Formula Kebangkitan Umat

YahyaKhutbah Jumat5 hours ago14 Views

Merenungi Surah Ali ‘Imran Ayat 102–104

Khutbah Pertama

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُه

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma‘asyiral Muslimin Rahimakumullah.   

Alhamdulillahirabbil’alamiin. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, atas segala limpahan nikmat yang diberikan kepada kita semua. Di antaranya berupa nikmat keislaman, keimanan, kesehatan, serta kesempatan, sehingga kita pun dapat mendatangi masjid ini untuk memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam rangka melaksanakan sholat Jumat.

Shalawat dan salam, semoga senantiasa tercurah kepada Nabiyullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, keluarganya, shahabatnya, serta umatnya yang taat hingga akhir zaman.

Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan jamaah sekalian, untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa. Dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. ‘Ali Imran: 102).

Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah.

Ada masa ketika seseorang merasa kuat, lalu satu peristiwa datang dan membikin runtuh. Ada masa ketika sebuah masyarakat tampak kokoh, tetapi kemudian kekalahan menerpa. Hal yang demikian ini, pernah menghampiri kaum muslimin setelah Perang Uhud.

Coba kita bayangkan suasana Madinah setelah pertempuran Uhud. Tujuh puluh shahabat gugur. Di antara mereka terdapat banyak kaum Anshar, penduduk Madinah yang bukan hanya menjadi saudara bagi kaum Muhajirin, tetapi juga menopang kehidupan mereka.

Lalu, dalam satu pertempuran, banyak keluarga kehilangan ayah, suami, saudara, dan pencari nafkah. Rumah-rumah yang biasanya menyambut kepulangan seseorang kini harus menerima kabar duka. Anak-anak kehilangan tempat bergantung. Para istri harus menghadapi hari-hari yang tak lagi sama.

Luka Uhud bukan hanya luka di medan perang. Ia juga meninggalkan kesedihan dan beban kehidupan di rumah-rumah Madinah.

Penderitaan itu belum berhenti. Perlengkapan perang milik para syuhada’, seperti pedang dan perisai juga dirampas. Pada masa itu, barang-barang tersebut merupakan harta berharga yang dikumpulkan dengan susah payah. Kehilangannya berarti hilangnya sebagian bekal hidup yang mungkin dibutuhkan keluarga untuk bertahan pada masa mendatang.

Dan di tengah suasana itu, kaum muslimin menyaksikan keadaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri. Beliau terluka. Bayangkan perasaan para shahabat ketika melihat manusia yang mereka cintai, pemimpin yang selama ini menguatkan hati mereka, pulang dari medan pertempuran dalam keadaan terluka.

Dalam keadaan seperti itu, pertanyaan besar tentu muncul, yakni bagaimana untuk bangkit? Bagaimana masyarakat yang baru saja kehilangan banyak orang, harta, dan rasa aman dapat kembali berdiri tegak?

Hadirin yang Dirahmati Allah.

Pertanyaan itu terasa dekat dengan kehidupan kita hari ini. Walaupun bentuk tantangannya memang berbeda. Yakni umat yang tertinggal, terpecah, dan kurang percaya diri menghadapi perubahan zaman. Namun, dalam menghadapi yang demikian ini, kita tidak bisa menghabiskan waktu untuk meratapi keadaan. Kita harus bisa mencari jalan untuk memperbaikinya.

Al-Qur’an tidak mengajak kita menutup mata terhadap luka. Al-Qur’an justru membimbing kita untuk memulai pemulihan dari hal yang paling mendasar. Sebelum membangun sesuatu yang besar, kita perlu memastikan fondasinya yang kuat.

Dalam Surah Ali ‘Imran Ayat 102 sampai 104, Allah membimbing umat melalui tiga langkah: Membenahi hubungan pribadi dengan Allah, memperkuat persaudaraan di atas petunjuk Allah, lalu membentuk kelompok yang bergerak mengerjakan kebaikan.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Langkah pertama terdapat dalam firman Allah pada Surah Ali ‘Imran ayat 102:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”

Ayat ini mengingatkan bahwa kebangkitan tidak cukup dimulai dengan perubahan keadaan di luar diri. Ia perlu dimulai dari hati manusia. Allah memerintahkan kita bertaqwa dengan sungguh-sungguh, kemudian menegaskan agar kita menjaga keislaman hingga akhir hayat.

Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah.

Langkah kedua dijelaskan dalam Surah Ali ‘Imran Ayat 103:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”

Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk berpegang teguh. Namun Allah juga menekankan kata “semuanya”. Artinya, petunjuk Allah bukan alasan untuk saling menjauh. Al-Qur’an seharusnya menjadi tempat kita kembali, sekaligus tali yang menguatkan hubungan di antara kita.

Ketika kita sama-sama berusaha berpegang pada petunjuk Allah, hal ini akan menumbuhkan kerendahan hati, kasih sayang, dan keinginan saling menolong. Tidak merasa kelompok sendiri paling benar, tidak mencela, mencurigai, serta mempermalukan orang lain.

Perbedaan pendapat tidak selalu berarti perpecahan. Dalam banyak persoalan, para ulama memang memiliki pandangan yang berbeda. Namun perbedaan dapat dibahas dengan ilmu, adab, dan sikap saling menghormati. Yang berbahaya adalah ketika perbedaan dijadikan alasan untuk memutus persaudaraan, merendahkan sesama muslim, atau menganggap orang yang tidak sepaham sebagai musuh.

Tragedi Uhud memberi pelajaran berharga. Sebagian pasukan pemanah meninggalkan posisi yang telah ditetapkan. Keputusan itu membawa akibat berat bagi kaum muslimin. Tentu, para shahabat yang lain merasakan kecewa dan sedih. Namun, kesalahan tersebut tidak menjadi alasan untuk menghapus persaudaraan. Allah mengingatkan kaum beriman tentang nikmat-Nya yang telah mempersatukan hati mereka sehingga menjadi bersaudara.

Jamaah yang Dirahmati Allah.

Setelah membenahi diri dan memperkuat persaudaraan, datanglah langkah ketiga. Allah berfirman dalam Surah Ali ‘Imran Ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ayat ini mengajarkan bahwa umat membutuhkan orang-orang yang bersedia mengambil tanggung jawab. Kita tidak harus menunggu semua orang berubah terlebih dahulu. Namun, kebaikan bisa dimulai oleh sekelompok kecil orang yang memiliki tujuan jelas, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan menjaga komitmen.

Kita dapat memulainya dari lingkungan terdekat. Ada keluarga yang membutuhkan pendampingan. Ada anak-anak yang perlu dibantu belajar membaca Al-Qur’an. Ada tetangga yang sedang kesulitan. Ada remaja yang membutuhkan teman bicara dan lingkungan yang baik. Ada pula persoalan kebersihan, pendidikan, dan kepedulian sosial yang menunggu dikerjakan.

Kita tidak harus menunggu memiliki jabatan besar atau sumber daya yang melimpah. Namun, mulailah bersama beberapa orang yang memiliki niat baik. Jika langkah kecil dijaga, Insyaa Allah akan tumbuh kepercayaan. Persaudaraan menjadi lebih kuat karena orang-orang merasakan manfaatnya.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ

 وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khubah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ الأَمِينِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ.

Hadirin Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah.

Mari kita bawa pulang tiga pelajaran dari Qur’an Surah Ali ‘Imran Ayat 102 sampai 104 tadi. Kita benahi diri kita dengan taqwa dan kepasrahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rawat persaudaraan dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan bersama. Lalu, ambil bagian dalam kelompok-kelompok kebaikan yang bekerja untuk masyarakat.

Kita mulai dari rumah, shahabat, dan lingkungan sekitar. Kita hidupkan pertemuan Al-Qur’an yang teratur. Kita jadikan pembicaraan tentang ayat-ayat Allah sebagai dorongan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Dengan begitu, ilmu menumbuhkan amal, amal menguatkan persaudaraan, dan persaudaraan membuka jalan bagi kebaikan yang lebih luas.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ. اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا، وَاجْعَلْنَا مُتَمَسِّكِينَ بِحَبْلِكَ الْمَتِينِ.

Ya Allah, satukanlah hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, dan tunjukilah kami jalan keselamatan. Keluarkanlah kami dari kegelapan menuju cahaya. Jangan Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang beriman. Teguhkanlah kami agar selalu berpegang pada tali agama-Mu.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

Leave a reply

Previous Post

Next Post

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...