Oleh: Dr. Muhammad Isa Anshory, M.P.I.
Suatu ketika, Abu Thalib mengajak Nabi Muhammad pergi ke negeri Syam bersama rombongan kafilah dagang. Pada waktu itu, ia baru berusia dua belas tahun. Pamannya melakukan hal ini karena sangat menyayanginya. Di samping itu, tidak ada pula yang bisa merawatnya apabila ia ditinggalkan sendirian di kota Makkah.
Semula Abu Thalib tidak ingin mengajak Nabi dalam perjalanan itu. Menurut pikirannya, belum patut keponakannya yang masih belia diajak bepergian jauh menembus padang pasir luas di bawah teriknya matahari. Dengan terpaksa, ia putuskan untuk meninggalkan keponakannya sementara waktu. Namun ketika kafilah hendak berangkat, Nabi datang dan menyatakan tekadnya untuk ikut. Abu Thalib tidak bisa menolak. Demikianlah, maka Nabi ikut pergi berniaga ke negeri Syam. Peristiwa ini terjadi pada 583 M. (Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, Jilid 1, hlm. 75).
Selama dalam perjalanan, rombongan Abu Thalib melihat beberapa tanda kekuasaan Allah pada diri Muhammad. Di antara tanda-tanda tersebut adalah kumpulan awan yang menaungi beliau, dahan-dahan pepohonan yang menjadi miring untuk memayungi beliau, dan kabar gembira yang disampaikan oleh pendeta Bahira tentang kenabian beliau.
Bertemu Pendeta Bahira
Tibalah kafilah dagang Abu Thalib di Bushra (sekarang menjadi bagian wilayah Yordania). Di negeri ini ada seorang rahib (pendeta) yang dikenal dengan panggilan Bahira. Nama aslinya sebenarnya adalah Jurjis. Tatkala rombongan singgah di daerah ini, sang rahib menghampiri dan mempersilakan mereka singgah ke tempat tinggalnya sebagai tamu kehormatan. Mereka dijamu oleh Bahira. Sebelum itu padahal rahib tersebut tidak pernah keluar. Meskipun begitu, ia bisa mengetahui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari sifat-sifat beliau. Sambil memegang tangan beliau, sang rahib berkata, “Orang ini adalah pemimpin semesta alam. Anak ini akan diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Abu Thalib bertanya, “Dari mana engkau tahu hal itu?” Rahib Bahira menjawab, “Sebenarnya sejak kalian tiba di Aqabah, semua bebatuan dan pepohonan tunduk bersujud. Mereka hanya bersujud kepada seorang nabi. Aku bisa mengetahui dari stempel nubuwwah yang berada di bagian bawah tulang rawan bahunya yang menyerupai buah apel. Kami juga bisa mendapatkan tanda itu di dalam kitab kami.” (HR. At-Tirmidzi dari Abu Musa Al-Asy‘ari).
Dalam riwayat lain, Bahira bertanya kepada Abu Thalib mengenai hubungannya dengan Nabi Muhamamd, “Apa status anak ini di sisimu?” Abu Thalib menjawab, “Ia adalah anakku.” Abu Thalib memanggil Nabi anak karena kecintaannya yang sangat dalam. Rupanya Bahira mengetahui bahwa Abu Thalib bukanlah ayah sebenarnya bagi Nabi Muhammad. Bahira berkata, “Ia bukan anakmu. Tidak sepatutnya ayah anak ini masih hidup.” Abu Thalib akhirnya berkata, “Ia adalah anak saudaraku.” Bahira bertanya, “Apa yang telah dilakukan oleh ayahnya?” Abu Thalib menjawab, “Ia meninggal ketika anak ini masih berada di kandungan ibunya.” Bahira berkata, “Anda benar. Bawalah anak ini pulang ke negerinya. Jagalah ia dari kejahatan orang-orang Yahudi. Jika melihatnya di sini, pastilah mereka akan menjahilinya. Sesungguhnya anak saudaramu ini akan memegang urusan yang besar.” Kemudian segera membawa Nabi Muhamamd kembali ke Makkah. (Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi, Fiqhus Sirah, hlm. 34 diringkas dari Sirah Ibnu Hisyam).
Diriwayatkan, perniagaan Abu Thalib di negeri Syam waktu itu tidak begitu banyak mendapat keuntungan karena terburu-burunya menjual dagangannya dan selalu ingat akan pesan pendeta Bahira tadi. Sekalipun demikian, Abu Thalib ikhlas dan tidak menyesal asal dalam perjalanannya selamat dari malapetaka yang bisa membahayakan diri keponakannya itu. Akhirnya, ia dapat kembali pulang ke Makkah bersama Nabi Muhammad dengan selamat.
Pelajaran Penting
Ada beberapa pelajaran penting dari kisah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang ikut serta dalam kafilah dagang Abu Thalib ke negeri Syam dan pertemuannya dengan pendeta Bahira:
Pertama, orang-orang yang jujur dari kalangan Ahli Kitab mengetahui bahwa Muhammad adalah seorang rasul yang diutus kepada umat manusia. Mereka mengenali itu berdasarkan tanda-tanda dan sifat-sifat yang terdapat dalam kitab mereka.
Kedua, sujudnya bebatuan dan pepohonan kepada Nabi Muhammad, naungan awan kepadanya, serta merunduknya rindangan pepohonan untuk beliau merupakan irhashdari Allah. Irhashadalah peristiwa luar biasa yang dialami seseorang sebelum ia diangkat sebagai nabi dan rasul.
Ketiga, Nabi Muhammad mengambil manfaat dari bepergian beliau dengan pamannya, terutama dengan para pembesar Quraisy. Beliau melihat eksperimen orang lain dan pengalaman mereka serta mengambil manfaat dari ide-ide mereka. Alasannya adalah karena mereka merupakan orang-orang yang memiliki banyak pengalaman, pengetahuan, dan eksperimen yang belum dilalui oleh Nabi pada usia beliau saat itu.
Keempat, sudah menjadi watak kaum Yahudi bahwa mereka senantiasa menentang nabi dan rasul. Allah telah mengutus banyak nabi dan rasul kepada mereka, namun mereka malah membunuhnya. Al-Qur’an mengabadikan karakter mereka dalam surat Al-Baqarah: 61. Kiranya karena watak jahat mereka, Bahira memperingatkan Abu Thalib agar segera kembali ke Makkah. Wallahu a‘lam.