Lima Nikmat yang Menentukan Nasib

YahyaNasehat Kehidupan14 hours ago16 Views

Oleh: Bima Setya Dharma

Hidup di dunia ini sebenarnya hanya sebentar, bukan tempat tinggal selamanya. Banyak orang merasa dirinya selalu muda, akan terus kuat, selalu sehat, memiliki waktu luang yang tidak akan habis, harta tidak akan berkurang, dan hidup seolah tidak ada akhirnya. Padahal semua itu hanyalah titipan dari Allah Subahanahu wa Ta’ala yang bisa hilang kapan saja. Karena itu, Islam mengingatkan kita supaya tidak lalai, tapi menggunakan setiap nikmat sebagai bekal untuk akhirat.

Sejak awal Islam sudah mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh kesenangan dunia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menasehati setiap muslim supaya menggunakan nikmat yang ada sebelum Allah ‘Azza wa Jalla mengambilnya kembali.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قبلَ خَمْسٍ: شَبابَكَ قبلَ هَرَمِكَ، وصِحَّتَكَ قبلَ سَقَمِكَ، وغِناكَ قبلَ فَقْرِكَ، وفَرَاغَكَ قبلَ شُغْلِكَ، وحَياتَكَ قبلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim).

Lima perkara yang disebutkan adalah pedoman agar kita tidak lalai, melainkan menjadikan setiap kesempatan sebagai ladang amal. Oleh karena itu, mari kita perhatikan satu per satu nikmat yang disebutkan dalam hadits ini, agar kita bisa mengambil pelajaran dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama: Menjaga masa muda sebelum datang masa tua.

Masa muda adalah masa puncak kekuatan jasmani dan kejernihan akal, saat tubuh masih segar dan pikiran belum melemah. Dalam Islam, kekuatan itu bukan untuk berfoya-foya, tetapi untuk beribadah kepada Allah dan memakmurkan bumi dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  

 اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةًۗ

“Allah adalah Dzat yang menciptakanmu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan(mu) kuat setelah keadaan lemah. Lalu, Dia menjadikan(mu) lemah (kembali) setelah keadaan kuat dan beruban.”  (QS. Ar-Rum: 54).

Ayat ini mengingatkan, bahwa masa muda adalah modal utama manusia. Manusia diciptakan dalam keadaan fisik yang lemah ketika dilahirkan, kemudian menjadi semakin kuat ketika muda dan dewasa, dan seiring berjalannya waktu akan kembali menjadi lemah di masa tuanya. Maka, jika masa muda disia-siakan untuk hal yang tidak bermanfaat, tidak akan ada pengganti ketika usia sudah menua. Karena itu, seorang muslim harus mengisi masa mudanya dengan amal shaleh, ilmu, dan ketaatan, agar tidak menyesal ketika kekuatan sudah hilang.

Kedua: Memanfaatkan sehat sebelum sakit.

Kesehatan adalah salah satu nikmat besar yang sering tidak disadari nilainya kecuali setelah hilang. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan dalam sabdanya:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya; kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberi peringatan bahwa kesehatan adalah modal utama untuk beribadah dan beramal shaleh. Banyak orang yang tidak menghargai sehatnya, sehingga lalai dan hanya menyadari nilainya ketika sakit datang. Artinya, hanya mereka yang kehilangan kesehatan yang benar-benar merasakan betapa berharganya nikmat ini.

Para ulama menjelaskan, bahwa sehatnya badan dan jiwa adalah kesempatan emas untuk taat, karena orang yang sakit sering terbatas dalam amalnya. Karena itu, seorang muslim harus memanfaatkan masa sehatnya untuk memperbanyak ibadah, menuntut ilmu, dan beramal shaleh, sebelum datang sakit yang membatasi gerak dan kesempatan.

Ketiga: Memanfaatkan masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu.

Harta dalam pandangan Islam bukanlah milik mutlak manusia, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, seorang muslim tidak boleh terpedaya dengan kepemilikan duniawi, sebab hakikatnya harta hanyalah titipan sementara. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  

اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاَنْفِقُوْا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُّسْتَخْلَفِيْنَ فِيْهِۗ

“Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya serta infaqkanlah (di jalan Allah) sebagian dari apa yang Dia (titipkan kepadamu dan) telah menjadikanmu berwenang dalam (penggunaan)nya.” (QS. Al-Hadid: 7).

