Amal Shalih sebagai Penawar Futur

YahyaNasehat KehidupanYesterday15 Views

Oleh: Bima Setya Dharma

Iman seorang hamba tidak selalu berada pada satu keadaan. Terkadang ia naik, terasa semangat dalam beribadah, merasa benar-benar diawasi oleh Allah sehingga hati takut untuk berbuat maksiat. Namun, terkadang pula iman itu turun, semangat ibadah melemah, hati terasa jauh, dan muncul rasa malas.

Fenomena ini sering disebut dengan futur. Futur dipahami sebagai keadaan ketika seseorang kehilangan ruh ibadah, tidak bergairah, suka menunda, dan tidak merasakan nikmat dalam beribadah. Hati tidak lagi hadir bersama Allah, sehingga amal yang dilakukan terasa berat. Tubuh masih bergerak, tetapi jiwa terasa lelah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengingatkan, bahwa hati manusia memang berbolak-balik. Dalam sebuah doa beliau bersabda:

يَا مُقلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

“Ya Allah Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi).

Iman seorang hamba memang tidak selalu tetap, terkadang naik dengan semangat ibadah, terkadang turun dengan rasa futur. Dalam keadaan futur, hati terasa berat, amal kehilangan ruh, dan dzikir menjadi kering.

Namun, Al-Qur’an menegaskan, bahwa hidupnya iman terletak pada hidupnya hati dengan dzikir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2).

Ayat ini menjelaskan, bahwa iman bukan diukur dari banyaknya gerakan tubuh atau banyaknya amal, tetapi dari hati yang hidup dengan mengingat Allah. Saat hati bergetar karena berdzikir mengingat Allah, maka iman akan bertambah, ibadah terasa ringan, dan kembali punya ruh. Inilah yang membedakan antara ibadah yang sekadar rutinitas dengan ibadah yang benar-benar hidup.

Saat futur datang, amal terasa menurun. Bukan karena ibadah itu sendiri berat, tetapi karena cahaya yang menggerakkan hati mulai melemah. Ketika hati tertutup, amal yang seharusnya menjadi sumber ketenangan justru terasa sebagai beban. Inilah sebab orang yang futur merasakan ibadah kosong dan kering, tubuh bergerak tetapi jiwa tidak ikut hadir.

Allah ‘Azza wa Jalla menggambarkan keadaan hati yang tertutup dalam firman-Nya:

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14).

Ayat ini menjelaskan, bahwa setiap maksiat meninggalkan titik hitam di hati. Jika seorang hamba kembali kepada Allah dengan taubat dan istighfar, titik itu akan terhapus. Tetapi jika ia terus bermaksiat, titik-titik itu akan bertambah hingga menutupi seluruh hati, menjadikannya gelap dan keras.

Inilah yang membuat amal terasa berat saat futur. Bukan karena amal itu sulit, melainkan karena hati yang tertutup tidak lagi merasakan cahaya iman. Ketika hati gelap, ibadah kehilangan ruhnya, dan seorang hamba merasa kering dalam menjalankan amal.

Amal shalih yang dijalankan dengan niat tulus dan ikhlas akan menjadi jalan untuk menghidupkan kembali hati yang tertutup oleh futur. Ketika seorang hamba memaksa dirinya untuk tetap beramal, meski terasa berat, sesungguhnya ia sedang mengetuk pintu rahmat Allah. Dari ketukan itu, cahaya iman perlahan masuk kembali, menghapus titik-titik hitam yang menutupi hati, hingga muncul rasa ringan dan rindu untuk terus beribadah.

Karena sesungguhnya, amal bukanlah sekadar rutinitas, tetapi jalan untuk membersihkan hati. Amal kecil yang dilakukan secara terus-menerus, seperti dzikir, taubat, atau shalat sunnah, bisa menyalakan kembali iman. Sebaliknya, dosa yang dibiarkan akan membuat hati semakin gelap dan futur semakin kuat. Karena itu, jangan menunggu semangat datang, tapi mulai dengan amal sederhana, menjaga hati dari dosa, dan memberi ruang bagi jiwa untuk kembali merasakan dekatnya dengan Allah.

Karena itu, amal yang dijalankan dengan ikhlas dan khusyu’ akan menjadi benteng bagi hati. Allah telah menegaskan dalam firman-Nya:

 إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ

 “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45).

Artinya, shalat yang dilakukan secara tulus mampu mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. Shalat bukan sekadar gerakan tubuh, tetapi munajat kepada Allah yang menghidupkan hati. Jika ada orang yang shalat namun masih jatuh pada maksiat, maka bukan berarti shalat tidak berfungsi, melainkan karena ia belum menunaikannya dengan menghadirkan hati.

Shalat yang dilakukan tanpa ikhlas dan khusyu’ tidak akan memberi pengaruh besar pada jiwa. Tetapi dengan keberkahan menjaga shalat secara terus-menerus, suatu saat shalat itu akan benar-benar mencegahnya. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu berkata, “Sesungguhnya si fulan shalat di malam hari, tetapi ketika pagi ia mencuri.” Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا يَقُولُ

“Sesungguhnya apa yang dikatakannya akan menghalanginya.” (HR. Ahmad).

Dari apa yang dipaparkan, kita bisa menarik kesimpulan, bahwa futur adalah keadaan hati yang melemah sehingga amal terasa berat dan kering. Namun Allah telah memberikan jalan keluarnya melalui amal shalih yang dijalankan dengan ikhlas dan khusyu’. Shalat, dzikir, taubat, dan amal kecil yang konsisten akan membersihkan hati, menyalakan kembali cahaya iman, serta mencegah seorang hamba dari perbuatan keji dan mungkar.

Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk menjaga amal, baik dalam kondisi ringan maupun berat, dan semoga setiap ibadah yang kita lakukan menjadi cahaya yang menghapus kegelapan dosa, menguatkan iman, dan menumbuhkan rasa rindu untuk terus mendekat kepada-Nya.

Leave a reply

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...