Permulaan Wahyu

YahyaSiroh Nabawiyah1 week ago81 Views

Oleh: Dr. Muhammad Isa Anshory, M.P.I.

Turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallammerupakan peristiwa sentral dalam sejarah Islam. Dari peristiwa inilah risalah kenabian dimulai dan kehidupan manusia diarahkan kembali kepada tauhid. Oleh karena itu, pembahasan tentang permulaan wahyu tidak cukup dipahami sebagai kisah sejarah semata, tetapi harus ditempatkan dalam kerangka akidah yang benar tentang hakikat wahyu dan cara Allah menyampaikannya kepada para nabi.

Sebelum mengulas peristiwa kedatangan Malaikat Jibril di Gua Hira’ dan respon Nabi terhadap wahyu pertama, penting untuk memahami konsep wahyu dalam Islam. Pemahaman ini akan membantu melihat bahwa wahyu bukanlah pengalaman psikologis, bukan pula hasil perenungan manusia, melainkan bentuk komunikasi Ilahi yang terjaga dan memiliki karakter khusus sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Hakikat Wahyu dalam Islam

Dalam ajaran Islam, wahyu menempati posisi yang sangat fundamental. Wahyu bukanlah bisikan batin, intuisi spiritual, atau hasil perenungan mendalam seorang manusia suci. Wahyu adalah kalam Allah yang disampaikan kepada para nabi-Nya dengan cara yang Dia kehendaki, untuk menjadi petunjuk yang mengikat bagi manusia (Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, Jilid 1, hlm. 141-142). Oleh karena itu, wahyu bersifat objektif, pasti, dan terjaga dari kesalahan.

Al-Qur’an menegaskan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berbicara atas dasar hawa nafsu. Apa yang disampaikannya bersumber dari wahyu yang diturunkan kepadanya. Dengan demikian, sejak awal Islam menutup ruang anggapan bahwa risalah ini lahir dari kondisi psikologis, tekanan sosial, atau imajinasi personal Nabi. Wahyu adalah inisiatif Ilahi, bukan produk sejarah manusia.

Para ulama menjelaskan bahwa wahyu memiliki beberapa bentuk: Melalui mimpi yang benar, ilham yang diteguhkan, penyampaian oleh Malaikat Jibril, hingga firman Allah secara langsung tanpa perantara (Sami bin Ibrahim bin Bali, Al-Bidayah fi ‘Ulum Al-Qur’an, hlm. 17). Permulaan wahyu kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dimulai dengan bentuk yang paling lembut, sebelum kemudian mencapai puncaknya dalam pertemuan langsung dengan Malaikat Jibril.

Mimpi yang Benar sebagai Awal Wahyu

Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa permulaan wahyu yang diterima Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah mimpi yang benar. Setiap mimpi yang beliau lihat terwujud dengan jelas, sebagaimana terangnya cahaya pagi. Tidak ada kesamaran, tidak pula keraguan. Mimpi-mimpi ini bukan sekadar bunga tidur, melainkan bagian dari komunikasi Ilahi yang menenangkan dan menyiapkan jiwa Nabi.

Bersamaan dengan itu, Nabi semakin mencintai kesendirian. Hatinya dijauhkan dari hiruk-pikuk masyarakat Quraisy yang tenggelam dalam kemusyrikan dan kerusakan moral. Khalwat di Gua Hira’ menjadi rutinitas tahunan beliau, khususnya di bulan Ramadhan. Di tempat itulah Nabi bertafakkur, merenungi ciptaan Allah, dan membersihkan jiwa dari pengaruh jahiliah.

Mimpi yang benar dan kecenderungan kuat kepada khalwat ini menunjukkan bahwa wahyu tidak turun secara tiba-tiba tanpa persiapan. Allah mendidik dan meneguhkan Rasul-Nya secara bertahap, sesuai dengan hikmah-Nya. (Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, Jilid 1, hlm. 144).

