Peringatan dan Panggilan untuk Taubat

YahyaTak Berkategori16 hours ago97 Views

Oleh: Bima Setya Dharma

Khutbah Pertama

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُه

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ قَمَرًا مُّنِيْرًا وَجَعَلَ بِهَا الْاَرْضَ فِى اللَّيْلِ مُنَوَّرًا،

 وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى الْبَدْرِ الْكَمَالِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ أُرْسِلَ لِلْعَالَمِيْنَ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ اَنْوَارًا،

أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ

 وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ

 أَمَّا بَعْدُ.

 فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

 وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ

Jama’ah Sholat Gerhana yang Dimuliakan Allah.

Segala puji hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla, Tuhan semesta alam, yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman dan Islam, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang masih diberi kesempatan untuk bernafas di petang yang penuh berkah ini.

Shalawat dan salam, semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabiyullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, manusia pilihan yang menjadi teladan dalam seluruh aspek kehidupan. Baik dalam ibadah, dalam muamalah, dalam kesederhanaan hidup, bahkan dalam menjaga kesehatan tubuh dan kebersihan jiwa.

Tak lupa, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, agar senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya taqwa. Sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran 103).

Jamaah Sekalian yang Dirahmati Allah.

Matahari dan bulan adalah dua tanda yang sangat besar di antara tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perputaran keduanya serta silih bergantinya siang dan malam menunjukkan betapa telitinya Sang Khaliq dan betapa sempurnanya ciptaan-Nya.

Maka, ketika terjadi gerhana pada keduanya, sesungguhnya peristiwa ini seharusnya membangkitkan rasa takut di dalam hati kita, takut kepada Sang Pencipta, takut atas kebesaran dan kekuaasan-Nya. Keadaan ini menuntut kita untuk segera kembali kepada-Nya, dan berlindung kepada Allah Ta’ala melalui sholat, doa, dan taubat.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إنَّ الشَّمْسَ والقَمَرَ لا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أحَدٍ ولَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا، وادْعُوا اللَّهَ.

“Sesungguhnya matahari dan bulan tidaklah mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena kehidupannya. Maka, apabila kalian melihat (gerhana), hendaklah kalian sholat dan berdoa kepada Allah.” (HR. Al-Bukhari).

Jamaah Sekalian yang Dirahmati Allah.

Pernyataan Rasulullah ini bukanlah tanpa sebab. Dalam sejarahnya, gerhana matahari pernah terjadi tepat di hari wafatnya putra beliau yang tercinta, Ibrahim. Saat itu, orang-orang di sekitar beliau menyangka bahwa alam semesta ikut berduka dan gerhana itu terjadi karena kematian putra Nabi. Namun, di tengah kesedihan yang mendalam, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan tegas meluruskan aqidah umatnya. Beliau mengajarkan, bahwa alam semesta tidak tunduk pada nasib manusia, melainkan sepenuhnya tunduk pada kehendak Allah ‘Azza wa Jalla.

Matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah yang sangat agung. Gerak dan silih bergantinya keduanya menunjukkan ketelitian Sang Pencipta dalam mengatur alam semesta. Maka, ketika gerhana terjadi, baik itu gerhana matahari (kusuf) maupun gerhana bulan (khusuf), sesungguhnya fenomena ini adalah panggilan bagi kita untuk merasa takut. Takut akan hilangnya cahaya dan takut akan bayangan hari kiamat.

Gerhana bukanlah mitos, bukan pertanda kematian tokoh besar, dan bukan sekadar fenomena sains yang kita tonton sebagai hiburan semata. Ia adalah tanda kekuasaan Allah yang seharusnya menggetarkan hati kita. Peristiwa ini mengharuskan kita untuk segera kembali kepada Allah, memohon perlindungan melalui sholat dan doa yang tulus.

Melalui gerhana, Allah membatalkan kepercayaan jahiliyah tentang pengaruh bintang dan planet terhadap takdir, sekaligus menunjukkan betapa mutlaknya kekuasaan Allah dalam mengatur segala makhluk-Nya. Maka, di saat-saat genting seperti ini, sudah seharusnya kita bersimpuh dan mengadu hanya kepada-Nya.

Jamaah Sekalian yang Dirahmati Allah.

Ketahuilah, bahwa setiap fenomena yang Allah tampakkan di langit maupun di bumi memiliki tujuan yang sangat mendalam bagi jiwa manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا نُرْسِلُ بِالْاٰيٰتِ اِلَّا تَخْوِيْفًا

“Kami tidak mengirimkan tanda-tanda itu kecuali untuk menakut-nakuti.”(QS. Al-Isra: 59).

Ayat yang mulia ini mengandung rahasia besar tentang mengapa Allah mendatangkan tanda-tanda kekuasaan-Nya, termasuk fenomena gerhana yang sedang kita saksikan. Para ulama menjelaskan, bahwa “tanda-tanda” (Al-Ayat) tersebut dikirimkan Allah dengan beberapa makna yang menggetarkan hati.

