Lailatul Qadr Kesempatan Emas yang Tak Boleh Disia-siakan

YahyaKhutbah Jumat9 hours ago32 Views

Oleh: Bima Setya Dharma

Khutbah Pertama

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُه

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

 أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

فَيَا عِبَادَ الله اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَاللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقٌوْنَ

,فقد قال الله تعالى في القرآن الكريم:

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فإنَّ أصدقَ الحديثِ كتابُ اللهِ وخيرَ الهديِ هديُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ وشرَّ الأمورِ مُحدثاتُها، فَإِنَّ كلَّ مُحدَثةٍ بدعةٌ، وكلَّ بدعةٍ ضلالةٌ، وكلَّ ضلالةٍ في النَّارِ

 أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Segala puji hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla, Tuhan semesta alam, yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman dan Islam, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang masih diberi kesempatan untuk bernafas di siang yang penuh berkah ini.

Shalawat dan salam, semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabiyullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, manusia pilihan yang menjadi teladan dalam seluruh aspek kehidupan. Baik dalam ibadah, dalam muamalah, dalam kesederhanaan hidup, bahkan dalam menjaga kesehatan tubuh dan kebersihan jiwa.

Tak lupa, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, agar senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya taqwa. Sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 102).

Jamaah Sekalian yang Dirahmati Allah.

Tanpa terasa, kita sudah berada di penghujung Ramadhan. Mari kita sejenak merenung: Apakah Ramadhan tahun ini hanya kita lalui sebagai rutinitas tahunan? Apakah ia hanya sekadar tradisi berpuasa pada siang hari dan Tarawih di malam hari?

Ketahuilah, hari-hari terakhir ini adalah momen penentuan. Di sinilah kualitas iman kita diuji. Ramadhan bukan sekadar budaya, melainkan sebuah sekolah bagi jiwa kita agar menjadi lebih bersih dan suci (tazkiyatun nafs).

Di sisa waktu yang sedikit ini, ada satu hadiah terbesar dari Allah, yaitu Lailatul Qadr. Ini adalah poros dari seluruh bulan suci ini. Malam yang kemuliaannya lebih baik dari seribu bulan. Jika pada hari-hari awal kita mungkin masih santai, maka di penghujung ini, mari kita kencangkan ikat pinggang. Jangan biarkan sisa waktu yang berharga ini hilang begitu saja tanpa perubahan pada hati kita.

Jamaah Sekalian yang Dimuliakan Allah.

Mari kita renungkan bersama rahasia besar di balik malam yang kita cari-cari ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dalam Al-Qur’an:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ

لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ

تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ

سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu? Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 1-5).

Jamaah Sekalian yang Dicintai Allah.

Seringkali kita hanya memandang Lailatul Qadr sebatas “Malam Kemuliaan” atau malam perburuan pahala yang berlipat ganda saja. Namun, jika kita menyelami lebih dalam dengan mata hati, kata Al-Qadr menyimpan rahasia yang sangat menyentuh perjalanan hidup kita sebagai hamba. Al-Qadr bukan sekadar tentang “Malam Kemuliaan”, melainkan juga bermakna penetapan takdir dan penentuan nilai seorang insan di hadapan Sang Pencipta. Inilah saat sakral yang mana Allah ‘Azza wa Jalla menetapkan kembali urusan hamba-hamba-Nya untuk masa yang akan datang. Inilah waktu bagi kita untuk bersimpuh, memohon agar catatan hidup kita ke depan dipenuhi dengan keberkahan dan bimbingan-Nya.

Oleh karena itu, mari kita sadari bahwa malam ini bukan sekadar hitung-hitungan pahala secara angka. Ini adalah momentum emas bagi kita untuk melakukan perbaikan jiwa kita. Lailatul Qadr adalah saat yang mana kita mengetuk pintu langit, memohon agar kualitas hubungan kita dengan Allah ditata ulang kembali. Jika sepanjang tahun ini hidup kita masih terasa gersang, hati kita masih kerap dikotori noda maksiat, dan ibadah kita masih sebatas menggugurkan kewajiban, maka malam ini adalah titik balik untuk menjemput nilai baru bagi jiwa kita. Seolah-olah Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang membentangkan kesempatan bagi kita untuk menuliskan kembali lembaran hidup yang lebih bersih, lebih mulia, dan lebih dekat dalam dekapan rahmat-Nya.

Jamaah Sekalian yang Dirahmati Allah.

Mari kita jujur pada diri sendiri. Kita hidup di tengah hiruk-pikuk yang menuntut kita untuk selalu sibuk dan produktif. Setiap hari kita dikejar oleh angka-angka, target yang harus dicapai, dan keberhasilan yang selalu diukur dengan materi atau jabatan. Kita terjebak dalam perlombaan dunia yang seolah tidak ada ujungnya. Namun, di tengah kesibukan itu, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bermuhasabah?

Kita begitu teliti menghitung keuntungan dalam bisnis. Namun, apakah kita pernah menghitung tumpukan dosa yang kita perbuat? Kita begitu rapi merancang tangga karier untuk masa depan di dunia, namun apakah kita sudah merancang jalan keselamatan untuk kehidupan di akhirat kelak?

Allah ‘Azza wa Jalla tahu betapa rapuhnya kita yang seringkali lalai karena urusan dunia. Maka, Dia memberikan satu hadiah agung berupa Lailatul Qadr, satu malam yang nilainya lebih dari seribu bulan atau lebih dari 83 tahun ibadah.