Kedatangan Jibril di Gua Hira’

Pada suatu malam di bulan Ramadhan, ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada di Gua Hira’, datanglah Malaikat Jibril membawa wahyu pertama. Peristiwa ini menjadi titik balik sejarah umat manusia. Jibril berkata, “Iqra’! (Bacalah!).” Nabi menjawab dengan jujur, “Aku tidak bisa membaca.” Jibril kemudian memeluk beliau dengan kuat hingga terasa berat, lalu melepaskannya dan mengulangi perintah tersebut.

Setelah perintah itu disampaikan berulang kali, turunlah lima ayat pertama dari Surah Al-‘Alaq, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan pena, mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Wahyu pertama ini sangat sarat makna. Islam memulai risalahnya dengan perintah membaca, belajar, dan mengenal Tuhan sebagai Pencipta. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama ilmu, kesadaran, dan pembebasan manusia dari kebodohan serta kesesatan. (M. Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Shahih, hlm. 308-309).

Respon Nabi terhadap Wahyu

Pengalaman menerima wahyu secara langsung adalah pengalaman yang sangat berat. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merasakannya bukan sebagai peristiwa yang ringan atau biasa. Tubuh dan jiwanya terguncang, bukan karena ragu terhadap Allah, melainkan karena dahsyatnya perjumpaan dengan realitas wahyu.

Beliau segera turun dari Gua Hira’ dan pulang ke rumah dalam keadaan gemetar, seraya berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!” Respon ini menunjukkan sisi kemanusiaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kenabian bukanlah sesuatu yang dicari atau direkayasa, tetapi amanah besar yang datang dari langit dan harus dipikul dengan penuh kesadaran. (Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, Jilid 1, hlm. 145).

Sikap Khadijah dan Peneguhan Awal Risalah

Khadijah Radhiyallahu ‘anha memainkan peran yang sangat menentukan pada saat-saat awal kenabian. Ia tidak meragukan suaminya, tidak menganggapnya berhalusinasi, dan tidak menuduhnya terkena gangguan. Sebaliknya, ia menenangkan Nabi dengan keyakinan penuh bahwa Allah tidak akan menghinakan hamba yang berakhlak mulia.

Khadijah menyebutkan sifat-sifat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: Jujur, menyambung silaturahmi, menolong yang lemah, memuliakan tamu, dan membela orang yang tertindas. Dengan itu, ia menegaskan bahwa pengalaman yang dialami Nabi bukanlah keburukan, melainkan tanda kemuliaan. Sikap Khadijah menunjukkan betapa pentingnya dukungan moral dan ketenangan keluarga dalam mengawali perjuangan dakwah. (Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, Jilid 1, hlm. 145).

Hikmah dan Pelajaran

Permulaan wahyu mengajarkan banyak hal penting. Pertama, wahyu adalah murni petunjuk Allah, bukan hasil pencarian manusia. Kedua, Allah menyiapkan nabi-Nya secara bertahap, sesuai dengan hikmah dan kelembutan-Nya. Ketiga, Islam sejak awal dibangun di atas ilmu dan pengenalan kepada Tuhan. Keempat, akhlak mulia dan lingkungan keluarga yang kokoh menjadi fondasi penting bagi tegaknya risalah. (Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi, Sirah Nabawiyah, hlm. 57-62).

Penutup

Dari Gua Hira’ yang sunyi, cahaya wahyu pertama memancar ke seluruh penjuru dunia. Permulaan wahyu bukan sekadar turunnya lima ayat, tetapi awal dari perubahan besar dalam sejarah manusia. Di sanalah risalah Islam dimulai—membangunkan hati, menghidupkan akal, dan mengarahkan manusia kepada penghambaan yang sejati kepada Allah. Cahaya itu terus menyala, menuntun umat manusia dari generasi ke generasi, hingga akhir zaman. Wallahu a‘lam.

Leave a reply

Previous Post

Next Post

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...