Bisa jadi ia adalah peringatan agar orang-orang yang kufur kepada Allah dan Rasul-Nya merasa takut akan peringatan-Nya. Bisa jadi ia merupakan tanda datangnya teguran atau adzab, agar manusia merasa takut untuk terus-menerus berkubang dalam kemaksiatan. Bisa juga, hal itu adalah pengingat tentang perubahan keadaan alam, agar kita merenungi perubahan hidup kita dan merasa takut akan akhir dari perjalanan kita di dunia ini.

Gerhana yang kita lihat hari ini adalah salah satu bentuk “tanda” itu. Ia hadir bukan untuk tontonan, melainkan sebagai peringatan agar kita segera bertaubat, memperbaiki diri, dan menyadari bahwa di balik keteraturan alam ini ada Dzat Maha Kuasa yang sewaktu-waktu bisa mengubah segalanya.

Jamaah Sekalian yang Dirahmati Allah.

Lalu bagaimanakah seharusnya sikap kita saat menyaksikan tanda kebesaran Allah ini? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan panduan yang sangat jelas dalam sebuah hadits:

فإذا رَأَيْتُمْ ذلكَ، فادْعُوا اللَّهَ، وكَبِّرُوا وصَلُّوا وتَصَدَّقُوا

“Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, sholatlah, dan bersedekahlah.” (HR. Al-Bukhari).

Perhatikanlah pesan baginda Nabi ini. Beliau mengajarkan kita bahwa saat gerhana tiba, gerhana bukanlah waktu untuk bersenang-senang, bukan mengabadikannya dengan foto, bukan pula saat yang tepat untuk sekadar memperbarui status di media sosial. Gerhana adalah waktu yang sangat sakral untuk kita melakukan muhasabah dan kembali kepada Sang Pencipta.

Ketika gerhana terjadi di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau tidak diam atau sekadar menonton fenomena tersebut. Beliau justru bergegas menuju masjid dengan perasaan penuh harap dan cemas kepada Allah. Beliau mendirikan sholat yang sangat panjang, di mana ruku’ dan sujudnya dilakukan dengan durasi yang lama, menunjukkan ketundukan yang total di hadapan Rabb-nya. Tak hanya itu, beliau juga memperbanyak doa dan bersedekah sebagai bentuk pendekatan diri serta permohonan agar dijauhkan dari marabahaya dan siksa-Nya.

Inilah teladan yang harus kita ikuti. Untuk itu, marilah kita jadikan momen gerhana ini sebagai saat di mana hati kita hadir sepenuhnya, lisan kita basah dengan takbir dan doa, serta tangan kita ringan untuk memberi sedekah, demi menjemput ampunan dan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla.

Jamaah Sekalian yang Dirahmati Allah.

Marilah kita jadikan momentum gerhana ini untuk memperbanyak istighfar dan memperbaiki kualitas sholat kita. Inilah saatnya bagi kita untuk menjaga diri dan keluarga kita dari jeratan maksiat, serta menjadikan fenomena langit ini sebagai titik balik menuju kehidupan yang lebih bertaqwa. Ingatlah seruan Allah dalam Al-Qur’an:

فَفِرُّوْٓا اِلَى اللّٰهِ

“Maka (katakanlah kepada mereka, wahai Nabi Muhammad), ‘Bersegeralah kembali (taat) kepada Allah’.” (QS. Adz-Dzariyat: 50).

Di ayat ini kita diperintahkan untuk bersegera lari menuju Allah, lari dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kekufuran menuju kesyukuran, dan dari keburukan menuju amal-amal kebaikan.

Imam Ar-Razi menjelaskan sebuah rahasia indah dalam ungkapan ini: Kata “berlarilah” atau “bersegeralah” menunjukkan adanya ancaman kehancuran dan adzab yang sangat cepat datangnya, sehingga keadaan tidak lagi memungkinkan bagi kita untuk menunda-nunda taubat. Maka, janganlah berlambat-lambat. Segeralah mengadu kepada Allah dan berlindunglah dalam ketaatan kepada-Nya, karena sesungguhnya tidak ada tempat lari yang aman dari ketetapan-Nya, kecuali hanya dengan kembali kepada-Nya.

 بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ

 وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

 فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ رَسُولِ ٱللَّهِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ

أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى ٱللَّهِ، فَقَدْ قَالَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْكَرِيمِ

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

أَمَّا بَعْدُ

Ma‘asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Pada saat gerhana seperti ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memperbanyak doa, istighfar, dan sedekah. Maka jangan kita sia-siakan waktu ini. Gerhana adalah tanda agar kita segera kembali kepada-Nya. Mari kita tundukkan hati kita. Mari kita angkat tangan kita. Mari kita memohon kepada Allah dengan penuh kerendahan.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِي الدِّينِ، وَعَافِيَةً فِي الْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ، وَبَرَكَةً فِي الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَاحَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ

اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِي سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ، وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ, وسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ولَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ،

 وٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُه

Leave a reply

Previous Post

Next Post

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...