Oleh karena itu, mari kita renungkan, banyak di antara kita yang sanggup kerja lembur hingga larut malam, bahkan menguras tenaga dan pikiran demi menyelesaikan sebuah proyek pekerjaan. Kita rela mengorbankan waktu istirahat demi bonus dan apresiasi dari atasan. Namun, timbul satu pertanyaan besar bagi batin kita: Maukah kita “lembur” sejenak di penghujung Ramadhan ini demi keselamatan akhirat kita? Maukah kita begadang di malam hari, duduk di atas sajadah, demi mendapatkan ampunan dan kemuliaan yang jauh lebih besar dari sekadar harta duniawi?

Jamaah Sekalian yang Dirahmati Allah.

Dalam sebuah hadits yang menjadi kabar gembira bagi kita semua, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَن قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berdiri (beribadah) pada malam Lailatul Qadr dengan iman dan penuh pengharapan, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari).

Namun, mari kita renungkan lebih dalam: Ampunan ini tidaklah turun secara otomatis begitu saja. Rasulullah menekankan dua syarat utama, yaitu Iman dan Ihtisab. Iman berarti kita benar-benar meyakini janji Allah dan kemuliaan malam tersebut. Sedangkan Ihtisab adalah kesadaran penuh, ketulusan hati, dan hanya mengharap ridho Allah semata, bukan karena ikut-ikutan, bukan pula karena sekadar menjalankan tradisi.

Sungguh menyedihkan jika di saat pintu ampunan dibuka lebar-lebar, kita justru terjebak dalam kelalaian. Bayangkan, betapa ruginya kita jika malam Lailatul Qadr yang agung itu lewat begitu saja, sementara tangan kita justru sibuk scrolling layar HP, jari-jari kita asyik di media sosial, dan pikiran kita melayang pada urusan dunia yang tak ada habisnya.

Inilah fenomena yang banyak kita saksikan. Masjid-masjid penuh di awal Ramadhan namun perlahan kosong di penghujung bulan. Padahal justru di akhir inilah garis finis dan puncaknya berada. Sepinya masjid di akhir Ramadhan adalah tanda-tanda penyakit hati yang nyata, menurunnya semangat ibadah, jiwa mulai lalai, hingga terlalu kuatnya ikatan cinta kita pada dunia yang fana ini.

Jamaah Sekalian yang Dimuliakan Allah.

Setelah kita memahami betapa agungnya malam ini, timbul pertanyaan di hati kita, “Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menjemputnya?” Tidak perlu merasa berat. Kita mulai dengan langkah-langkah kecil yang bisa kita amalkan di sisa waktu yang berharga ini.

Pertama, jagalah Qiyamul Lail atau shalat malam kita. Meskipun hanya beberapa rakaat, kerjakanlah dengan penuh kekhusyu’an. Kedua, perbanyaklah istighfar, memohon ampun atas segala dosa yang telah lalu. Jangan lupakan doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha:

اللهمَّ إنك عفوٌّ تُحبُّ العفوَ فاعفُ عنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf (Pengampun), mencintai ampunan, maka maafkanlah aku.” (HR. At Tirmidzi).

Ketiga, di zaman yang penuh gangguan ini, mari kita kurangi distraksi digital. Letakkan sejenak telepon genggam kita, matikan notifikasi media sosial, dan berikan waktu khusus hanya untuk berdua dengan Allah. Jika mampu, laksanakanlah i’tikaf di masjid untuk mengencangkan ibadah kita.

Namun, yang paling utama untuk kita tanamkan bahwasanya Lailatul Qadr bukan sekadar soal banyaknya rakaat shalat atau panjangnya ayat yang dibaca. Yang Allah nilai adalah hadirnya hati. Satu rakaat yang dikerjakan dengan hati yang hancur karena dosa dan penuh harap pada rahmat Allah, jauh lebih mulia daripada seribu rakaat yang dilakukan dengan badan yang lelah namun pikiran melayang pada urusan dunia. Oleh karena itu, mari kita hadirkan hati kita, mari kita jemput takdir terbaik kita di sisa Ramadhan ini.

Semoga Allah Azza wa Jalla memuliakan kita dengan Lailatul Qadr, mengampuni segala dosa yang telah lalu, dan menetapkan takdir terbaik bagi dunia serta akhirat kita melalui hati yang hadir sepenuhnya di penghujung Ramadhan ini. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ رَسُولِ ٱللَّهِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ

أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى ٱللَّهِ، فَقَدْ قَالَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْكَرِيمِ

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

أَمَّا بَعْدُ

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah.

            Di khutbah yang kedua ini, marilah kita berdoa kepada Allah, semoga Allah senantiasa membimbing kita di detik-detik terakhir bulan yang mulia ini, membantu kita menjaga kesungguhan ibadah serta kekhusyu’an hati, dan menjadikan sisa waktu ini sebagai jalan bagi kita untuk meraih kemuliaan Lailatul Qadr serta ridho-Nya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ، وَاجْعَلْنَا فِيهَا مِنَ الْمَقْبُولِينَ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامَنَا فِيهِ صِيَامَ الصَّائِمِينَ، وَقِيَامَنَا فِيهِ قِيَامَ الْقَائِمِينَ، وَنَبِّهْنَا فِيهِ عَنْ نَوْمَةِ الْغَافِلِينَ

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا. اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا. اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا يَا كَرِيمُ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ, وسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ولَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ،

Leave a reply

Previous Post

Next Post

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...