkannya. Hari ini, cita-cita itu telah memperoleh jalan untuk diwujudkan.
Dengan izin Allah, FKAM kini memikul amanah untuk menjadikan mimpi yang telah lama dirawat itu sebagai rumah ilmu —tempat lahirnya generasi yang membawa manfaat bagi Islam, umat, bangsa dan negara.