Ibadah Qurban dalam Makna Pengorbanan dan Keikhlasan

YahyaKhutbah Jumat17 hours ago24 Views

Oleh: Bima Setya Dharma

Khutbah Pertama

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه, اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

فَيَا عِبَادَ الله اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَاللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقٌوْنَ, فقد قال الله تعالى في القرآن الكريم:

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

أَمَّا بَعْدُ

Jamaah Jumat Rahimakumullah.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah membimbing kita dari kegelapan menuju cahaya iman. Dialah yang mengajarkan kita melalui pena sejarah tentang makna kesetiaan dan pengorbanan. Shalawat dan salam, semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang mengajarkan kita bahwa kemuliaan bukan terletak pada harta, melainkan pada ketaatan dan ilmu.

Khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita meningkatkan taqwa. Sebab, dengan taqwa dan ilmu, kita dapat memahami hakekat pengorbanan yang sesungguhnya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Ketika berbicara tentang qurban, banyak orang mengira bahwa qurban hanyalah menyembelih kambing atau sapi. Padahal, sesungguhnya qurban adalah madrasah keikhlasan. Qurban adalah pendidikan jiwa agar manusia belajar, bahwa cinta kepada Allah harus lebih besar daripada cinta kepada harta, kenyamanan, bahkan kepada sesuatu yang paling ia sayangi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ

“Maka, laksanakanlah sholat karena Tuhanmu dan berqurbanlah!” (QS. Al-Kautsar: 2).

Ayat ini mengingatkan kita, bahwa qurban bukanlah tradisi ajang pamer siapa yang paling kaya. Namun, Qurban adalah ibadah yang agung, sebuah jalan pengabdian untuk mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Jamaah yang Dirahmati Allah.

Mari kita merenungkan sejenak! Mengapa seringkali kita begitu ringan mengeluarkan uang untuk hiburan, namun terasa berat untuk bersedekah? Mengapa begitu mudah membeli keinginan pribadi, tapi terasa sulit untuk berqurban? Jadi, masalah kita bukanlah kekurangan harta, melainkan keterikatan hati yang terlalu kuat pada dunia.

Dengan adanya ibadah qurban, hal itu dapat memutus belenggu tersebut. Pisau qurban yang tajam, sejatinya tak hanya diarahkan ke leher hewan sembelihan. Tetapi, harus diarahkan untuk menyembelih sifat buruk dalam diri kita; sifat bakhil atau kikir, cinta dunia yang berlebihan, ego yang tinggi, serta kesombongan yang seringkali menyelimuti hati.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Mari kita meneladani Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam. Bayangkan, di saat beliau sangat mencintai putranya, Ismail, Allah justru mengujinya dengan perintah yang sangat berat. Al-Qur’an mengabadikan momen puncak ketaatan itu:

فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ

“Ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan (untuk melaksanakan perintah Allah).” (QS. Ash-Shoffat: 103).

Perhatikan kata “Aslama,” yang berarti keduanya berserah diri secara total. Sang ayah siap menyembelih, sang anak siap disembelih yang semata-mata karena perintah Tuhannya. Inilah puncak penghambaan sejati.

Seringkali kita hanya ingin taat selama perintah Allah itu nyaman bagi kita. Padahal, iman yang sesungguhnya akan teruji ketika perintah Allah tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu dan kecintaan kita pada dunia. Ibrahim dan Ismail telah mengajarkan: Jika Allah yang meminta, maka tidak ada lagi alasan untuk menunda.

Jamaah yang Dirahmati Allah.

Sadarilah, bahwa setiap kita memiliki “Ismail” dalam hidup ini. Yakni sesuatu yang kita sayangi, kita jaga, dan terkadang kita banggakan secara berlebihan. Ada yang “Ismail”-nya adalah harta bendanya. Ada yang “Ismail”-nya adalah pangkat dan jabatannya. Bahkan, ada yang “Ismail”-nya adalah gengsi serta popularitasnya. Apa pun yang kita cintai hingga membuat kita berpaling atau jauh dari Allah, maka di situlah letak ujian qurban kita yang sesungguhnya.

Melalui ibadah qurban kita diajarkan sebuah prinsip besar, “Lebih mulia kehilangan dunia demi mendapatkan ridho Allah, daripada kehilangan ridho Allah hanya demi mengejar dunia.”

Ma‘asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Ketahuilah, Allah sama sekali tidak membutuhkan daging maupun darah hewan yang kita sembelih. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Daging-daging Unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37).

Para ulama menjelaskan, bahwa ayat ini adalah teguran agar kita tidak terjebak pada ritual lahiriah semata. Allah tidak melihat seberapa besar hewan kurban kita, atau seberapa mahal harganya, melainkan Allah melihat taqwa, kejujuran hati, dan rasa takut kita kepada-Nya.

Yang Allah nilai adalah apa yang ada di dalam dada kita. Apakah kita berqurban dengan tulus ikhlas? Ataukah terselip rasa riya’ dan keinginan untuk dipuji manusia? Sungguh, keridhoan Allah hanya bisa diraih oleh hati yang suci, bukan oleh pamer harta di hadapan sesama.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Janganlah kita memandang remeh ketulusan hati. Sebab, bisa jadi seekor kambing kecil jauh lebih mulia di sisi Allah daripada seekor sapi yang besar, jika kambing itu diqurbankan dari hasil keringat yang halal dan hati yang benar-benar ikhlas. Sebaliknya, amal yang tampak besar dan hebat secara lahiriah, bisa menjadi kosong tanpa pahala di hadapan Allah, jika di dalamnya dipenuhi oleh penyakit riya’, pamer, dan kebanggaan diri.

Semoga Allah menerima setiap tetesan darah qurban kita sebagai bukti cinta yang tulus dan pembersih jiwa dari segala belenggu dunia. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ رَسُولِ ٱللَّهِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ

أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى ٱللَّهِ، فَقَدْ قَالَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْكَرِيمِ

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

أَمَّا بَعْدُ

Jamaah yang Dimuliakan Allah.

Ibadah qurban adalah bukti bahwa Islam bukanlah agama yang individualis. Saat daging qurban dibagikan, kebahagiaan itu masuk ke rumah-rumah saudara kita yang fakir, yang mungkin jarang menikmati makanan layak. Di sinilah Islam membangun umat yang saling merasakan penderitaan satu sama lain.

Maka, mari kita jadikan momentum Idul Adha ini untuk menyembelih kesombongan, iri hati, cinta dunia, dan sifat kikir dalam diri kita. Sungguh malang jika hewan qurbannya telah disembelih, namun ego dan hawa nafsu kita tetap hidup subur.

Semoga Allah menerima setiap tetesan darah qurban kita sebagai bukti cinta yang tulus dan pembersih jiwa dari segala belenggu dunia. Marilah kita tutup khutbah ini dengan menundukkan kepala, memohon ampun dan berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَالْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِوَالِدِينَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ, وسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ولَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ،

Leave a reply

Previous Post

Next Post

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...