Para mufassir menjelaskan, bahwa kata مُّسْتَخْلَفِيْنَ فِيْهِ bermakna harta itu hanyalah warisan yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain, dan pada hakikatnya tetap milik Allah Ta’ala.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, bahwa Ayat ini menunjukkan bahwa asal kepemilikan adalah milik Allah semata, sedangkan manusia hanyalah diberi izin untuk menggunakannya sesuai dengan ridho-Nya. Barangsiapa menafkahkan hartanya di jalan Allah, maka ia akan mendapatkan pahala besar.

Maka, jelaslah bahwa harta adalah amanah, bukan milik mutlak. Seorang muslim harus memanfaatkan masa kayanya untuk berinfaq, menolong sesama, dan menegakkan kebenaran. Jika harta hanya dipakai untuk kesenangan dunia, maka ia akan menjadi beban di akhirat. Namun, bila harta digunakan untuk amal shaleh, ia akan menjadi bekal yang menyelamatkan dari kefakiran hakiki di hadapan Allah.

Keempat: Memanfaatkan masa luangmu sebelum datang masa sibukmu.

Dalam Islam, waktu luang bukanlah hadiah untuk bersantai tanpa arah, melainkan ujian tentang bagaimana seorang hamba mengisinya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ

“Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain).” (QS. Al-Insyirah: 7).

Ayat ini mengajarkan, bahwa setiap kali seorang muslim selesai dari satu pekerjaan, ia hendaknya segera mengisi waktunya dengan amal lain yang mendekatkan diri kepada Allah, seperti shalat, membaca Al-Qur’an, atau ibadah lainnya. Waktu luang adalah kesempatan untuk memperbanyak amal shaleh, bukan untuk dihabiskan dengan kelalaian.

Para ulama menegaskan bahaya besar dari menyia-nyiakan waktu. Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata:

إِضَاعَةُ الْوَقْتِ أَشَدُّ مِنَ الْمَوْتِ

“Menyia-nyiakan waktu lebih buruk daripada kematian.”

Karena kematian hanya memutuskan hubungan dengan dunia, sedangkan menyia-nyiakan waktu berarti kehilangan kesempatan untuk beramal yang menjadi bekal akhirat. Maka, seorang muslim harus menjadikan waktu luang sebagai ladang dzikir, ilmu, dan amal shaleh, agar tidak termasuk orang yang merugi ketika kesibukan datang dan kesempatan sudah tertutup.

Kelima: Manfaatkan hidupmu sebelum datang kematianmu.

Kesadaran akan ajal adalah kunci untuk menyiapkan bekal akhirat, sebab tidak ada seorang pun yang bisa lari dari kematian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. ‘Ali Imran: 185).

Ayat ini menegaskan, bahwa hidup hanyalah sementara dan setiap amal akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena itu, kehidupan dunia harus dipandang sebagai ladang akhirat, tempat menanam amal shaleh sebelum pintu kesempatan tertutup.

Imam Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata:

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ فَإِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap hari yang berlalu, sebagian dari dirimu telah pergi.”

Ungkapan ini mengingatkan, bahwa setiap detik kehidupan adalah bagian dari diri kita yang tidak akan kembali. Maka, orang beriman harus menjadikan hidupnya sebagai kesempatan untuk beribadah, berbuat baik, dan menyiapkan bekal akhirat, agar ketika kematian datang, ia tidak termasuk orang yang menyesal.

Lima perkara ini bukan urutan kebetulan, tetapi peta kehidupan manusia dari quwwah menuju fana. Siapa yang sadar sebelum dicabut, ia beruntung. Siapa yang lalai hingga dicabut, ia menyesal.

Lima perkara ini adalah hal-hal penting yang harus selalu diperhatikan oleh setiap muslim. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan bahwa nikmat muda, sehat, kaya, luang, dan hidup bisa saja hilang tanpa kita sadari. Semua nikmat itu tidak bersifat tetap, melainkan titipan yang sewaktu-waktu bisa dicabut oleh Allah. Karena itu, orang yang mampu memanfaatkannya dengan amal shaleh sebelum hilang akan beruntung, sedangkan yang lalai dan menyia-nyiakannya hanya akan menyesal ketika kesempatan sudah tertutup. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang senantiasa menjaga dan mengisi nikmat tersebut dengan kebaikan.

Leave a reply

Previous Post

Next Post

Ikuti
Search
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...